/ Internal Medicine

Dehidrasi Pada Pasien Lanjut Usia: Panduan Praktik Klinik

Dehidrasi pada pasien lanjut usia adalah kasus sulit yang sering berakibat fatal. Beberapa kondisi sulit yang sering muncul adalah overload pada rehidrasi pasien lanjut usia dan kondisi dehidrasi yang tidak terdeteksi. Panduan praktik klinik ini ditulis dengan adaptasi dari Buku Panduan Praktik Klinik PAPDI.

Dehidrasi adalah berkurangnya cairan tubuh total, dapat berupa hilangnya air lebih banyak dari natrium (dehidrasi hipertonik), atau hilangnya air dan natrium dalam jumlah yang sama (dehidrasi isotonik), atau hilangnya natrium yang lebih banyak daripada air (dehidrasi hipotonik).

Mengetahui jenis dehidrasi penting dalam menentukan strategi terapi rehidrasi pasien lanjut usia. Pada pasien lanjut usia pada umumnya terjadi penurunan kemampuan homeostatik seiring dengan bertambahnya usia. Secara khusus, terjadi penurunan respon rasa haus terhadap kondisi hipovolemik dan hiperosmolaritas.

Disamping itu juga terjadi penurunan laju infiltrasi glomerolus, kemampuan fungsi konsentrasi ginjal, renin, aldosteron, dan penurunan tanggapan ginjal terhadap vasopresin.

Diagnosis Dehidrasi Pada Pasien Usia Lanjut

Anamnesis dilakukan dengan mengajukan berbagai pertanyaan untuk mengidentifikasi berbagai gejala klasik dehidrasi seperti rasa haus, lidah kering, mengantuk dan sebagaianya.

Pemeriksaan fisik pada pasien lanjut usia dengan dehidrasi dilakukan untuk mengkonfirmasi gejala yang dapat muncul, yaitu:

  1. Aksila lembab/basah
  2. Suhu tubuh meningkat dari suhu basal
  3. Diuresis berkurang
  4. Penurunan turgor dan mata cekung sering tidak jelas
  5. Penurunan berat badan akut lebih dari 3%
  6. Hipotensi Ortostatik

Pemeriksaan Laboratorium dilakukan untuk mengetahui jenis dehidrasi dan menentukan strategi terapi selanjutnya.

Pemeriksaan serum elektrolit (Natrium, Kalium dan Klorida) dilakukan untuk mengetahui kadar natrium dan osmolalitas serum. Dehidrasi hipertonik ditandai dengan tingginya kadar natrium serum (> 145 mmol/liter) dan peningkatan osmolalitas efektif serum (> 285 mosmol/liter). Dehidrasi isotonik ditandai dengan normalnya kadar natrium serum (135-145 mmol/Liter) dan osmolalitas efektif serum (270-285 mosmol/Liter). Dehidrasi hipotonik ditandai dengan rendahnya kadar natrium serum (< 135 mmol/liter) dan penurunan osmolalitas efektif serum (< 270 mosmol/liter).

Pemeriksaan laboratorium spesimen urin dilakukan untuk mengetahui berat jenis urin pasien dehidrasi yaitu lebih besar atau sama dengan 1,019 (tanpa adanya glukosuria dan proteinuria). Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan Blood Urea Nitrogen (BUN) dan Serum Kreatinin (SK). Rasio BUN/SK pada pasien lanjut usia dengan dehidrasi lebih besar atau sama dengan 16,9 (tanpa adanya perdarahan aktif saluran cerna).

Dua kriteria tersebut dapat dipakai dengan syarat: tidak menggunakan obat-obat sitostatik, tidak ada perdarahan saluran cerna, dan tidak ada kondisi overload (gagal jantung kongestif, sirosis hepatis dengan hipertensi portal, penyakit ginjal kronik stadium terminal dan sindroma nefrotik). Pengukuran tekanan vena sentral lebih baik dilakukan bila memungkinkan.

Terapi Rehidrasi pada Pasien Lanjut Usia

Pengukuran keseimbangan cairan yang masuk dan keluar dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan. Pada rehidrasi ringan, terapi cairan dapat diberikan secara oral sebanyak 1500-2500 mL/24 jam (30 mL/kgBB tiap 24 jam) untuk kebutuhan dasar. Ditambah dengan penggantian defisit cairan dan kehilangan cairan yang masih berlangsung.

Menghitung kebutuhan cairan sehari, termasuk jumlah insensible water loss sangat perlu dilakukan setiap hari. Perhatikan tanda-tanda kelebihan cairan seperti ortopnea, sesak nafas, perubahan pola tidur, atau confusion. Pemantauan dilakukan setiap 4-8 jam tergantung beratnya dehidrasi. Cairan yang diberikan secara oral tergantung jenis dehidrasi.

Pada dehidrasi hipertonik, cairan yang dianjurkan adalah air atau minuman denga kandungan natrium rendah, jus buah (apel, jeruk dan anggur). Pada dehidrasi isotonik, cairan yang dianjuran selain air dan suplemen yang mengandung natrium (jus tomat), juga dapat diberikan larutan isotonik yang ada di pasaran. Pada dehidrasi hipotonik, cairan yang dianjurkan seperti di atas tetapi dibutuhkan kadar natrium yang lebih tinggi.

Pada dehidrasi sedang sampai berat dan pasien tidak dapat minum per oral, selain pemberian cairan enteral, dapat diberikan rehidrasi parenteral. Jika cairan tubuh yang hilang terutama adalah air, maka jumlah cairan rehidrasi yang dibutuhkan dapat dihitung dengan rumus:

Jenis cairan kristaloid yang digunakan untuk rehidrasi tergantung dari jenis dehidrasinya. Pada dehidrasi isotonik dapat diberikan cairan NaCl 0,9% atau Dekstrosa 5% dengan volume sebanyak 25-30% dari defisit cairan total per hari. Pada dehidrasi hipertonik digunakan cairan NaCl 0,45%. Dehidrasi hipotonik diterapi dengan mengatasi penyebab yang mendasari, penambahan diet natrium dan bila perlu pemeberian cairan hipertonik.

Komplikasi yang patut diwaspadai adalah gagal ginjal, sindroma delirium akut dan kejang. Prognosis dehidrasi pada pasien lanjut usia pada dasarnya memiliki prognosis kesembuhan yang baik bila terdeteksi dini dan diterapi segera. Bila tidak ada komplikasi maka keseimbangan cairan akan lebih mudah terkoreksi.

====

Sponsored

Rilis September 2015, Buku Panduan Praktik Klink dan Clinical Pathway PAPDI sudah jadi Most Wanted Book yang banyak dicari oleh dokter di seluruh Indonesia.

Kemarin kita juga survey di Gramedia dan Toga Mas juga masih kosong. Jangan heran kalo stok sering habis di toko buku :D

Daripada nunggu di toko buku. Mending langsung aja....

PESAN SEKARANG JUGA via Dokter Post!!!

Caranya: Inbox aja ke FP Dokter Post sekarang juga
atau SMS/WA 081234008737

Ditunggu ya sejawat ordernya. :)