Tatalaksana Chest Clapping untuk Fisioterapi Dada Pasien PPOK

Mukus atau secret diperlukan oleh tubuh untuk melembabkan dan menangkap mikroorganisme kecil seperti debu dan kotoran. Namun produksi berlebih dan penumpukan lama di dalam tubuh maka akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi seseorang.

Mukus dapat menjadi indikator penyakit apa yang kira-kira melanda seorang pasien. Warna mucus berwarna putih kekuningan, kuning atau hijau menandakan adanya sel darah putih berlebih dikarenakan adanya infeksi, dan menjadi suatu tanda penyakit pernapasan seperti pneumonia atau bronkitis. Sedangkan mucus berwarna merah menandakan adanya kondisi yang lebih serius dan memerlukan konsultasi lebih lanjut pada dokter spesialis.

Mukus berwarna abu-abu atau hitam biasanya dimiliki oleh perokok atau pekerja di lingkungan yang kotor dan cenderung berasap seperti tambang batu bara. Dari warna mucus tersebut, petugas laboraturium dapat lebih mudah melakukan tes untuk menentukan jenis bakteri apa atau sel apa yang dikandung oleh mucus tersebut.

Pada gangguan pernafasan, seringkali pasien mengeluhkan adanya mucus yang sulit untuk dikeluarkan sehingga menimbulkan rasa menjanggal. Peningkatan jumlah mucus juga sering terjadi pada seseorang yang memiliki riwayat alergi. Di balik dilema tersebut, berbagai macam cara dilakukan masyarakat untuk mengeluarkan mucus.

Dari berkumur dengan air garam, meminum obat-obatan pengencer dahak, obat anti histamin bagi yang memiliki riwayat alergi, ramuan jamu tradisional, hingga minuman racikan jahe dan lemon bagi yang lebih menyukai obat-obatan tradisional.

Pada beberapa orang, tidak sedikit yang sulit mengeluarkan mucus yang ada. Dibalik pengobatan secara farmakologis dan alternatif lain yang tadi disebutkan, ada teknik yang cukup efektif untuk merangsang keluarnya mucus.

Teknik ini pun tidak membutuhkan biaya khusus karena hampir semua orang memiliki alat untuk mempraktekkan tatalaksana metode tersebut. Ya, cukup menggunakan telapak tangan dan dapat dilakukan dengan mudah, yaitu dengan menggunakan teknik bernama “Chest Clapping”.

TEKNIK FISIOTERAPI DADA CHEST CLAPPING UNTUK MENGELUARKAN MUKUS PASIEN PPOK

Chest clapping adalah salah satu cara yang digunakan untuk memperbaiki fungsi pernafasan pada pasien yang mengalami gangguan pernafasan, seperti sesak yang diderita pada pasien asma.

Tujuan dari chest clapping sendiri yaitu untuk melepaskan mukus dari dinding bronkus ke saluran bronkus utama sehingga mucus lebih mudah untuk keluar dan siap untuk dibatukkan oleh pasien. Tindakan ini dapat menjadi alternatif bagi pasien yang mengalami retensi sputum dan belum mampu membatukkan secara aktif atau mandiri.

Sebelum melakukan chest clapping, tentukan terlebih dahulu area mana yang sekiranya membutuhkan adanya pengeluaran mucus, missal pada area dada sebelah kiri. Setelah kita menemukan area tersebut maka posisi pasien harus berdekatan dengan orang yang akan melakukan clapping, misal posisi yang melakukan clapping berhadapan dengan pasien dan mendekati daerah dada sebelah kiri tersebut.

Chest-Clapping

Selain posisi tubuh, posisi tangan kita juga perlu diperhatikan. Telapak tangan kita diperlukan dengan membentuk posisi seperti mangkuk atau “cup” secara rapat antar jari-jari tangan. Setelah telapak tangan membentuk cup, petugas yang melakukan chest clapping menepuk dengan tenaga sedang (tidak terlalu pelan tidak juga terlalu keras) pada dada pasien yang membutuhkan pengeluaran retensi sputum pada area tersebut.

Gerakan yang ditimbulkan saat melakukan tindakan bukan merupakan gerakan seluruh tangan tapi cukup dengan gerakan pergelangan tangan, sehingga dari daerah pundak sampai ujung pergelangan tangan tidak menimbulkan gerakan apapun.

Chest clapping perlu dilakukan dengan ketukan dan ritme yang mantap. Setiap ketukan harus memiliki suara hampa. Apabila posisi tangan sudah benar, chest clapping tidak akan terlalu melelahkan untuk dilakukan. Posisi tangan yang ditangkupkan dengan benar pula seharusnya tidak menyakitkan atau menimbulkan rasa menyengat bagi pasien.

Perlu diperhatikan bahwa Chest clapping memiliki titik yang tidak boleh ditepuk di beberapa bagian tubuh, seperti : tulang belakang, tulang dada, perut, tulang rusuk atau punggung bawah (untuk mencegah cedera pada hati di sebelah kanan, limpa di sebelah kiri, dan ginjal di punggung bawah).

Saat melakukan chest clapping, sebaiknya pasien melakukan pernafasan dalam untuk memancing batuk. Tindakan ini harus dihentikan jika pasien tersebut mulai terlihat akan batuk.

Setelah dilakukan chest clapping, biasanya apa sih yang terjadi pada pasien dengan gangguan pernafasan?

Pada umumnya, mucus akan bergerak ke jalan napas yang lebih besar ketika pasien tersebut menarik napas dalam-dalam sehingga pasien yang telah ditindak akan secara spontan terangsang untuk melakukan batuk sehingga mukus yang menumpuk pada saluran pernafasan dapat encer dan keluar, sehingga pasien bisa merasa lebih lega.

Pada pasien yang tetap tidak mampu untuk batuk maka mukus bisa dikeluarkan dengan melakukan alat suction. Salah satu parameter keberhasilan chest clapping yaitu terlihat adanya perbaikan pada ekspansi dada, yang merupakan salah satu tanda retensi sputumnya sudah berkurang.

Baiknya tindakan ini dilakukan setelah pasien memakai nebulizer (alat untuk mengubah obat dalam bentuk cair menjadi uap atau semprotan halus yang dihirup melalui masker untuk memberikan obat bagi sistem pernapasan), setelah melakukan breathing rate training, dan pada saat lambung kosong.

Untuk durasi nya tidak ada persisnya berapa lama, patokannya menggunakan berapa kali tindakan yang dilakukan, yaitu biasa nya sekitar 8-10 kali dari chest clapping tersebut.

Walaupun tindakan chest clapping ini mudah dilakukan ,perlu diingat ada beberapa kontra indikasi atau pengecualian kepada beberapa pasien yang mengidap penyakit tertentu. Utamanya, jika pasien didapati adanya hemoptysis atau batuk darah, yang biasanya terjadi karena bronchitis, kemudian jika hemodinamiknya tidak stabil maka chest clapping harus dihentikan.

Selain itu, pasien dengan riwayat penyakit hipertensi berat (tekanan darah sistolik atau kontraksi mencapai ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik atau relaksasi mencapai ≥ 90 mmHg), edema cerebri (adanya penumpukan cairan pada otak sehingga terjadi pembesaran otak), aneurisma aorta (pembuluh darah aorta yang mengalami penggelembungan) juga tidak disarankan untuk dilakukannya chest clapping.

Tindakan gratis yang hanya membutuhkan tangan ini tidak bisa 100% murni diberikan untuk pengeluaran mukus. Dibutuhkan alternatif lain untuk mempercepat mukus yang lengket untuk menjadi encer dan dapat dikeluarkan dari tubuh.

Agar tindakan ini berjalan lebih efektif baiknya di barengi dengan nebulizer, breathing rate training (kontrol pernafasan) ditambah chest clapping, bisa pula ditambah obat-obatan seperti pengencer dahak sehingga mucus terangsang untuk keluar lebih mudah. Tidak ketinggalan dengan mengkonsumsi lebih banyak air putih terutama air hangat agar dahak yang menyangkut dapat encer.

Diluar kontra indikasi dari chest clapping, segera lakukan monitoring ketat jika orang yang telah diberikan tindakan chest clapping mulai menimbulkan suara mengi ketika bernafas (jika sebelumnya tidak ada), tidak bisa berhenti batuk, atau demam pada suhu 38 ° C atau lebih tinggi, adanya peningkatan lendir yang berwarna coklat, berdarah, atau berbau. (Tazkia)