/ dokter

Struktur Biaya Obat dan Mitos Gratifikasi 40% untuk Dokter

Sejawat, semalam kami terkejut, marah, sedih, kecewa dan termenung membaca sebuah link yang banyak beredar di media sosial. Artikel berjudul "Eksklusif: Terkuak, 40 persen dari harga obat untuk menyuap dokter" ini secara terang-terangan "menyerang" marwah profesi dokter di depan khalayak umum. Dalam istilah tinju, saya merasa kita sedang di-uppercut!!!

Telaah Berbasis Bukti, Mitos Gratifikasi 40% untuk Dokter dari Pabrik Obat

Saat membaca artikel tersebut, saya bahkan tidak tahu. Bagaimana mereka (tempo.co) menghimpun data dan menganalisisnya sehingga "berani" menyimpulkan bahwa 40% harga obat adalah gratifikasi untuk dokter.

Bayangan yang ada di kepala saya, saat mereka berani menulis judul "bombastis" dan "irritatif" tersebut adalah mereka melakukan sebuah penelitian dengan menginvestigasi "sekian" produk obat dengan memilih obat yang akan diinvestigasi secara acak (random) dalam jumlah yang cukup mewakili seluruh obat yang beredar di pasar, lantas mereka mengghitung struktur biaya obat rata-rata sehingga dapat menyimpulkan bahwa 40% harga obat digunakan untuk memberikan gratifikasi kepada dokter.

Yang jelas riset semacam itu sangat mahal, dan saya tidak yakin tempo.co punya cukup dana untuk melakukannya. Namun, berita itu cukup menarik bagi saya untuk membeli majalah Tempo edisi terbaru. Sebuah strategi marketing yang cerdas nan "licik", dua kata yang sulit dibedakan di masa kini.

Struktur Biaya Obat Menurut Buku Teks Ekonomi Farmasi

Menarik bagi saya untuk menelaah ke literatur yang sudah established bertahun-tahun, benarkah 40% harga obat adalah gratifikasi untuk dokter?

Dalam ilmu ekonomi farmasi, kami belajar tentang cost structure atau struktur biaya. Setiap obat, dalam proses produksi hingga pemasaran, memiliki struktur biaya dengan proporsi yang relatif tetap. Perhitungan struktur biaya penting bagi produsen farmasi untuk melakukan investasi dalam research and development (RnD), menghitung biaya pemasaran, memperkirakan harga jual obat dan lain-lain.

Dalam buku Pharmaceutical Economics and Public Policy yang ditulis Ronald Vogel tahun 2007, disebutkan bahwa secara umum struktur biaya obat dapat digambarkan seperti tabel dibawah ini:

Apabila kita merujuk tabel di atas, jelas bahwa biaya untuk Marketing, general and administrative ("gratifikasi" kepada dokter diduga termasuk dalam biaya ini) perusahaan farmasi besar (Pfizer, Novartis, Boehringer Ingelhaim, etc) hanya menghabiskan tidak lebih dari 34,4% dari harga obat. Bahkan produsen obat generik hanya menghabiskan 21,4% dari harga obat untuk aktivitas ini.

Secara logika, tentu angka 34,4% dan 21,4% itu tidak semuanya digunakan untuk "gratifikasi" dokter. Ada biaya pemasaran lain misal mengirimkan sponsor kegiatan ilmiah kedokteran, media promosi lewat surat, hingga biaya menggaji medical representative untuk menyampaikan informasi obat terbaru. Dan biaya-biaya di atas jamak diketahui tidak murah. Jadi, angka 40% dari mana?

Etika Media Massa dan Mitos 40% Gratifikasi Dokter dari Pabrik Obat

Media massa adalah sumber informasi yang "seharusnya" terpercaya. Saat reportase dipublikasi oleh organisasi yang memiliki power sebesar media massa, ada sebuah tanggung jawab etis yang menyertai.

Media massa seharusnya bersikap independen untuk menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Akurasi data dari angka 40% harga obat digunakan sebagai gratifikasi dokter jelas dipertanyakan. Itu adalah proporsi yang sangat besar. Hampir separuh harga obat dinikmati oleh dokter.

Berbasis pada nilai pasar industri farmasi yang mencapai Rp. 69 Triliun, berarti dokter menikmati Rp 27 Triliun lebih dari industri obat. Sangat fantastis, namun juga sangat tidak logis. Yang pasti hati saya jadi miris.

Dokter adalah profesi yang sangat "empuk" dijadikan obyek hujatan. Jamak kita ketahui bahwa banyak profesi lain yang envy dengan kesuksesan finansial yang diraih banyak dokter. Satu berita miring tentang profesi dokter, sangat mungkin berpotensi menjadi hot issue di media massa yang sudah pasti mendatangkan lonjakan oplah cetak.

Namun, menyudutkan profesi dokter dengan data yang tidak akurat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah adalah sebuah kejahatan akademik. Selama belum dapat dibuktikan dengan metode yang sahih, angka 40% harga obat untuk gratifikasi dokter bagi saya hanya igauan wartawan yang belum pernah belajar ilmu statistik secara tuntas.

Namun, apapun kata mereka, I still Love Being a Doctor.

Pesan Kaos Dokter??? SMS/WA 081234008737 (Diskon 50% karena Dokter Post sedang Marah ke Tempo)