/ kardiologi

Panduan Praktik Klinis Sindrom Koroner Akut: Fokus Pada Obat Gawat Darurat

Sindrom Koroner Akut (SKA) adalah spektrum klinis yang meliputi angina pektoris tidak stabil (unstable angina), infark miokard tanpa elevasi segmen ST (NSTEMI) dan infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (STEMI). Obat gawat darurat yang digunakan pada Sindrom Koroner Akut antara lain aspirin, klopidogrel, heparin, streptokinase. Selain itu juga digunakan nitrat organik, beta bloker dan analgesik narkotik (morfin).

Diagnosis Sindrom Koroner Akut

Unstable angina adalah angina pektoris dengan 1 diantara 3 kriteria:

  1. Muncul saat istirahat (atau latihan ringan), biasanya berlangsung lebih dari 10 menit
  2. Gejala berat dan baru pertama kali timbul
  3. Muncul dengan pola crescendo (lebih berat, panjang dan sering daripada sebelumnya)

Diagnosis NSTEMI/STEMI ditegakkan bila pasien dengan unstaable angina memiliki nekrosis miokard yang ditandai dengan peningkatan biomarker jantung.

Pendekaatan Triage Unstable Angina

Pada pasien unstable angina perlu dilaakukan pendekatan triage untuk menentukan apakah pasien perlu mendapatkan tindakan kegawatdaruratan, atau bisa hanya ditatalaksana secara poliklinis. Berikut pedoman triage pasien unstable angina yang dapat diaplikasikaan di Instalasi Gawat Darurat:

  1. Pada pasien, berdasar anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien menunjukkan tanda Sindrom Koroner Akut, lakukan pemeriksaan EKG (dalam 10 menit) dan biomarker jantung. Mulai berikan Morfin, Oksigen, Nitrat, Aspilet, Clopidogrel (MONACo).
  2. Pada pasien dengan hasil EKG menunjukkan elevasi segmen ST > 1 mm, maka mendukung diagnosis STEMI. Jika hasil EKG menunjukkan hasil yang lain (depresi segmen ST, peningkatan transien segmen ST atau inversi gelombang T), maka dicurigai unstable angina atau NSTEMI.
  3. Jika hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, EKG dan biomarker tidak mengarah pada diagnosis STEMI/NSTEMI, ulangi EKG dan biomarker dalam 12 jam ke depan.
  4. Jika tetap normal dan kemungkinaan kecil Sindrom Koroner Akut, cari penyebab nyeri dada lain.
  5. Jika tetap normal dan nyeri hilang, singkirkan kemungkinan infark miokard akut.
  6. Jika curiga Sindrom Koroner Akut berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, singkirkan NSTEMI dengan tes treadmill. Jika resiko rendah (usia > 70 tahun, tidak memiliki penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskuler, penyakit arteri perofer sebelumnya, tidak ada sisa angina), pasien dapat dipulangkan dalam 72 jam. Jika tidak resiko rendah, maka MRS-kan dan evaluasi iskemi (tes treadmill atau kateter).
  7. Jika EKG atau biomarker abnormal atau kemungkinan tinggi sindrom koroner akut, MRS-kan pasien dan tatalaksana sesuai infark miokard akut.

Obat Gawat Darurat Sindroma Koroner Akut

Beberapa aspek farmakologis obat gawat darurat sindroma koroner akut (aspirin, klopidogrel, nitrat, beta bloker dan morfin. Aspek dasar farmakologis perlu dikuasai dokter umum untuk bisa memberikan terapi yang adekuat bagi pasien Sindrom Koroner Akut di Instalasi Gawat Darurat.

  1. Aspirin

    - Indikasi: **Sindrom Koroner Akut** (unstable angina, infark miokard akut) dan iskemia serebri
    - Mekanisme: Menghambat Agregasi trombosit
    - Cara/dosis: Dosis awal untuk **Sindrom Koroner Akut** 160-300 mg per oral (sebaiknya dengan tablet non enteric coated dan pemberian sebaiknya dikunyah), dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 80-160 mg/hari.
    - Kontraindikasi: hipersensitif & alergi, tukak lambung, pernah atau sering mengalami perdarahan di bawah kulit. Penderita hemofilia dan trombositopenia. Penderita varicell/cacar air.
    - Perhatian: Hati-hati pada penderita gangguan fungsi hati, kehamilan, wanita menyusui, dehidrasi. Jangan digunakan pada trimester terakhir kehamilan. Hati-hati pada pasien yang mendapat antikoagulan. Hentikan penggunaan bila terjadi tinitus, gangguan pendengaran dan pusing. 
    - Efek Samping: Iritasi lambung, mual, muntah. Pemakaian lama menyebabkan perdarahan lambung, tukak lambung. Reaksi hipersensitif. Dapat terjadi trombositopenia. 
    - Interaksi Obat: Interaksi dengan alkohol akan meningkatkan resiko perdarahan lambung. Hati-hati pada penggunaan bersama antikoagulan oral karena meningkatkan resiko perdarahan. 
    - Sediaan: Tablet 80 mg, 160 mg dan 500 mg. Tersedia juga dalam bentuk tablet enterik 80 dan 160 mg. 
    
  2. Klopidogrel
    - Indikasi: Sindrom Koroner Akut (unstable angina, infark miokard akut), iskemia serebri dan trombosis vaskular perifer. Digunakan bersama-sama dengan aspirin. Pada pasien yang intoleran terhadap aspirin, dianjurkan menggunakan klopidogrel sebagai alternatif.
    - Mekanisme: Menghambat Agregasi trombosit sebagai inhibitor reseptor ADP. Clopidogrel diabsorpsi cepat di saluran cerna dan mencapai kadar puncak dalam waktu 1 jam. Efek hambatan agregasi trombosit mulai terlihat setelah 2 jam dan mencapai puncak optimal setelah 3-7 hari.
    - Cara/dosis: Untuk Sindrom Koroner Akut diberikan loading dose 300 mg, dilanjutkan 75 mg 1x1.
    - Kontraindikasi: Perdarahan patologis aktif (tukak lambung atau perdarahan intrakranial).
    - Perhatian: Pasien dengan peningkatan resiko perdarahan karena trauma, operasi atau kondisi patologis lainnya. Kerusakan ginjal, penyakit hati dengan perdarahan diatesis dan kehamilan.
    - Efek Samping: Perdarahan lambung, serebral, trombositopenia, sakit kepala, pusing, parestesia, gangguan pencernaan dan hematologis, ruam dan pruritus. Penggunaan PPI dapat mengurangi efektivitas klopidogrel, meskipun protektif terhadap lambung.
    - Interaksi Obat: Penggunaan bersama Aspirin, warfarin, trombolitik dan NSAID dapat meningkatkan resiko perdarahan.
    - Sediaan: Tablet 75 mg

  3. Nitrogliserin
    - Indikasi: Unstable Angina yang tidak dapat diatasi dengan terapi beta bloker dan nitrat sublingual. Gagal jantung kongestif yang tidak responsif yang disebabkan oleh STEMI/NSTEMI.
    - Mekanisme: Vasodilatasi pembuluh darah koroner (meningkatkan suplai oksigen) dan vasodilatasi perifer mengurangi beban preload (mengurangi konsumsi oksigen).
    - Cara/dosis: Untuk unstable angina: dosis awal 10 mcg/menit dengan peningkatan sebanyak 10 mcg/menit, dengan interval 30 menit tergantung kebutuhan. Untuk iskemia miokard (STEMI/NSTEMI): dosis awal 15-20 mcg/menit dengan peningkatan sebanyak 10-15 mcg/menit hingga tercapai efek yang diinginkan.
    - Kontraindikasi: Anemia, perdarahan serebral yang berat, hipovolemia yang tidak dapat diatasi atau hipotensi berat. Pasien dengan predisposisi glaukoma sudut tertutup.
    - Perhatian: Hipotiroidisme, hipotermia, malnutrisi, penyakit hati/ginjal berat. Perlu pengawasan ketat terhadap tekanan darah dan denyut nadi.
    - Efek Samping: Sakit kepala, mual, hipotensi, takikardia, munath, diaforesis, ketakutan, gelisah, kedutan otot, rasa tidak enak pada daerah retrosternal, palpitasi, mengantuk, nyeri abdomen dan angina paradoksal.
    - Interaksi Obat: Alkohol, sildenafil, tadalafil dan vardenafil dapat meningkatkan efek hipotensi
    - Sediaan: Ampul 10 mg/10 mL

Semoga bermanfaat

Referensi: Panduan Praktik Klinis Peanatalaksanaan PAPDI dan EIMED Basic warna Merah

=
Sponsored Content

Pemberian ISDN (Isosorbid Dinitrat) sangat sering diakukan oleh Dokter pada pasien Sindroma Koroner Akut. Padahal pada kondisi tertentu ISDN dapat memperburuk klinis pasien, misal infark pada ventrikel kanan.

Kamu bisa menentukan lokasi infark jantung dengan metode analisis vektor EKG.

Dasar-dasarnya diajarkan dr Ragil, SpJP di DVD Mahir Baca EKG (Basic)

Mau pesan? Hubungi aja CS DokterPost.com via kontakin.com/dokterpost