/ pediatri

Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Infeksi Virus Dengue Pasien Anak (1): Apa yang Baru?

Pada pedoman diagnosis dan tatalaksana infeksi virus dengue (IVD) tahun 2014 ada hal baru: penambahan kelompok diagnosis expanded dengue syndrome dalam spektrum klinis IVD. Terminologi warning sign lebih banyak diterapkan untuk menapis kasus dengue lebih sensitif dan memiliki nilai klinis sebagai deteksi dini syok hipovolemik. Strategi yang dikembangkan saat ini adalah optimalisasi triase di puskesmas atau rumah sakit untuk memilah kasus rawat jalan atau rawat inap.

Sejarah Infeksi Virus Dengue di Indonesia

Kasus pertama demam berdarah dengue (DBD) pertama kali diduga muncul di Surabaya pada tahun 1968. Pasien pertama yang berhasil dikonfirmasi mengalami IVD secara virologis ditemukan pada tahun 1970.

Case Fatality Rate (CFR) DBD sempat menukik tinggi, 13%. CFR yang sangat tinggi tersebut dilaporkan pada tahun 1988 di RSCM. Sedangkan pada tahun 1991, CFR nasional DBD dilaporkan sampai menyentuh angka 42.8%, 1 dari 2 pasien meninggal!

Saat ini, berkat perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran, CFR nasional DBD dapat ditekan hingga hanya mencapai 2%. Pedoman diagnosis dan penatalaksanaan IVD yang dimiliki Indonesia saat ini sudah cukup efektif menekan angka kematian. Namun, upaya perbaikan terus menerus dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan dan beban kesehatan.


=
Sponsored Content

Buku Terbaru dari IDAI nih, bayangkan kamu nggak usah baca buku teks Nelson yang tebalnya ribuan halaman.
Para konsulen SpA yang baik hati sudah menerjemahkan rangkuman buku Teks Nelson, dijamin kualitas badass.

Buat kamu yang pengen daftar PPDS Anak tahun ini, kayaknya ini senjata ampuh kamu buat mempersiapkan ujian teori

So, tunggu apalagi. Langsung aja SMS/WA ke 081234008737 untuk pemesanan! Limited Stock!


=

Diagnosis Infeksi Virus Dengue

Diagnosis IVD di rumah sakit idealnya dilakukan berdasarkan diagnosis klinis yang ditunjang pemeriksaan serologis (IgM dan IgG) atau deteksi antigen (NS1). Pemeriksaan penunjang tersebut berfungsi untuk mendapatkan diagnosis pasti IVD, sehingga clinical pathway dapat diterapkan lebih optimal. Outcome yang diharapkan, semakin akurat diagnosis, maka terapi yang diberikan akan semakin tepat. Hasilnya angka mortalitas dengue dapat ditekan mendekati nol.

Spektrum Klinis Infeksi Virus Dengue

Infeksi virus dengue yang simtomatik dibagi 4 klasifikasi:

  • Undifferentiated Fever
  • Demam Dengue
  • Demam Berdarah Dengue
  • Expanded Dengue Syndrome

Undifferentiated Fever

Pada undifferentiated fever, sulit untuk membedakan IVD dengan demam yang disebabkan oleh virus lain. Gejala klinis tidak spesifik. Terkadang demam disertai bercak merah makulopapular, yang timbul saat demam reda. Sering dijumpai gejala yang melibatkan saluran pencernaan dan saluran pernafasan.

Demam Dengue

Demam dengue sering ditandai dengan demam mendadak tinggi, disertai nyeri kepala, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri tulang, nyeri retro-orbita, nyeri punggung, facial flushed, lesu, tidak mau makan, konstipasi, nyeri perut dan nyeri tenggorok. Pada pasien dengan demam dengue tidak didapatkan adanya tanda-tanda kebocoran plasma. Hematokrit relatif normal.

Demam Berdarah Dengue

Pada fase demam berdarah dengue, perjalanan penyakit akan mengikuti pola tiga fase: fase demam, fase kritis dan fase penyembuhan.

  1. Fase Demam, ditandai dengan dengan demam tinggi 2-7 hari (>38,3 C), kadang dapat disertai kejang demam. Timbul facial flush, muntah, nyeri kepala, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri tenggorok dengan faring hiperemis, nyeri hipokondrium kanan dan nyeri perut.
    Pada pemeriksaan fisik sering didapatkan manifestasi perdarahan: uji torniquet positif, petekiae, epistaksis, perdarahan gusi, perdarahan saluran cerna, hematuria (jarang) dan peningkatan darah menstruasi pada anak perempuan. Hepatomegali sering teraba jelas 2-4 cm dibawah arcus costae kanan. Peningkatan SGOT dan SGPT menandai gangguan faal hati.
  2. Fase Kritis, tanda-tanda kebocoran plasma sudah mulai jelas. Terjadi penurunan suhu badan (bebas demam), diikuti peningkatan hematokrit 10-20% di atas nilai normal. Dapat diusulkan foto X-Ray posis Right Lateral Decubitus (RLD) untuk melihat adanya efusi pleura. Dapat dilakukan investigasi adanya asites atau adema pada kantung empedu yang diperiksa dengan teknik ultrasonografi. Syok hipovolemik dapat terjadi pada fase ini.
  3. Fase Penyembuhan, ditandai dengan diuresis membaik dan nafsu makan kembali. Dua tanda tersebut adalah indikasi untuk menghentikan infus, dan dapat dipertimbangkan untuk KRS. Kulit memerah (Confluent petechial rash) dapat terjadi pada fase ini.
  4. Expanded Dengue Syndrome, ditambahkan dalam pedoman terbaru untuk mengakomodasi kondisi pasien dengan manifestasi klinis yang berat. Manifestasi tersebut meliputi kelainan hati, ginjal, otak dan jantung. Kelainan tersebut dapat terjadi karena adanya infeksi penyerta atau komplikasi syok yang berkepanjangan.

=
Sponsored Content

Buku Pedoman Diagnosis dan Tata Laksana Infeksi Virus Dengue pada pasien anak ini adalah pegangan tepat untuk kamu yang bergelut di Instalasi Gawat Darurat.


Jangan sampai demam diserbu pasien demam yang datang silih berganti di musim penghujan ini. Outbreak DBD sudah terjadi di belasan daerah di Indonesia lho. Ayo, siapkan lebh dini.

Pesan aja buku ini di SMS/WA 081234008737!

Expanded Dengue Syndrome dalam Praktek Klinis Sehari-Hari

Dalam beberapa kesempatan, saya menemui beberapa pasien dengan tanda-tanda perdarahan hebat namun tidak didapatkan adanya kebocoran plasma. Pasien ini didiagnosis sebagai demam dengue, namun mengalami epistaksis dan hematemesis melena yang hebat.

Pada kasus seperti ini WHO menganjurkan untuk mendiagnosis sebagai Expanded Dengue Syndrome. Pasien IVD dengan epsitaksis atau perarahan saluran cerna hebat belum tentu kasus demam berdarah, bisa saja itu adalah demam dengue (tanpa kebocoran plasma) yang mengarah ke Expanded Dengue Syndrome.

Namun, percayalah... Expanded Dengue Syndrome muncul karena kita tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi pada patogenesis IVD secara lengkap. Ada banyak "kepingan puzzle yang hilang" yang dapat menjelaskan semua fenomena yang dialami pasien IVD.

Sebuah kasus yang pernah saya temui tahun lalu, seorang pasien anak (15 tahun) datang dengan penurunan kesadaran dan kejang. Pasien durujuk dari sebuah Rumah Sakit Umum di pulau M, telah dirawat lima hari dengan suspek demam dengue. Pasien sempat mengalami demam empat hari sebelumnya, namun sekarang sudah turun. Saat datang di Instalasi Gawat Darurat pasien didiagnosis sebagai suspek encephalitis.

Selusin pemeriksaan dilakukan, mulai dari CT Scan sampai pemeriksaan PCR untuk 12 jenis virus. Singkat cerita, tim dokter spesialis terkejut karena ternyata ditemukan hasil positif untuk serologis dan PCR virus dengue. Hasil CT-Scan juga menunjukan adanya perdarahan intra-serebral. Tim dokter spesialis sepakat mendiagnosis pasien ini sebagai Expanded Dengue Syndrome. Pendakatan tatalaksana yang diaplikasikan pada pasien ini tentu berbeda dengan tatalaksana pasien dengue biasa, waktu itu digunakan manitol untuk menurunkan tekanan intra-kranial yang meiningkat. Hasilnya pasien dapat sembuh tanpa sequele.

Semoga bermanfaat.

Referensi

  1. Buku Nelson Essensial terjemahan IDAI
  2. Kumpulan Tips Pediatri
  3. Pedoman Diagnosis dan Tata Laksana Infeksi Virus Dengue Pada Anak.


Buku Joss!! SMS/WA 081234008737 untuk pemesanan