Prinsip Terapi Cairan Pada Pasien Geriatri

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sangat sering terjadi pada usia lanjut (geriatri). Gangguan tersebut meliputi dehidrasi, hipernatremia dan hiponatremia. Jika dehidrasi tidak ditangani maka angka mortalitas akan mencapai 50%, dan sebanyak 45% pasien geriatri yang dibawa ke unit gawat darurat menderita dehidrasi. Untuk memberikan tatalaksana yang tepat untuk keseimbangan cairan dan elektrolit pada geriatri, perlu diketahui perubahan fisiologi yang menjadi faktro predisposisi gangguan.

Prinsip Terapi Cairan Pasien Geriatri

Secara umum pada usia lanjut terjadi penurunan kemampuan homeostaatik sehingga terjadi penurunan respon rasa haus terhadap kondisi hipovolemik dan hiperosmolaritas. Selain itu laju filtrasi glomerulus dan fungsi ginjal juga menurun. Respon ginjal terhadap vasopresin berkurang. Supresi sekresi renin dan aktivitas renin plasma, angiotensin II plasma dan kadar aldosteron disebabkan oleh peningkatan atrial natriuretic peptide (ANP).

Penyebab dehidrasi pada usia lanjut dapat disebabkan peningkatan kehilangan cairan atau penurunan asupan cairan. Peningkatan kehilangan cairan berlebihan dapat terjadi karena keringat yang berlebihan dan sesak napas apabila pasien terkena infeksi pneumonia ataupun infeksi saluran kemih yang sering terjadi pada geriatri.

Kehilangan cairan juga dapat disebabkan oleh urin yang keluar berlebihan karena penggunaan diuretik, manitol, kontras radiografi, hiperglikemia, hiperkalsemia, diabetes insipidus, hiperaldosteronisme dan penekanan vasopresin. Kehilangan cairan melalui saluran cerna dapat terjadi karena penggunaan laksan, muntah dan diare.

Pada pasien dengan hipoalbuminemia, pankreatitis, asites, anafilaksis, luka bakar, dan dialisat peritoneal hipertonik dapat mengalami dehidrasi akibat pergeseran cairan ke interstitial. Penyebab dari kurangnya asupan cairan pada usia lanjut salah satunya adalah terbatasnya akses terhadap cairan karena keterbatasan fisik, gerak, dan ketajaman penglihatan.

Selain itu pasien usia lanjut dengan edema sering disarankan untuk membatasi jumlah cairan yang masuk. Perubahan tingkat kewaspadaan pasien dan kondisi demensia ataupun delirium dapat menurunkan jumlah asupan cairan yang masuk. Gangguan menelan, obstruksi usus serta perubahan mekanisme rasa haus juga mengurangi konsumsi air pada geriatri.

Gejala klinis dehidrasi pada usia lanjut tidak jelas. Gejala seperti rasa haus, lidah kering, penurunan turgor dan mata cekung sering tidak jelas, sehingga yang paling spesifik dan dapat dievaluasi adalah penurunan berat badan lebih dari 3%.

Tanda klinis lain adalah hipotensi ortostatik. Tanda lain dari dehidrasi adalah bila aksila lembab/ basah, suhu tubuh meningkat dari suhu basal, diuresis berkurang, berat jenis urin lebih dari atau sama dengan 1,019 (tanpa adanya glukosuria dan proteinuria), dan rasio ureum/kreatinin lebih dari sama dengan 16,9 (tanpa adanya perdarahan aktif saluran cerna). Hal tersebut berlaku bila pasien tidak menggunakan obat-obat sitotastik, tidak ada perdarahan saluran cerna, dan tidak ada kondisi overload (gagal jantung kongestif, sirosis hepatis dengan hipertensi portal, penyakit ginjal kronik stadium terminal, sindrom nefrotik).

Terapi yang dapat diberikan pada dehidrasi ringan geriatri adalah dengan rehidrasi oral sebanyak 1500-2500 mL/24 jam (30 mL/kg berat badan/24 jam) untuk kebutuhan dasar, ditambah dengan rehidrasi defisit cairan dan kehilangan cairan yang masih berlangsung. Perhatikan tanda-tanda kelebihan cairan seperti ortopnea, sesak napas, perubahan pola tidur atau confusion. Cairan yang diberikan tergantung jenis dehidrasi.

Dehidrasi hipertonik adalah keadaan berkurangnya air lebih banyak dari natrium karena keterlambatan ekskresi natrium, gangguan mekanisme rasa haus, serta hambatan akses terhadap cairan (kadar natrium serum > 145 mmol/liter) sehingga cairan yang dianjurkan adalah air atau minuman dengan kandungan sodium yang rendah seperti jus buah apel, jeruk dan anggur.

Dehidrasi isotonik adalah hilangnya air dan natrium dalam jumlah yang sama yang disebabkan oleh keadaan demam, hiperventilasi atau diabetes insipidus (kadar natrium serum 135-145 mmol/liter), cairan yang diberikan adalah air dan suplemen yang mengandung sodium misalnya jus tomat. Sedangkan dehidrasi hipotonik adalah hilangnya natrium lebih banyak dari air biasanya disebabkan oleh gangguan saluran cerna, luka bakar, diuretik atau diuretik osmotik (kadar natrium serum kurang dari 135 mmol/liter dan osmolalitas efektif serum kurang dari 270 mosmol/liter). Cairan yang dianjurkan adalah cairan dengan kadar sodium yang lebih tinggi.

Bila pasien geriatri mengalami dehidrasi sedang hingga berat, maka pasien tidak dapat minum per oral. Pilihan rehidrasi adalah dengan memberikan cairan enteral ataupun parenteral. Jika cairan tubuh yang hilang terutama adalah air, maka jumkah cairan rehidrasi yang dibutuhkan dapat dihitng dengan rumus:

Defisit cairan (liter) = berat badan total (BBT) yang diinginkan – BBT saat ini
BBT yang diinginkan = (kadar Na serum x BBT saat ini) / 140
BBT saat ini (pria) = 50% x berat badan (kg)
BBT saat ini (wanita) = 45% x berat badan (kg)

Pada dehidrasi isotonik dapat diberikan cairan NaCl 0,9% atau dekstrosa 5% dengan kecepatan 25-30% dari defisit cairan total per hari. Pada dehidrasi hipertonik gunakan cairan NaCl 0,45%, sedangkan pada dehidrasi hipotonik tatalasana penyebab yang mendasari, tambahkan diet natrium dan bila perlu dapat diberikan cairan hipertonik.

Resusitasi cairan pada geriatri harus diikuti dengan monitor yang ketat pada kondisi pasien untuk mencegah resusitasi yang berlebihan. Penanda resusitasi seperti laktat dan/atau oksigenasi jaringan dapat digunakan untuk menghindari efek gagal jantung. Pemberian cairan diberikan hingga mean arterial pressure (MAP) 60-65 dan hingga seluruh sumber perdarahan signifikan telah teridentifikasi dan terkontrol.

Hati-hati dengan tanda-tanda vital pasien geriatri dalam penilaian dehidrasi atau syok. Pasien geriatri mungkin memiliki tekanan darah, nadi, dan produksi urin yang normal namun sebenarnya berada pada kondisi syok. Komorbiditas yang mendasari seperti riwayat hipertensi dan konsumsi beta bloker dapat memengaruhi tekanan darah dan nadi pada pasien. Untuk dapat secara akurat mengetahui status hidrasi dari pasien adalah dengan melakukan pemasangan akses vena sentral.

Pada kondisi sepsis, volume intravaskular berkurang dan dapat menimbulkan instabilitas sirkulasi. Hal ini dapat menimbulkan syok septik bila terapi cairan tidak adekuat. Bolus cairan 250-500 ml direkomendasikan dengan memonitor ketat tekanan darah, nadi, laju pernapasan, produksi urin, dan saturasi oksigen.

Bila pasien memiliki riwayat sakit jantung atau pasien yang berespon buruk dengan pemberian cairan yang adekuat (2 L kristaloid), maka ekokardiografi transtorakal segera direkomendasikan untuk dilakukan. Pemberian dobutamin dapat di pertimbagkan pada pasien dengan fungsi ventrikel kiri yang berkurang (setelah penggantian volume yang adekuat).

Perlu ditekankan bahwa tujuan dari pemberian cairan adalah untuk meningkatkan cardiac output dan oxygen delivery. Resusitasi pada pasien geriatri merupakan pedang bermata dua karena pasien usia lanjut tidak dapat menoleransi dehidrasi dan kelebihan cairan menimbulkan peningkatan morbiditas serta mortalitas. Untuk itu pengawasan ketat tanda-tanda vital direkomendasikan pada pasien geriatri untuk memonitor kecukupan cairan.

Semoga Bermanfaat^^


Sponsored Content

DVD MAHIR TERAPI CAIRAN SUDAH READY...

Promo-Mahir-Terapi-Cairan-001

Berisi banyak hal penting tentang seluk beluk terapi cairan...

  1. Dasar-dasar Terapi Cairan

  2. Dasar Perdarahan Akut

  3. Strategi Resusitasi Cairan Perdarahan Akut

  4. Dasar Dehidrasi

  5. Strategi Rehidrasi Anak dan Dewasa

  6. Profil Cairan Kristaloid (NS, RA, RL, D5)

  7. Profil Cairan Koloid (HES, Dextran)

  8. Memilih Kristaloid vs Koloid

  9. Menghitung Kebutuhan Nutrisi

Harganya 156 ribu, masih ada promo free ongkir tanggal 01-05 April 2018 (pesan min 3 DVD apa saja)

Pemesanan langsung aja (WA) Yahya 085608083342.

Semoga Bermanfaat^^