/ dokter

Saya Dokter, Saat Jaga Semalam Saya Tertusuk Jarum Bekas Pasien Hepatitis B, Apa Yang Harus Saya Lakukan?

Hepatitis B adalah infeksi virus penyebab utama kanker hati (karsinoma hepatoseluler), 80%. Hepatitis B juga "juara dua" penyebab kanker di dunia, setelah rokok. Celakanya, tenaga kesehatan adalah kelompok yang rentan terpapar infeksi virus hepatitis B.

Suatu hari seorang sejawat bercerita. Semalam dia habis jaga di Instalasi Gawat Darurat, sebuah rumah sakit kecil di sebuah kabupaten di Jawa Timur. Karena sebuah insiden, secara tidak sengaja dia tertusuk jarum "bekas" spuit pengambilan darah pasien dengan HbsAg positif.

Tiba-tiba dia syok, takut dan cemas. Sudah terbayang wajah belasan pasien kanker hati yang pernah dirawatnya karena infeksi hepatitis B. Segala cara (bahkan kadang tidak rasional) dilakukan untuk "mencegah" infeksi terjadi: mendisinfeksi (dengan alkohol) berkali-kali, memencet-mencet luka tusuk supaya darah keluar dan sebagainya. Namun, dia akhirnya sadar, yang dapat dilakukan saat ini hanya berdoa agar infeksi itu tidak terjadi.

Keesokan harinya, berkonsultasilah sejawat tersebut dengan seorang dokter spesialis penyakit dalam. Sejawat internis tersebut menganjurkan tes titer antibodi, mengingat sejawat ini sudah pernah vaksinasi hepatitis B saat masih koas.

Ternyata titer antibodi sudah rendah, sehingga rentan terinfeksi virus hepatitis B. Akhirnya sejawat tersebut menganjurkan untuk menjalani imunoterapi, yaitu memberikan imunoglobulin anti virus Hepatitis B. Pemberian imunoterapi tersebut diharapkan dapat meningkatkan titer antibodi secara instan sehingga infeksi tidak terjadi.

Sejawat dokter IGD tersebut setuju, namun timbul masalah. Ternyata, sediaan imunoglobulin yang dicari "sulit ditemukan". Beberapa medrep yang dikenal pun dikontak. Ternyata ada, namun harganya sangat mahal, hampir setara dengan take home pay sebagai dokter IGD selama 6 bulan. T.T

VAKSINASI HEPATITIS B

Pencegahan infeksi virus hepatitis B dilakukan melalui vaksinasi. Pencegahan infeksi menggunakan imunisasi pasif yaitu pemberian imunoglobulin tidak mencegah infeksi, melainkan mengurangi frekuensi penyakit klinis.

Vaksinasi hepatitis B terdiri atas partikel HbsAg yang tidak terglikolisasi, namun tetap tidak dapat dibedakan oleh tubuh dari HbsAg natural. Pemberian vaksinasi dibedakan menjadi pencegahan sebelum pajanan dan setelah pajanan.

Profilaksis sebelum pajanan terhadap infeksi virus hepatitis B pada umumnya diberikan kepada pekerja kesehatan, pasien hemodialisis dan staf yang bertugas, penggunaan obat-obatan jarum suntik, pasien dengan partner seksual yang lebih dari 1, pasien yang tinggal di area yang sangat endemik, maupun anak-anak berumur dibawah 18 tahun yang belum mendapatkan vaksinasi.

Pemberian vaksin dilakukan secara intramuskular di daerah deltoid, sebanyak 3 kali, pada 0, 1, dan 6 bulan, dengan dosis bervariasi, tergantung vaksinasi. Pasien dengan kehamilan tidak menjadi kontraindikasi untuk vaksinasi ini.

Pemberian vaksinasi dimulai dari anak-anak pada daerah hiperendemis, seperti Asia, menurunkan 10-15 tahun infeksi hepatitis B dan komplikasinya. Vaksinasi hepatitis B dapat melindungi 80-90% pasien selama sekurang 5 tahun dan 60-80% selama 10 tahun. Booster tidak direkomendasikan untuk diberikan secara rutin, kecuali pada pasien dengan sistem imunokompromais.

Vaksin Hepatitis B tersedia dengan nama Recombicax-HB (Merck) dan Engerix-B (GlaxoSmithKline). Selain itu, terdapat pula kombinasi dengan vaksin lainnya, seperti vaksin hepatitis B beserta Haemophilus influenza type B dan Neisseria meningitides, dengan nama Comvax, yang diproduksi oleh Merck dan juga kombinasi dengan hepatitis A (Twinrix) dan difteria dan tetanus toxoid (Pediatrix) yang diproduksi oleh GlaxoSmithKline.

Vaksinasi pasca pajanan terhadap hepatitis B merupakan kombinasi antara HBIG (Hepatitis B Immunglobulin G) dan vaksin hepatitis B. Keduanya memiliki tujuan masing-masing, yaitu HBIG untuk mencapai titer anti-HBs yang tinggi, dan vaksin hepatitis B untuk mencapai imunitas yang bertahan lama).

Pemberian HBIG diberikan single dose, 0,06 mL/kgBB dan diberikan secara intramuskular, dalam waktu maksimal 14 hari setelah pajanan. Pemberian vaksinasi dan HBIG dapat dilakukan bersamaan namun pada tempat yang berbeda.

Note: Resiko profesi seorang dokter (bahkan juga perawat) sangat besar. Sangat mungkin saat menjalani profesinya seorang dokter terpapar HIV, TB dan Hepatitis B. Proteksi Rumah Sakit dan Pemerintah masih sangat rendah dalam hal ini. "Gaji Murah" jelas tidak dapat ditoleransi oleh "idealisme" profesi ini.


=
Sponsored Content

Penjelasan lebih lengkap tentang tatalaksana post tertusuk jarum suntik pasien dibahas lebih lengkap di versi update tahun 2018 "BUKU 155 DIAGNOSIS DAN TERAPI FASKES PRIMER" halaman 261-262. Meliputi

  1. Tatalakasana Risiko Terpajan HIV
  2. Tatalakasana Risiko Terpajan virus Hepatitis B
  3. Tatalakasana Risiko Terpajan virus Hepatitis C

Buku paling dicari dokter puskesmas, IGD dan Klinik Pratama dari aceh-papua ini sudah mau terbit lagi, setelah 3000 eksemplar sold out < 30 hari.

promo-buku-155-diagnosis-terapi-pak-dhe-wahono

Ini kata dr Nares, TS dari Jakarta tentang "BUKU 155 DIAGNOSIS DAN TERAPI FASKES PRIMER"

testimoni-Buku-155-drNares

testimoni-Buku-155-drNares1

Kamu bisa pesan bukunya via WA 085608083342 (Yahya) atau link order ini

Jangan sampai nggak kebagian kayak kemarin^^