TATALAKSANA CEDERA KEPALA DI IGD

Banyaknya kasus kecelakaan lalu lintas di Indonesia membuat tatalaksana cedera menjadi makanan sehari-hari di Indonesia. Trauma yang terjadi pada ekstremitas relatif mudah diatasi karena terjadi di tempat yang relatif terlihat dan kerusakan serta komplikasi dapat dideteksi dengan mudah.

Penulis: Rizki Nur Rachman Putra Gofur

Trauma lebih susah dinilai dan dievaluasi jika terjadi di tempat yang profundus seperti di thoraks, abdomen, dan kepala. Selain tempatnya yang profundus, berbagai organ yang terdapat pada ketiga tempat tersebut menyebabkan diagnosis menjadi susah-susah-gampang.

Kepala sebagai organ vital juga sering menjadi korban. Bagian tubuh yang cukup “rentan” ini sering terkena trauma terutama karena orang Indonesia jarang menggunakan helm. Menurut sebuah studi didapatkan 235.000 penduduk Amerika Serikat yang dirawat di rumah sakit karena traumatic brain injury (TBI).

Sedangkan 1.1 juta penduduk mendapatkan perawatan di unit gawat darurat karena TBI, dan 50.000 meninggal karena TBI. Data lain yang didapat dari New Zaeland mengatakan bahwa masyarakat yang telah melewati 25 tahun, 31,6% nya pernah mengalami 1 TBI.

Selain angka epidemiologi yang tinggi TBI juga meninggalkan angka kecacatan yang cukup tinggi, yaitu 43% masyarakat Amerika Serikat yang telah mengalami TBI akan memiliki kecacatan satu tahun setelah terjadi TBI. Hal ini menunjukkan pentingnya tatalaksana dan diagnosis yang tepat pada TBI.

Patofisiologi Traumatic Brain Injury

Pada cedera kepala atau dalam kasus ini sebagian besar mengenai otak dan disebut TBI ada dua mekanisme utama yang harus diperhatikan:

  • Primary brain injury : adanya trauma pada otak yang terjadi pada saat kejadian
  • Secondary brain injury : kerusakan pada otak yang muncul karena keadaan patologis yang disebakan oleh primary brain injury

Para ahli meyakini jika kedua istilah ini sekarang sukar dibedakan dan tidak perlu dikelompok-kelompokkan. Namun pemahaman akan kemungkinan trauma yang muncul setelah adanya trauama awal penting untuk diperhatikan.

Penyebab-penyenab trauma kepala yang dapat memberikan dampak pada otak adalah :

  • Trauma langsung
  • Kontusio cerebri
  • Edema cerebri
  • Pendarahan pada otak
  • Hidrosefalus

Diagnosis Traumatic Brain Injury

Saat pasien datang dengan trauma kepala yang harus dilakukan dokter umum adalah primary survey menggunakan rumus ABCDE. Rumus ini dijabarkan sebagai

  • A: Airway, jaga jalan napas tetap terbuka
  • B: Breathing, (pernapasan)
  • C: Circulation, periksa tekanan darah dan nadi, pasang infus dan siapkan cairan
  • D: Disability : Pada disability lakukan pemeriksaan neurologis dasar yang disebut AVPU (Alert, verbal stimuli response, pain stimuli response, unresponsive).
    -. E: Exposure pasien dicek kembali secara menyeluruh.

Pemeriksaan AVPU dilakukan dengan memeriksa kesadaran pasien, periksa respon pasien terhadap kata-kata verbal, periksa respon pasien terhadap rangsang nyeri dan melakukan rangsang nyeri di sternum. Setelah primary survey lakukan pemeriksaan neurologis dasar seperti derajat kesadaran, pemeriksaan lateralisasi, reaksi dan ukuran pupil.

GCS

Poin pertama yang harus diperhatikan saat diagnosis adalah derajat kesadaran yang secara obyektif diukur dengan Glasgow Coma Scale. Skor ini digunakan untuk menilai derajat cedera otak yang diderita pasien. Skor ini juga mengindikasikan keparahan cedera yang diderita jika didapatkan skor yang kurang dari 8.

Pemeriksaan fisik kedua yang harus diperhatikan adalah ukuran pupil dan reaksi pupil. Mengenai hal ini ada beberapa poin yang bisa diperhatikan:

  • Dilatasi pupil dapat terjadi karena kenaikan tekanan intracranial yang kemudian mengkompresi nervus kranialis tiga. Biasanya terjadi pada sisi kanan atau kiri tergantung kenaikan tekanan intracranial
  • Pada kasus kenaikan tekanan intracranial pupil awalnya akan merespon pada cahaya kemudian reflek cahaya akan terus turun seiring naiknya tekanan intracranial
  • Midriasis dapat terjadi karena trauma langsung pada mata

Tatalaksana Cedera Kepala (Traumatic Brain Injury) di IGD

Trauma Otak Minor

Pasien dengan trauma kepala apapun harus diobservasi minimal empat jam walaupun trauma pada kepala tampak minimal. Ada beberapa tanda khusus penting yang harus diperhatikan, jika pasien mengalami gejala-gejala ini pasien harus dirujuk untuk dilakukan CT Scan guna memastikan diagnosa.

Tanda-tanda yang perlu diobservasi adalah

  • Penurunan kesadaran lebih dari sepuluh menit
  • Ngantuk setelah trauma yang terus menerus
  • Defisit neurologis fokal
  • Fraktur pada cranium
  • Muntah dan mual yang menetap selama 4 jam setelah trauma

Jika didapatkan pasien dengan kriteria seperti di atas, lakukan head trunk up dengan menaikkan kepala pasien sebesar 20 derjat, pasang infus dan lakukan restriksi cairan 2 sampai 2,5 liter untuk orang dewasa. Jika keadaan pasien memburuk, segera rujuk ke fasilitas kesehatan dengan CT Scan.

Trauma Otak Mayor

Pasien dengan trauma otak mayor, dicirikan dengan memiliki tanda-tanda seperti atau lebih parah dari trauma otak minor harus segera dirujuk untuk dilakukan CT Scan dan diagnosis lebih lanjut oleh dokter spesialis saraf/dokter spesialis bedah saraf.

Namun ada beberapa poin yang bisa dilakukan oleh dokter umum sembari menunggu perujukan, di antaranya:

  1. Head trunk up, naikan kepala pasien lebih tinggi badan sebesar dua puluh derajat.
  2. Pasang infus
  3. Lakukan observasi ketat dengan pemeriksaan Glasgow comma scale selama beberapa saat sekali.
  4. Pastikan jalan napas terbuka dan berikan oksigenasi yang adekuat
  5. Ganti cairan yang hilang dengan cairan koloid dan bukan dengan cairan kristaloid. Hindari juga cairan yang mengandung dextrose. Cairan yang hilang dapat dihitung dari perkiraan kehilangan darah yang diakibatkan oleh trauma
  6. Hati-hati dalam pemberian cairan.Hidrasi yang berlebihan dapat menyebabkan edema otak lebih lanjut.
  7. Ketidakseimbangan elektrolit dapat muncul akibat adanya pemberian cairan yang berlebihan saat rehidrasi. Ketidakseimbangan eletkrolit yang sering muncul adalah hipoantermia.

Trauma pada Scalp

Jika tidak didapatkan tanda-tanda perburukan neurologis pada trauma otak, trauma kepala biasanya meninggalkan trauma pada scalp. Jika sudah dipastikan pasien tidak dalam keadaan gawat, tatalaksana trauma pada scalp dapat dilakukan. Poin-poin penting yang dapat diperhatikan adalah:

  1. Jika pasien datang berdarah-darah karena rupture arteri, jepit dulu arteri dengan klip atau tekan dengan kassa steril
  2. Perlu diperhatikan jika trauma pada scalp tidak menggambarkan trauma pada otak, trauma pada scalp dapat ringan namun memberikan dampak trauma pada otak yang berat
  3. Area di sekitar luka harus dicukur dan dibersihkan dengan larutan pembersih
  4. Penjahitan sebaiknya dilakukan pada dua lapisan. Penutupan dilakukan pada lapisan galea, kemudian dapat dilanjutkan dengan penjahitan kulit.
  5. Saat penjahit kulit harap diperhatikan keregangan jaringan sekitar. Jika penjahitan terlalu erat/dekat dapat menyebabkan tensi kulit meningkat dan terjadinya nekrosis.
  6. Secara garis besar trauma pada scalp dapat diahit dengan anestesi lokal biasa. Namun jika terdapat banyak jaringan yang hilang, flap mungkin dibutuhkan dan luka dapat ditutup dengan kasa steril seadanya untuk sementara.

Tatalaksana cedera otak membutuhkan ketepatan dan ketelitian. Begitu rumitnya patofisiologi yang berpengaruh, menyebabkan tatalaksana cedera otak susah-susah gampang. Dokter umum wajib untuk menguasai tatalaksana ini karena angka kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan yang melibatkan otak yang tinggi di Indonesia. Selain itu, tatalaksana awal yang baik dan tepat dapat memberikan prognosis baik serta mencegah kecacatan. (RPG)


Sponsored Content

Buku Dissection adalah Buku Update Klinis di Bidang Ilmu Bedah.

Cocok untuk kamu yang

  1. Dokter IGD yang sering dapat kasus bedah
  2. Dokter umum yang pengen melanjutkan PPDS Bedah
  3. Sedang internship

Buku-Dissection-Cover

Buku-Dissection-4

Buku-Dissection-1

Harga 156 ribu

Pesan sekarang di Yahya 085608083342 (WA)

Referensi

  1. Iskandar, (2017) ‘Diagnosis Dan Penanganan Cedera Kepala Di Daerah Rural’, (September), pp. 93–103.
  2. Carney, N. et al. (2016) ‘Guidelines for the Management of Severe Traumatic Brain Injury 4th Edition’, (September).
  3. Kaye, A. (2006). Essential neurosurgery. Malden, Mass: Blackwell.
  4. Marik, P. E., Varon, J. and Trask, T. (2002) ‘critical care review Management of Head Trauma *’. The American College of Chest Physicians, pp. 699–711. doi: 10.1378/chest.122.2.699.
  5. Orman, J. A. L. (2010) ‘The Epidemiology of Traumatic Brain Injury’, 25(2), pp. 72–80.