Tabel Sederhana yang Akan Bantu Kamu Menentukan Aksis Jantung Dalam 1 Menit

Aksis jantung adalah momok bagi dokter Puskesmas dan Dokter Jaga IGD. Aku pernah ajukan beberapa gambar EKG ke 50 orang dokter. Hanya 7 orang yang secara sempurna bisa menentukan "diagnosis" aksis jantungnya.

Padahal kalau kamu bisa menguasai skill ini, skill ini akan membantu kamu mengarahkan pada diagnosis

  1. Hipertrofi ventrikel (kanan dan kiri)
  2. Hipertrofi atrium (kanan dan kiri)
  3. Kelainan katup mitral
  4. Kelainan katup pulmonal
  5. Hipertensi pulmonal
  6. Mengenali komplikasi PPOK
  7. dsb

Tentu saja, untuk menegakkan diagnosis di atas tidak bisa menghilangkan pertimbangan gejala klinis yang mendasari. Tapi percaya deh, waktu yang akan kamu investasikan untuk belajar aksis jantung akan terbayar lunas dengan skill baru yang akan kamu kuasai.

Oke, langsung aja.

Cara konvensional untuk membaca aksis EKG dikerjakan dengan 3 metode

  1. Metode Grafik
  2. Metode Aproksimasi
  3. Metode Vektor

Buat kamu yang pernah mempelajari ketiga metode di atas, aku mau tanya berapa lama proses yang kamu butuhkan untuk menentukan aksis satu set hasil EKG?

5 menit? 10 menit? 15 menit?

Oke, mungkin kamu penasaran bagaimana 3 metode penentuan aksis di atas dilakukan.

Ini aku kutip penjelasan dari buku "Petunjuk Praktis Membaca EKG pada Anak".

Penentuan Aksis Jantung dengan Metode Grafik, Aproksimasi dan Vektor

Nb: Perhatian, jika kamu mulai pusing kamu boleh langsung lompat ke subbab selanjutnya

Pada metode grafik diperlukan dua buah lead ekstremitas, namun lebih mudah menggunakan lead I dan aVF karena kedua lead ini membentuk sudut saling tegak lurus seperti sumbu X dan sumbu Y pada grafik koordinat.

Penghitungan sumbu QRS dengan metode grafik memerlukan berberapa langkah. Langkah pertama adalah menghitung jumlah defleksi pada lead I. Jumlah defleksi dihitung dalam satuan kotak kecil sesuai vektornya dan kemudian dipetakan pada lead I. Selanjutnya, jumlah defleksi pada lead aVF dihitung, kemudian dipetakan pada lead aVF.

Kemudian, garis tegak lurus dibuat pada lead I dan aVF melalui kedua titik tersebut. Titik potong kedua garis tegak lurus tersebut kemudian dihubungkan dengan pusat lingkaran. Garis yang terakhir ini akan memotong lingkaran dan sumbu QRS dapat dilihat pada angka di busur lingkaran atau dihitung secara manual.

Cara menghitung sudut tersebut menggunakan rumus tan α = y/x, sehingga α dapat dihitung dengan menggunakan tabel logaritma atau kalkulator.

Berikut diberikan contoh cara penghitungan sumbu QRS.

Jika pada lead I, tinggi gelombang R 5,5 dan S 0,5 maka jumlah QRS (+5,5) + (-0,5) = +5,0. Sedangkan, pada lead aVF, R 10,5 dan S 1,5 maka jumlah QRS (+10,5) + (1,5) = +9,0. Kemudian dibuat titik +5 pada lead I dan titik +9,0 pada lead aVF dan dibentuk garis tegak lurus terhadap lead I dan aVF melalui titik tersebut. Titik perpotongan kedua garis tersebut kemudian dihubungkan dengan titik pusat.

Selanjutnya, besarnya sudut dihitung dengan tan α = y/x = 9/5 = 1,8; maka α = 60

Untuk metode aproksimasi, penghitungan sumbu QRS dapat dilakukan dengan beberapa tahap. Pada mulanya adalah menentukan kuadran dengan menggunakan lead I dan aVF. Kemudian, dicari lead yang ekuifasik, yaitu lead yang berdefleksi positif (gelombang R) dan berdefleksi negatif (gelombang S) yang sama.

Jika lead ini ada, berarti sumbu QRS-nya tegak lurus dengan lead tersebut. Jika tidak ada lead yang ekuifasik, dicari lead yang defleksinya paling besar, dapat positif (gelombang R) dan negatif (gelombang S). Aksis QRS terletak dekat dengan lead yang defleksinya paling besar tersebut.

Sebagai contoh, jika lead I positif dan lead aVF positif, berarti sumbu QRS berada di kuadran I (antara 0 dan 90 derajat).

Kemudian lead yang ekuifasik dicari. Jika ekuifasik di lead aVL; maka sumbu QRS ada pada lead yang tegak lurus dengan aVL, yaitu lead II. Jadi, sumbu QRS terletak pada lead II, yaitu 60 derajat.

Jika tidak ada yang ekuifasik, digunakan lead yang defleksinya paling besar (positif atau negatif). Jika defleksi paling besar di lead II, maka sumbu QRS sejajar dengan lead II yaitu 60° (sebenarnya hasilnya tidak tepat 60°, dapat lebih atau kurang sedikit).

Metode sektor dilakukan bila tidak ada yang ekuifasik sehingga sumbu QRS dapat dilaporkan dalam rentang nilai yang ada di dalam sektor. Pada metode ini sumbu QRS terletak di antara dua lead dengan rentang kelipatan 30, misalnya antara 0° dan +30°, antara +30° dan +60° dan seterusnya.

Pada metode sektor ini sumbu QRS dilaporkan dalam rentang. Namun, ketelitiannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan dua metode sebelumnya karena pada metode sektor menggunakan minimal tiga lead.

Penghitungan sumbu P dan T dilakukan dengan cara yang sama. Posisi jantung ditentukan oleh sumbu QRS. Sumbu QRS digunakan untuk menentukan posisi jantung apakah normal, berdeviasi ke kanan (right axis deviation-RAD) atau berdeviasi ke kiri (left axis deviation-LAD). Posisi jantung normal jika sumbu QRS terletak antara -30 sampai 120°. RAD jika sumbu QRS antara 120 sampai -120 dan LAD jika sumbu QRS antara -30° sampai -120°.

Sumbu P digunakan untuk menentukan jenis irama sinus atau bukan. Irama dikatakan sinus bila gelombang P di lead I dan aVF keduanya positif. Irama lainnya adalah high left atrial rhytm (HLAR), low left atrial rhytm (LLAR), low right atrial rhytm (LRAR).

Menentukan Aksis Jantung Dengan Metode Tabel Kurang Dari Satu Menit

Ini adalah ilmu yang diajarkan dokter Ragil kepadaku untuk menentukan aksis jantung kurang dari 1 menit!

Jangan bagikan artikel ini ke temanmu kalau kamu gak mau dia bisa menentukan aksis jantung secepat kamu.

Oke, jadi yang perlu dipahami adalah dalam praktek sehari-hari cuma diminta menyebutkan salah satu dari kondisi berikut ketika membaca EKG

  1. Aksis Normal
  2. Deviasi Aksis ke Kiri (LAD)
  3. Deviasi Aksis ke Kanan (RAD)
  4. Deviasi Aksis Ekstrim ke Kanan

Seperti sudah kamu duga, mostly pasien di praktek sehari-hari akan menunjukkan gambaran EKG seperti no 1. Beberapa akan bisa kamu dapatkan gambaran No 2 dan 3. Sangat sedikit sekali yang akan menunjukkan gambaran no 4.

Aku pernah belajar dari dr Ragil, dia kalau baca EKG paling lama 3 menit. Kalau baca aksis jantung cuma dilihat AvF dan Lead I doang, nggak lebih dari 30 detik. Terus pakai tabel ini

Selesai deh, nggak perlu gambar grafik dan kalkulator, kurang dari 1 menit kamu sudah bisa menentukan ini EKG aksis normal, RAD atau LAD.

Mau, lebih banyak tips praktis membaca EKG? di DVD Mahir Baca EKG ada banyak tips-tips praktis kayak gini.

Kalau kamu mau pesan tinggal WA aja Yahya (085608083342)

Semoga Bermanfaat^^