/ kardiologi

Skrining Penyakit Kardiovaskuler di Faskes Primer(2): Waspadai Gejala-Gejala yang Berhubungan dengan Penyakit Kardiovaskuler

DISCLAIMER!!!
Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya. Jika anda belum membaca artikel sebelumnya, sebaiknya anda baca terlebih dahulu untuk menemukan benang merah.


=

Kemarin kita telah membicarakan aspek penting dalam anamensis dalam skrining pasien dengan kecurigaan penyakit kardiovaskuler.

Selain nyeri dada, masaih ada beberapa keluhan penting yang muncul pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler yaitu sesak, edema/ascites, rasa lelah, palpitasi dan sinkop. Anamnesis yang cermat dan teliti akan sangat membantu mengarahkan diagnosis penyakit kardiovaskuler yang tepat.

Sesak Nafas

Sesak napas adalah kesulitan atau ketidaknyamanan saat bernafas. Penyebab sesak kronik antara lain gagal jantung, penyakit paru, efusi pleura, asma, ansietas dan obsitas. Sedangkan sesak akut dapat disebabkan oleh edema paru, pnemotoraks, emboli pulmonal, pneumonia dan obstruksi jalan nafas.

Kunci untuk menentukan etiologi sesak adalah identifikasi faktor pemberat (presipitasi) dan faktor yang meringankan sesak.

Dyspnea on effort (DOE) adalah sesak yang dipresipitasi oleh aktivitas fisik. Hal ini merupakan salah satu tanda dari gagal jantung meskipun penyakit paru dapat juga memberikan gejala ini.

Orthopnea adalah sesak yang terjadi pada posisi tidur datar dan membaik dengan posisi duduk. Jumlah bantal yang digunakan saat tidur dapat menjadi indikator adanya orthopnea. Pasien sering memerlukan bantal atau lebih untuk dapat mengurangi gejala sesak.

Gejala seperti ini dapat ditemui pada pasien gagal jantung kiri atau penyait katup mitral. Pada saat berbaring terlentang aliran balik vena sistemik ke jantung kanan meningkat, menyebabkan aliran darah ke paru meningkat yang menyebabkan sesak. Namun, pasien dengan penyakit paru obstruktif atau serangan asma juga tidak dapat tidur dengan posisi datar.

Paroxismal noctural dyspnea (PND) adalah sesak yang terjadi secara tiba-tiba selama tidur. Umumnya terjadi 2 hingga 4 jam setelah tidur dan disertai dengan diaforesis, batuk, kadang-kadang wheezing. Secara gradual akan berkurang (dalam 10-20 menit) setelah posisi duduk. PND merupakan tanda klasik dari edema paru interstisiel dan seringkali disebabkan oleh gagal jantung.

The New York Heart Association mengklasifikasikan kemampuan fungsional pasien dalam empat klas yaitu:

  1. NYHA kelas I : keluhan tidak timbul dengan aktivitas sehari-hari, melainkan saat aktivitas berat.
  2. NYHA kelas II : keluhan timbul saat aktivitas sehari-hari, terdapat sedikit pembatasan dalam akitvitas.
  3. NYHA kelas III : keluhan timbul aktivitas yang lebih ringan dari aktivitas sehari- hari.
  4. NYHA kelas IV : keluhan timbul saat istirahat dan aktivitas apapun.

Pada gagal jantung kelompok gejala yang menyertai DOE, orthopnea dan PND adalah batuk non-produktif, nocturia, edema dan ketidaknyamanan perut bagian atas karena adanya hepatosplenomegali.

Batuk pada edema paru umumnya disertai spuntum berwarna merah muda berbuih. Sedangkan pada bronkhitis, spuntum bersifat mukoid warna putih. Spuntum akibat pneumonia berwarna kuning kental.

Wheezing atau "mengi" dapat pula menyertai sesak akibat penyakit paru atau gagal jantung. Jika wheezing baru terjadi pada pasien usia lebih dari 40 tahun maka tanda penyakit jantung yang lain harus dieksplorasi (asma kardiale).

Edema dan Asites

Edema merupakan gejala yang umum dijumpai pada pasien dengan gagal jantung. Retensi cairan pada gagal jantung disebabkan oleh peningkatan tekanan vena serta aktivitas abnormal dari hormon yang merentensi garam. Retensi cairan dapat mencapai 2,3 hingga 4.5 kg sehingga peningkatan berat badan secara cepat dapat menjadi indikator respon terapi gagal jantung.

Meskipun edema akibat penyakit jantung dapat berkembang menjadi edema anasarka, namun jarang melibatkan area fasial dan ekstremitas atas. Umumnya edema bersifat bilateral simetris.

Edema karena penyakit jantung tetapi tidak disertai sesak nafas atau ortopnea mengesankan adanya lesi pada jantung kanan misalnya perikarditis konstriktif, stenosis trikuspid.

Penyebab lain dari edema misalnya insufisiensi renal, sirosis, hepatis, dengan hipoproteinemia, obesitas harus disingkirkan. Edema yang bersifat unilateral atau asimetris disertai hiperpigmentasi pada area yang terkena dan ulserasi kemungkinan besar disebabkan trombosis vena.

Asites juga dapat terjadi pada gagal jantung kongrestif karena adanya peningkatan tekanan vena sehingga terjadi transudasi dari permukaan serosa. Biasanya pasien mengeluh pembesaran lingkaran perut, perubahan ukuran celana atau rok dalam waktu singkat.

Rasa lelah (fatigue) dan kelemahan

Rasa lelah dan lemah dapat disebabkan oleh berbagai sebab sehingga hal ini merupakan gejala yang kurang spesifik pada penyakit jantung. Penyebab utama lelah dan lemah adalah kecemasan dan depresi. Anemia dan tirotoksikosis adalah penyebab lain yang tidak jarang ditemui.

Jika seseorang pasien dengan penyakit jantung mengalami kelebihan beban cairan (volume overload) atau kogesti paru, kemudian mendapat terapi diuretik maka keluhan sesak dapat berubah menjadi rasa lelah atau lemah yang mungkin disebabkan oleh menurunnya curah jantung (cardiac output), hipotensi atau hipokalemia akibat pemberian diuretik.

Keluhan lelah yang parah dapat pula terjadi akibat iskemia miokardium global pada pasien dengan penyakit arteri koroner yang ekstensif.

Palpitasi

Kebanyakan individu normal dapat merasakan peningkatan aktivitas jantung saat ada stres fisik maupun emosi. Jika kemudian muncul perasaan tidak nyaman akibat peningkatan aktivitas jantung maka disebut palpitasi atau rasa berdebar.

Palpitasi dapat terjadi tanpa adanya penyakit jantung yang serius misalnya saat ansietas, namun dapat pula menjadi kondisi yang potensial mengancam jiwa.

Jika keluhan palpitasi timbul tanpa aktivitas fisik berat maka penyebab lain harus dicari, misalnya adanya gagal jantung, anemia, tirotoksikosis dan fibrilasi atrium.

Frekuensi nadi yang tidak teratur mengesankan adanya fibrilasi atrium. Waspadai frekuensi nadi yang cepat lebih dari 150 kali/menit sebagai tanda takikardi supraventrikuler.

Sinkop

Sinkop adalah hilangnya kesadaran sementara karena kurangnya perfusi darah ke otak. Pada pasien dengan sinkop, beberapa hal yang harus dievaluasi antara lain :

  1. Gejala prodromal sebelum sinkop (mual, muntah, mengigil, diaforesis, pusing, perubahan visual).
  2. Kondisi pasien saat sinkop yang bisa ditanyakan pada sanksi mata (durasi sinkop, pergerakan pasien misalnya tonik, klonik).
  3. Kondisi pasien setelah sadar (nyeri otot, berkeringat, muntah,pucat)
  4. Lingkungan atau keadaan yang berperan pada timbulnya sinkop (posisi berbaring atau berdiri, aktivitas misalnya berdiri lama, bangkit dari duduk, batuk, saat berkemih, adanya nyeri, stres psikis).
  5. Riwayat penyakit sebelumnya, yaitu riwayat sinkop sebelumnya, adanya penyakit jantung, saraf atau metabolik, obat-obatan yang sedang diminum, riwayat keluarga yang meninggak mendadak karena penyakit jantung.

Sinkop akibat penyakit jantung biasanya terjadi cepat, tanpa aura dan tidak berkaitan dengan konvulsi atau inkontinensia.

Gejala-gejala khas yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler akan memberikan petunjukkan yang tepat untuk mempertajam diagnosis. Penguasaan mendasar patofisiologi jantung akan sangat bermanfaat untuk mempertajam kemampuan anamnesis dokter umum di layanan primer.

Semoga bermanfaat.

Referensi: 5 Rahasia Penyakit Kardiovaskuler (FK UI)

=
Sponsored Content

Apa yang harus diketahui dokter umum di faskes primer tentang penatalaksanaan penyakit kardiovaskuler?

Dua buku ciamik tentang "5 Rahasia Penyakit Kardiovaskuler" (FK UI) dan "Manajemen Komprehensif Hipertensi" (FK UNAIR) akan menjawab banyak pertanyaan sejawat tentang bagaimana berperan sebagai dokter umum di faskes primer dalam penatalaksanaan penyakit kardiovaskuler.

Harganya? 5 Rahasia PKV 199 ribu, Manajemen Komprehensif Hipertensi 240 ribu

Sudah tau kan kemana pesannya? :)

Langsung aja SMS/WA 0857 313 06 999 ANISA