/ pediatri

Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Infeksi Virus Dengue Pasien Anak (2): Diagnosis Klinis vs Serologis?

Diagnosis infeksi virus dengue (IVD) masih menjadi masalah yang "mengganggu" di Indonesia. Selama ini laporan yang kita publikasikan di Indonesia adalah perkiraan suspek dengue. Mengapa? Karena penegakan diagnosis dengue masih sering ditegakkan secara klinis saja, tanpa konfirmasi laboratoris.

Keterbatasan alat dan sumber daya terlatih menjadi kendala besar untuk mendapatkan data pasti angka kejadian dengue di Indonesia. Jangankan di papua atau maluku, rumah sakit kecil di Surabaya dan Jakarta mungkin masih menegakkan IVD hanya dari aspek klinis saja, tanpa pemeriksaan laboratoris yang memadai.

Namun, memang ternyata hanya dengan penegakan diagnosis secara klinis saja, penatalaksanaan dengue yang tepat sudah mampu mereduksi angka kematian (Case Fatality Rate) hingga hanya 2%. Lalu, mengapa rekomendasi terbaru (2014) menganjurkan penegakan diagnosis dengue melalui konfimasi laboratoris juga?

Diagnosis Infeksi Virus Dengue

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit akut yang ditandai dengan empat gejala klinik: demam tinggi mendadak, fenomena perdarahan hepatomegali dan kegagalan sirkulasi.

Secara laboratoris, IVD dapat dikonfirmasi dengan beberapa pemeriksaa: Uji hambatan hemaglutinasi, ELISA IgM, Tes Dengue Blot, dan NS1 antigen. Tes darah ELISA IgG secara berpasangan (fase akut dan penyembuhan) yang mengalami peningkatan signifikan juga dapat dijadikan pedoman diagnosis secara laboratoris.

Namun, semua pemeriksaan laboratoris di atas hanya mampu menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi dengue saja, belum bisa menunjukkan bahwa pasien mengalami demam dengue, DBD atau bahkan DSS. Diagnosis klinis masih harus menjadi garda utama dalam menegakkan diagnosis dan menjadi pedoman terapi.

Mengapa Diagnosis Serologis Penting?

Diagnosis serologis penting untuk mengkonfirmasi apakah seseorang benar-benar terinfeksi dengue atau mungkin terinfeksi virus lain. Kepentingan ini sebenarnya lebih banyak dibutuhkan untuk melakukan perencanaan kesehatan yang cermat. Secara klinis, kepastian diagnosis dengue hari ini akan menjadi informasi yang berharga bila suatu saat pasien terinfeksi dengue di masa depan.

Teori Halstead tentang infeksi sekunder yang menyebabkan pasien jatuh pada kondisi demam berdarah dengue adalah salah satu alasan mengapa diagnosis dengue yang terkonfirmasi penting untuk manajemen klinis. Jika seorang pasien pernah terinfeksi dengue sebelumnya, kemungkinan untuk mengalami DBD jauh lebih besar dibandingkan pasien yang tidak pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya. Penjelasa imunologisnya rumit, tidak saya jelaskan disini.

Kepentingan diagnosis serologis secara nyata untuk manajemen penatalaksanaan diberikan oleh penemuan NS1 antigen. NS1 adalah salah satu bagian protein virus dengue yang sering dapat dideteksi terjadi peningkatan pada fase akut (demam) di hari-hari awal infeksi (penjelasan lebih lanjut spektrum klinis dengue).

Keberadaan NS1 ini memberikan kita petunjuk lebih dini untuk membedakan pasien ini terinfeksi dengue atau bukan, saat gejala khas di hari-hari pertama belum muncul. Dengan informasi tersebut, kita sangat terbantu untuk membuat keputusan apakah diperlukan perawatan supportif lebih dini sehingga komplikasi berat DBD dapat dihindari.

Tentang NS1 Antigen

Mimpi dokter klinisi adalah tersedianya sebuah modalitas diagnostik yang dapat membedakan apakah suatu demam dapat berkembang menjadi DBD atau hanya akan berakhir sebagai demam dengue saja. Modalitas tersebut disebut prediktor keparahan dengue. Sebelum modalitas diagnostik impian itu berhasil ditemukan, impian para klinisi sebagian terjawab dengan penemuan NS1 antigen.

NS1 antigen adalah modalitas diagnostik yang mampu mendeteksi infeksi virus dengue (sejak hari pertama demam) lebih awal dibandingkan pemeriksaan antibodi IgM (muncul sekitar hari ke-7) dan IgG dengue (muncul sekitar 3 bulan).

Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang cukup baik dimiliki oleh pemeriksaan NS1 antigen dalam menegakkan diagnosis IVD. Sensitivitas NS1 antigen dilaporkan mencapai 98,9% (82,0%-98,9%). Spesifisitasnya bahkan mencapai 100%, artinya jika hasil pemeriksaan NS1 antigen positif artinya pasien tersebut dapat dipastikan terinfeksi virus dengue.

Sebuah penelitian melaporkan bahwa waktu terbaik pemeriksaan NS1 antigen adalah demam hari 1-2 dengan positivity rate 100%. Sedangkan positivity rate-nya terus turun dari hari ke hari (92.3% hari ke 3, 76.9% hari ke 4, 56.4% hari ke 5, 43.1% hari ke 6 dan 29.8% hari ke 7). Penemuan NS1 antigen ini sangat penting karena kita dapat melakukan terapi supportif dan monitoring pasien lebih dini, sehingga dapat mengurangi resiko komplikasi maupun kematian.

Namun, kita harus bijaksana. Terapi lah pasien, bukan hasil lab-nya. Jangan sampai setiap pasien demam diperiksakan NS1 antigen dan setiap pasien NS1 antigen positif di-MRS-kan. Bisa penuh nanti rumah sakit kita. Pertimbangan klinis dan laboratoris yang lain perlu digunakan untuk menentukan kapan pasien harus MRS, kapan pasien boleh rawat jalan.

Semoga bermanfaat.


=
Sponsored Content

Outbreak DBD sudah terjadi di belasan daerah di Indonesia lho. Puluhan pasien sudah "tumbang". Pastikan sejawat telah memiliki bekal pengetahuan terbaru untuk diagnosis dan tata laksana Demam Berdarah Dengue.

Buku dari yang diterbitkan IDAI di akhir 2015 ini ditulis untuk mempersiapkan outbreak dengue pada awal tahun 2016. Berisi

  1. Materi yang singkat, padat dan jelas
  2. Mudah diaplikasikan bahkan dalam penyedia layanan kesehatan dengan sumber daya terbatas
  3. Berisi 7 hal baru dalam pedoman tatalaksana demam berdarah dengue.

Murah kok, hanya 156 ribu saja.

Ayo, persiapkan lebh dini.

Pesan aja buku ini, Inbox admin ya