/ Internal Medicine

(KLINIS) Panduan Praktik Klinis Krisis Tiroid: Diagnosis Klinis Di Fasilitas Kesehatan dengan Sumberdaya Terbatas

Krisis tiroid merupakan suatu keadaan klinis hipertiroidisme yang paling berat dan mengancam jiwa. Umumnya keadaan ini timbul pada pasien dengan penyakit Graves atau struma multinodular toksik. Beberapa kondisi khusus dapat menjadi faktor pencetus krisis hipertiroid yaitu: infeksi, operasi, trauma, zat kontras beriodium, hipoglikemia, partus, stes emosi, penghentian obat anti-tiroid, ketoasidosis diabetikum, tromboemboli paru, penyakit serebrovaskular/stroke, palpasi tiroid terlalu kuat.

PENDEKATAN DIAGNOSIS KRISIS TIROID

Anamnesis

Dari hasil anamnesis didapatkan riwayat penyakit hipertiroidisme dengan gejala khas, berat badan turun, perubahan suasana hati (mood), bingung sampai tidak sadar, diare, amenorea (pada wanita).

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang cermat akan menuntun dokter pada gejala dan tanda khas hipertiroidisme, karena penyakit Graves atau penyakit lain. Penurunan kesadaran (delirium dan koma) bisa didapatkan pada bebera kasus. Pengukuran suhu tubuh aksila bahkan bisa mencapai demam tinggi sampai 40ÂșC. Takikardia sampai 130-200 x/menit. Periksa apakah telah terjadi gagal jantung kongestif. Krisis tiroid sering menginduksi diare hebat pada pasien.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan kadar TSH dan hormon tiroksin adalah pemeriksaan yang penting untuk mendiagnosis krisis tiroid. Kadar TSH serum dapat sangat rendah, dengan kadar fT4/T3 tinggi. Masalah muncul di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas.

Pada fasilitas kesehatan dengan sumberdaya terbatas, pemeriksaan kadar hormon tiroksin atau TSH seringkali tidak tersedia. Dalam kondisi seperti ini, diagnosis klinis dokter menjadi sangat penting untuk mengarahkan diagnosis yang tepat.

Pemeriksaan darah sederhana dapat mendeteksi anemia normositik normokromik, dengan limfositosis yang relatif tinggi. Pemeriksaan kadar gula darah sering didapatkan hasil hiperglikemia. Pemeriksaan SGOT dan SGPT pada pasien krisis tiroid sering kali menunjukkan peningkatan enzim transaminase hati yang disertai hiperbillirubinemia dan azotemia prerenal.

Pemeriksaan EKG pada pasien krisis tiroid bermanfaat untuk mengkonfirmasi gangguan jantung, berupa sinus takikardia atau fibrilasi atrial dengan respons ventrikular cepat.

DIAGNOSIS KLINIS KRISIS TIROID DI FASILITAS KESEHATAN DENGAN SUMBER DAYA TERBATAS

Seperti telah dijelaskan bahwa diagnosis krisis tiroid di fasilitas kesehatan dengan sumberdaya terbatas sering terkendala keterbatasan pemeriksaan hormon tiroksin. Menyiasati hal tersebut, kita dapat menggunakan tabel skor indeks klinis krisis tiroid.

Riwayat penyakit terkait hipertiroidisme (Grave's disease atau struma multinodullar toksik) akan sangat membantu untuk mengarahkan diagnosis. Pada pasien dengan kecurigaan krisis tiroid, cari faktor pencetus yang mungkin menginduksi terjadinya "badai tiroid".

Beberapa karakteristik klinis khusus yang menguatkan kecurigaan pasien mengalami krisis tiroid adalah demam tinggi, takikardia, mual-muntah, agitasi dan perubahan status mental. Pada pasien dengan kecurigaan krisis tiroid, lakukan assessment dengan tabel Burch-Wartosky untuk menghitung skor indeks klinis krisis tiroid.

Tabel tersebut terdiri dari 5 dimensi dominan gejala krisisi tiroid: disfungsi pengaturan panas tubuh, disfungsi sistem kardiovaskular, efek pada susunan saraf pusat, gagal jantung dan disfungsi gastroenterohepatologi. Lakukan assessmen dengan mengisi seriap dimensi yang ada, hitung skor dan tentukan assessment.

Jika nilainya > 45 maka kemungkinan besar pasien menderita krisis troid. Segera persiapkan rujukan ke dokter spesialis penyakit dalan (Sp.PD) terdekat. Jangan lupa stabilisasi kondisi vital pasien sebelum dirujuk. Jika nilai indeks 25-44 maka pasien memiliki kecenderungan menderita krisis tiroid, persiapkan rujukan seperti di atas.

Jika nilainya < 25 maka kemungkinan kecil pasien menderita krisis hipertiroid. Pertimbangkan kemungkinan diagnosis yang lain. Jangan ragu untuk melakukan rujukan jika muncul kekhawatiran apapun ketika mengelola pasien dengan kecurigaan krisis tiroid. Dengan pengobatan yang adekuat saja, angka mortalitas krisis tiroid mencapai 10-15%. Tentu, dengan sumberdaya terbatas, angka mortalitas dapat semakin tinggi.


Tabel skor indeks klinis krisis tiroid (Burch-Wartosky, 1993)

TATALAKSANA KRISIS TIROID

Tatalaksana krisis tiroid adalah kompetensi dokter spesialis. Namun, dokter umum diharapkan dapat menangani kegawatdaruratan secara suportif (stabilisasi tanda vital) dan melakukan rujukan dengan baik dan benar.

  1. Perawatan suportif:
    • Kompres dingin, antipiretik (asetaminofen)
    • Memperbaiki gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit: infus dekstrosa 5% dan NaCl 0,9%
    • Mengatasi gagal jantung: O2, diuretik, digitalis
  2. Antagonis aktivitas hormon tiroid:
    • Blokade produksi hormon tiroid: PTU dosis 300 mg tiap 4-6 jam PO
    • Alternatif: Metimazol 20-30 mg tiap 4 jam PO. Pada keadaan sangat berat, dapat diberikan melalui pipa nasogastrik (NGT)
    • PTU 600-1000 mg atau metimazol 60-100 mg
    • Blokade ekskresi hormon tiroid: Solutio Lugol (saturated solution of potassium iodida) 8 tetes tiap 6 jam
    • Penyekat beta: Propanolol 60-80 mg tiap 6 jam PO atau 1-5 mg tiap 6 jam intravena, dosis disesuaikan respons (target: frekuensi jantung < 90 x/menit)
    • Glukokortikoid: Hidrokotison 100-500 mg IV tiap 12 jam; Deksametason 2 mg tiap 6 jam
    • Bila refrakter terhadap terapi di atas: plasmaferesis, dialisis peritoneal.
  3. Pengobatan terhadap faktor presipitasi: antibiotik spektrum luas, dll

SEMOGA BERMANFAAT^^


=
Sponsored Content

Aspek klinis diagnosis dan terapi Krisis Tiroid dapat kamu baca lebih lanjut di Buku Proceeding Jakarta Endocrine Meeting 2017: All About Thyroid: From A to Z