/ Internal Medicine

Pemeriksaan Penunjang (Serologis dan Faal Hati) Infeksi Hepatitis B Akut

Hepatitis B adalah infeksi virus penyebab kanker hati terbanyak di dunia. Peningkatan jumlah insiden penyakit hepatitis B meningkat akhir-akhir ini seiring dengan peningkatan jumlah pengguna narkoba suntik. Kanker hati dan sirosis adalah dua jenis komplikasi hepatitis B kronik yang banyak menyebabkan kematian pasien.

Pembahasan terkait penyakit hepatitis B kronik telah banyak dibahas, namun pembahasan tentang infeksi hepatitis B akut masih jarang dibahas. Hal tersebut dikarenakan infeksi hepatitis B akut sering bersifat non-spesifik yang sering sulit dibedakan dengan infeksi virus hepatis yang lain. Bahkan gejala Hepatitis B Akut sering subklinis dan anikterik. Hal ini menyebabkan pasien dengan infeksi Hepatitis B Akut sering tidak "terdeteksi" di rumah sakit.

Padahal, deteksi dini infeksi Hepatitis B penting untuk mengendalikan penularan dan mencegah komplikasi kronik. Mengetahui aspek diagnosis, dalam artikel ini dibahas tentang pemeriksaan serologis dan faal hati, penting untuk diketahui dokter umum dan residen ilmu penyakit dalam. Diharapkan ketika mendapatkan pasien dengan kecurigaan infeksi Hepatitis Akut dapat memberikan penatalaksanaan yang tepat.

Diagnosis Serologis Infeksi Hepatitis B Akut

Dokter Post pernah mendapatkan kasus infeksi hepatitis B akut. Saat itu, seorang pasien datang dengan keluhan demam dan mual muntah. Tidak didapatkan adanya ikterus maupun splenomegali.

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, awalnya dicurigai pasien menderita demam dengue (leukopenia, trombosit normal). Namun, hasil pemeriksaan Faal Hati menunjukkan peningkatan SGOT (ALT) hingga > 1000. Kemudian dokter post pun mengkonsultasikan kasus ini ke Spesialis Penyakit Dalam (Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi). Ternyata, disarankan melakukan pemeriksaan serologi hepatitis A dan hepatitis B.

Sesuai advis Sp.PD, pasien diperiksakan IgM Dengue, IgG Dengue, IgM Anti-HAV, HBsAg, IgM Anti HBc, HBeAg dan HBV DNA. Setelah hasil tes serologis keluar, hasilnya mengejutkan. Pasien yang secara klinis nampak seperti demam dengue, ternyata yang positif hanya IgM Anti HBc dan IgG Dengue (abaikan IgG Dengue). Semua pemeriksaan serologis yang lain negatif.

Setelah dilaporkan ke supervisor, akhirnya pasien didiagnosis sebagai Infeksi Hepatitis B akut dan dirujuk ke Sp.PD-KGEH.

Interpretasi Pemeriksaan Serologis Hepatitis B Akut

Dokter post merujuk pada materi di EIMED Kegawatdauratan Biru tentang interpretasi pemeriksaan serologis infeksi Hepatitis B. Sejawat dapat mempelajari diagnosis dan terapi infeksi Hepatitis B di EIMED Kegawatdaruratan Biru.

Pada hepatitis B akut, HbsAg muncul di serum dalam waktu 2-10 minggu setelah paparan virus, sebelum onset gejala dan peningkatan kadar ALT. Pada sebagian besar pasien HbsAg hilang dalam waktu 4-6 bulan. Anti-HBs dapat muncul beberapa minggu setelah serokonversi HbsAg.

Setelah serokonversi HbsAg menjadi anti-HBs, HBV-DNA masih dapat dideteksi pada hati, dan respon sel T spesifik terhadap virus hepatitis B dapat dijumpai pada beberapa dekade berikutnya. Hal tersebut menunjukkan kontrol imunitas yang persisten setelah akut.

Pada kondisi yang jarang, pasien dengan anti-HBs yang positif dapat kembali terinfeksi virus hepatitis B kembali karena proteksi inkomplit dari anti-HBs terhadap serotipe virus hepatitis B lainnya.

Adanya HBsAg yang persisten lebih dari 6 bulan menunjukkan bahwa pasien menderita infeksi hepatitis B kronik. HbsAg dan anti-HBs dapat dijumpai secara bersamaan pada individu yang sama pada 10-25% kasus. Fenomena tersebut muncul lebih sering pada pasien dengan hepatitis B kronik dibandingkan dengan hepatitis B akut.

Pada keadaan ini biasanya titer antibodi rendah. Mekanisme yang menjelaskan fenomena tersebut masih belum sepenuhnya diketahui, tetapi mungkin diakibatkan oleh infeksi hepatitis B lebih dari 1 serotipe. Pada pasien yang terdapat HBsAg dan anti-HBs bersamaan, pasien tersebut dianggap menderita infeksi virus hepatitis B, dan adanya anti-HBs tidak mempengaruhi aktivitas penyakit dan hasil akhir penyakit tersebut.

HbeAg yang persisten lebih dari 3 bulan setelah onset penyakit jarang terjadi dan menunjukkan progresivitas menjadi hepatitis B kronik.
Pada hepatitis B akut, periode antara hilangnya HBsAg dan munculnya anti-HBs dikenal dengan periode jendela (window period). Pada periode ini, HbeAg negatif dan HBV-DNA biasanya tidak terdeteksi. Penanda satu-satunya yang positif adalah IgM anti-HBc, suatu antibodi terhadap antigen hepatitis B core. Sehingga IgM anti-HBc merupakan penanda serologi paling penting pada hepatitis B akut.

IgM anti-HBc biasanya bertahan 4-6 bulan selama hepatitis B akut, dan jarang persisten sampai 2 tahun. Meskipun IgM anti-HBc merupakan penanda hepatitis B akut, penanda tersebut juga dapat positif selama hepatitis B kronik yang mengalami eksaserbasi akut.

Pemeriksaan Faal Hati Infeksi Hepatitis B Akut

Peningkatan ALT dan AST sampai 1000-2000 IU/L sering dijumpai, dimana ALT lebih tinggi daripada AST. Peningkatan kadar bilirubin biasanya muncul setelah peningkatan ALT. Peningkatan kadar ALT puncak tidak berkorelasi dengan prognosis.

Karena faktor pembekuan mempunyai waktu paruh singkat (6 jam untuk faktor VII), waktu protombin merupakan indikator yang paling baik. Leukopenia ringan dengan limfositosis relatif sering dijumpai. Pada pasien yang sembuh, ALT biasanya kembali normal setelah 1-4 bulan kadar bilirubin yang menjadi normal.

Risiko perjalanan penyakit infeksi hepatitis B akut menjadi kronik berbanding terbalik secara proporsional terhadap usia terjadinya infeksi. Infeksi kronik akan terjadi kurang dari 5% pada pasien dewasa yang imunokompeten, namun pada infeksi yang terjadi pada masa neonatus dan bayi, 95% kasus akan menjadi infeksi kronik.

Pasien hepatitis B akut yang mengalami hepatitis B fulminan kurang dari 1%. Sebanyak 35-70% hepatitis virus fulminan berasal dari infeksi hepatitis B akut. Angka ketahanan hidup spontan pada hepatitis B fulminan berkisar 20% tanpa transplantasi hati.

Transplantasi hati menghasilkan angka ketahanan hidup 50-60%. Reinfeksi akibat transplantasi hati jarang terjadi karena adanya profilaksis imunisasi hepatitis B dan agen antivirus.

Kesimpulan

Infeksi Hepatitis B akut sulit dibedakan dengan infeksi virus hepatitis yang lain. Diperlukan pemeriksaan serologis untuk menegakkan diagnosis infeksi Hepatitis B akut. IgM anti-HBc merupakan penanda klinis paling penting untuk menegakkan infeksi Hepatitis B Akut. Rujuk pasien ke Sp.PD untuk penanganan lebih lanjut.

Semoga Bermanfaat^^

Referensi: EIMED Biru

=
Sponsored Content


Mau Pesan EIMED Biru? Kontak aja CS Dokter Post via kontakin.com/dokterpost