Panduan Praktik Klinis Bayi Kuning: Kompetensi Seorang Dokter Umum

Image Description
Admin Dokter post
Feb 12, 2016
img description

Bayi berusia 2 minggu biasanya akan dibawa untuk kunjungan pertama ke dokter. Kunjungan pertama setelah lahir ini merupakan saat yang tepat bagi dokter untuk memeriksa apakah bayi tersebut kuning. Perhatian dokter harus lebih teliti ketika ibu pasien mengeluhkan bayi kuning. Beberapa kali dokter dapat luput mengenali gejala bayi kuning karena terlalu fokus pada pemeriksaan sklera mata.

Seperti kita ketahui, bahwa pemeriksaan sklera pada bayi sangat sulit karena bayi sering menutup mata pada saat diperiksa. Area sklera yang dapat terlihat relatif kecil, sehingga sulit menilai apakah sklera bayi kuning atau tidak. Cara yang lebih mudah adalah dilakukan pemeriksaan kulit.

Kulit yang diregangkan di bawah penerangan yang baik, realatif lebih mudah untuk membedakan bayi kuning atau tidak. Bila bayi terlihat kuning pada usia 2 minggu atau lebih, bayi perlu diperiksa bilirubin (direct dan indirect) untuk menentukan apakah bayi mengalami kolestasis. Kolestasis pada bayi selalu memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Evaluasi Diagnosis Kolestasis

Kolestasis pada bayi dapat disebabkan oleh banyak hal. Namun, setidaknya ada 6 penyebab paling sering kolestasis pada bayi, yaitu:

  1. Atresia Bilier
  2. Hepatitis Neonatal Idiopatik
  3. Intrahepatic Cholestasis Syndrome
  4. Infeksi (sepsis, Infeksi Saluran Kencing, TORCH)
  5. Hipotiroid
  6. Kista Duktus Koledokus

Untuk menegakkan diagnosis penyebab kolestasis diperlukan strategi agar efektif dan efisien. Beberapa tips sederhana untuk mengevaluasi diagnosis kolestasis adalah

  1. Tentukan apakah benar bayi mengalami kolestasis.
    Caranya mudah, yaitu dengan memeriksa kadar bilirubin total dan direct bilirubin. Kolestasis secara sederhana dapat ditegakkan bila kadar direct bilirubin > 20% kadar bilirubin total. Misalnya, bayi dikatakan kolestasis bila kadar bilirubin total didapatkan kurang dari 5 mg/dL dan kadar direct bilirubin lebih dari 1 mg/dL. Bila bayi kuning tidak memenuhi kriteria di atas, maka dapat disebut bahwa bayi tersebut mengalami unconjugated hypervilirubinemia.
  2. Singkirkan Kemungkinan Atresia Bilier.
    Bayi dengan atresia bilier perlu didiagnosis segera agar tindakan bedah dapat dilakukan secepat mungkin. Bayi yang menjalani prosedur bedah (kasai) sebelum usia 60 hari akan memberikan keberhasilan mengalirkan empedu pada lebih dari 80% kasus. Sedangkan, bayi yang baru menjalani prosedur bedah (kasai) setelah 90 hari, angka keberhasilan tidak lebih dari 20% kasus. Aspek penting untuk membedakan apakah seorang bayi menderita atresia bilier adalah dilakukan pemeriksaan tinja, apakah tinja pucat seperti dempul? Jika jawabannya ya maka bayi perlu dirujuk ke spesialis anak konsultan gastroenterohepatologi untuk menjalani pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis atresia bilier (USG Hati, GGT > 250 U/L dsb).
  3. Cari Penyebab Kolestasis yang Mudah
    Jika kemungkinan atresia bilier sudah disingkirkan, maka langkah selanjutnya adalah mencari peneyebab yang mudah diketahui dan diterapi. Bila ada kecurigaan sepsis, usulkan pemeriksaan darah lengkap, CRP, prokalsitonin dan kultur darah. Jika bukan sepsis, usulkan pemeriksaan urin lengkap dan kultur urin untuk menyelidiki penyebab Infeksi Saluran Kencing (ISK). Bayi kolestasis juga perlu menjalani skrining hipotoroid. Usulkan pemeriksaan TSHs dan FT4). Rujuk bayi dengan kolestasis ke dokter spesialis anak agar mendapatkan tatalaksana yang adekuat.

Sejawat, satu menit tindakan kita akan sangat menentukan masa depan pasien. Sering saya mendapat cerita tentang "dukun bayi" yang terus menerus menganjurkan menjemur di bawah sinar matahari bayi jika bayi masih saja kuning setelah beberapa minggu usia kehidupan. Jika bayi kuning mendapat penanganan lebih dini karena ketelitian dan perhatian sejawat, itulah satu kaki anda ada di surga.

Semoga beranfaat.


=
Sponsored Content

Sejawat, bayi baru lahir (neonatus) adalah pasien yang sangat rentan untuk mengalami banyak gangguan kesehatan. Memiliki pengetahuan yang cukup untuk melakukan resusitasi pada neonatus akan memberikan nilai plus bagi anda.

Buku resusitasi neonatus ini tidak hanya menyajikan informasi penting tentang seluk beluk kegawatdaruratan pada neonatus, tetapi juga berisi bagaimana mengelola NICU yang baik dan aman untuk pasien.

Yuk, pesan segera buku RESUSITASI NEONATUS dengan SMS/WA 081234008737

Related articles

  • Mar 02, 2016
Tips dan Trik Membaca Hasil Pemeriksaan Fungsi Tiroid pada Pasien Anak

Kelainan fungsi tiroid pada neonatus merupakan kasus neonatologi yang cukup sering. Skrining...

  • Feb 19, 2016
Evaluasi Murmur pada Pemeriksaan Auskultasi Jantung

Auskulitasi jantung adalah pemeriksaan yang sangat penting dalam praktek kedokteran sehari-hari....

  • Feb 18, 2016
5 Gejala Klinis Tidak Lazim Infeksi Virus Dengue yang Dokter Umum Harus Tahu

Outbreak infeksi virus dengue masih terus berlanjut di beberapa kota di Indonesia. Kematian...