/ dokter

Pasien Ini Berhasil "Memaksa" Bu Menkes Impor Murah Obat Hepatitis C Seharga Rp. 250 Juta


Saya sangat suka dengan kisah ini karena memberikan kita, Dokter Indonesia, sebuah perspektif bahwa kegigihan akan mengalahkan tirani. Kisah ini adalah seorang pasien dengan ko-infeksi HIV dan hepatitis C. Seorang single parent yang harus berjuang bertahan hidup agar anaknya tetap bisa makan dan sekolah.

Adalah Ayu Oktariani, pasien penggagas petisi online tersebut di change.org, sebuah website petisi online. Ayu telah mengidap HIV selama 6 tahun dan telah mendapatkan akses pengobatan ARV sehingga saat ini dapat tetap produktif dan beraktivitas secara normal.

Namun, mahalnya obat untuk Hepatitis C saat itu membuat Ayu tidak bisa mendapatkan pengobatan hepatitis C yang memadai. Obat yang saat itu didistribusikan PT Roche adalah Pegylated Interferon, berharga 250 juta/pasien. Kemudian dia meluncurkan sebuah petisi online yang meminta PT Roche menurunkan harga obat tersebut. Ayu meminta Kemenkes menegosiasikan ulang harga obat PT Roche, salah satu pemegang hak paten.

Begini Isi Petisi Ayu Oktariani:

Hi, saya @ayuma_morie. Saya adalah seorang perempuan yang hidup dengan HIV dalam tubuh saya selama 4 tahun terakhir. Sebagai seorang orang tua tunggal yang memiliki seorang buah hati yang menjadi kebanggan saya, pola hidup sehat selalu saya jalankan karena saya ingin hidup lebih lama dan mengantarkan anak kesayangan saya di dalam meraih cita-citanya.

Saat ini, saya aktif melakukan kampanye penyebaran informasi HIV kepada publik melalui kampanye ODHA Berhak Sehat. Melalui media kampanye ini, setiap harinya saya berkomunikasi dengan masyarakat mengenai segala sesuatunya terkait HIV dan AIDS sehingga harapan saya masyarakat bisa terhindar dari infeksi penyakit ini dan bagi yang sudah terinfeksi HIV bisa tetap semangat dalam menjalankan hidupnya. Karena semangat adalah salah satu kunci untuk tetap sehat.

Tanggal 28 Juli, kita peringati sebagai Hari Hepatitis C Sedunia. Saat ini, Kementrian Kesehatan mengestimasikan ada sekitar 7 Juta orang terinfeksi Hepatitis C dengan kecenderungan 10-12 persen akan mengarah kepada kanker hati di Indonesia.

Saya adalah salah satu orang yang juga mengidap Hepatitis C. Bagi saya dan puluhan ribu lainnya yang hidup dengan HIV, kondisi ini bertambah buruk sebab berdasarkan penelitian, kami tahu bahwa infeksi HIV akan menyebabkan progresivitas penyakit Hepatitis C semakin memburuk dan akan membawa kami kepada kematian lebih cepat.

Saat ini, WHO telah memasukan obat jenis pegylated interferon yang merupakan komponen utama dalam pengobatan Hepatitis C kedalam list obat-obatan esensial.

Namun hal ini tetap menjadi kendala mengingat bahwa harga obat ini masih sangat mahal mencapai 2,5 juta setiap minggunya sehingga untuk total terapi membutuhkan dana lebih dari 250 juta per pasien.

Kita belajar dari pengobatan ARV bagi orang dengan HIV bahwa harga obat bisa ditekan selama ada niat baik dari perusahaan farmasi untuk kepentingan kesehatan publik. Harga ARV yang 10 tahun yang lalu sangat mahal, bisa ditekan sampai tingkat yang bisa dijangkau oleh penduduk di negara berkembang dan ini kemudian menyelamatkan jutaan nyawa termasuk di Indonesia.

Oleh karena itu, saya mempetisi PT Roche Indonesia sebagai salah satu pemegang hak paten untuk obat Hepatitis C agar menurunkan harga pengobatan ini sehingga bisa terjangkau oleh masyarakat Indonesia.

Saya mengajak semua Orang dengan HIV (ODHA), pasien dengan hepatitis C, keluarga pasien dengan Hepatitis C, dokter dan paramedis serta masyarakat semua untuk menandatangani petisi ini demi pengobatan Hepatitis C yang terjangkau bagi kita semua.

Salam,

Bu Menkes mendengar "keluhan" tersebut. Selang beberapa bulan setelah petisi online tersebut diluncurkan, Ayu Oktariani mendapat dukungan 500 orang dan mengumumkan bahwa petisi yang diuncurkan telah memperoleh KEMENANGAN. BPJS akhirnya mencantumkan Pegylated Interferon sebagai salah satu obat yang ditanggung.


=
Kisah Ayu Oktariani adalah sebuah contoh bahwa seorang awam dengan tanpa pengaruh politik sekalipun memiliki daya untuk membuat sebuah perubahan. Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin sebuah profesi se-strategis Dokter Indonesia tidak memiliki daya untuk "melindungi" dirinya sendiri dari ke-dzaliman tirani pemegang kekuasaan di negri ini.

Semoga menginspirasi. Dokter Indonesia, Berani!