/ Internal Medicine

Panduan Praktik Klinik dan Clinical Pathway Pneumonia Nosokomial


Pneumonia nosokomial adalah penyakit yang cukup sering ditemui dalam praktik klinik di Rumah Sakit. Jumlah kejadian setiap tahun diperkirakan mencapai 5-10 pasien/1000 kasus rawat inap. Di Amerika Serikat, pneumonia nosokomial menempati urutan kedua penyakit nosokomial dengan jumlah kejadian terbanyak.

Belum ada data pasti angka kejadian pneumonia nosokomial di Indonesia. Namun, angka mortalitas yang masih sangat tinggi (33-50%) membuat pneumonia nosokomial masih harus menjadi perhatian besar dokter di Indonesia. Panduan praktik klinik dan Clinical Pathway dibutuhkan untuk memberikan gambaran penatalaksanaan yang tepat.

Panduan Praktik Klinik Pneumonia Nosokomial

Definisi Pneumonia Nosokomial

Pneumonia noskomial adalah pneumonia yang didapat di rumah sakit (Hospital acquired Pneumonia). Pneumonia nosokomial muncul setelah 48 jam menjalani perawatan di Rumah Sakit (tanpa intubasi saat admision). Pneumonia nosokomial dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu onset dini dan onset lambat.

Pneumonia nosokomial dikategorikan sebagai onset dini bila sudah muncul 4-5 hari setelah masuk Rumah Sakit. Bila pasien menderita pneumonia nosokomial >5 hari setelah dirawat di Rumah Sakit maka dikategorikan sebagai onset lambat.

Diagnosis Pneumonia Nosokomial

Anamnesis

Anamnesis yang mengarah pada dugaan pneumonia nosokomial kurang begitu spesifik. Gambaran klinik pneumonia nosokomial tidak begitu jelas dan tidak bisa dijadikan kriteria diagnosis pneumonia nosokomial. Pada anamnesis sering ditemukan pasien dalam kondisi demam atau sputum (dahak) yang purulen.

Pemeriksaan Fisik Pneumonia Nosokomial

Dalam pemeriksaan fisik pasien pneumonia nosokomial dapat ditemukan peningkatan suhu tubuh mencapai > 38,3 C. Pemeriksaan paru dapat ditemukan tanda-tanda konsolidasi paru seperti perkusi yang pekak.

Pemeriksaan Penunjang Pneumonia Nosokomial

Beberapa pemeriksaan penunjang direkomendasikan untuk menegakkan diagnosis pneumonia nosokomial:

  1. Pemeriksaan Darah Lengkap: Leukositosis sering ditemukan > 10.000/mm3. Namun, kondisi leukopenia juga tidak jarang ditemukan.
  2. Pemeriksaan rontgen thorax dianjurkan untuk mencari tanda infiltrat alveolar
  3. Brobnchoalveolar lavage dilakukan dengan salah satu tujuannya untuk mengambil spesimen yang akan dilakukan pemeriksaan mikrobiologis.
  4. Kultur Darah dilakukan selain untuk menegakkan diagnosis juga bermanfaat dalam memberikan panduan pemberian antibiotik definitif sebagai terapi.

Diagnosis Banding Pneumonia Nosokomial

Beberapa diagnosis banding pneumonia nosokomial yang perlu dipertimbangkan adalah PPOK eksaserbasi, tromboemboli paru, perdarahan paru dan acute respiratory distress syndrome (ARDS).

Tatalaksana Pneumonia Nosokomial

Pneumonia nosokomial memiliki angka mortalitas yang cukup tinggi (33-50%) sehingga sering membutuhkan perawatan intensif. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penatalaksanaan pneumonia nosokomial adalah:

  1. Suplementasi Oksigen jika perlu
  2. Terapi cairan yang adekuat
  3. Jika didapatkan nyeri pleuritik dapat diberikan analgetik: diklofenak 3 x 80 mg
  4. Terapi antibiotik spektrum luas yang diberikan selama 8 hari atau sampai diketahui antibiotik spesifik dari hasil kultur darah.
  5. Tidak ada kriteria khusus untuk mengubah terapi antibiotik intravena menjadi terapi per oral. Keputusan cara pemberian antibiotik disesuaikan dengan kondisi perbaikan pasien yang diobservasi setiap hari.
  6. Pada pasien yang imunokompromais, terutama yang neutropenia, disarankan untuk diberikan profilaksis anti-jamur.

Pada pasien onset dini dan tidak ada faktor resiko Multidrug Resistant (MDR) maka antibiotik yang direkomendasikan adalah

Pada pasien onset lambat dengan didapatkan faktor resiko MDR. maka antibiotik yang direkomendasikan adalah kombinasi terapi antibiotik:

Komplikasi yang paling sering didapatkan pada pneumonia nosokomial adalah syok sepsis. Pada pasien pneumonia nosokomial yang telah mengalami syok sepsis perlu mendapatkan penatalaksanaan sesuai denngan Early Goal Directed Therapy (EGDT).

Clinical Pathway Pneumonia Nosokomial

Lama perawatan Pneumonia Nosokomial diharapkan (expected lenght of stay) tidak lebih dari 10 hari. Beberapa aspek alur perawatan klinis pneumonia nosokomial dibagi menjadi aspek penilaian awal, pemeriksaan penunjang, medikasi, diet, edukasi, rujukan, outcome klinis dan rencana perawatan. Perencanaan alur perawatan klinis dibagi menjadi hari pertama, hari ke 2-9 dan hari ke-10.

Hari Pertama

  1. Penilaian Awal:
    Diperiksa tanda-tanda vital dan Pemeriksaan fisik lengkap dengan fokus pada pemeriksaan paru.
  2. Pemeriksaan Penunjang:
    Diusulkan pemeriksaan saturasi oksigen, Pemeriksaan darah lengkap (fokuskan perhatian pada hasil leukositosis dan Laju Endap Darah), Analisis Gas Darah. Rontgen thoraks, pemeriksaan sputum (gram dan kultur), kultur darah.
  3. Medikasi:
    Antibiotik empiris spektrum luas diberikan secara intravena sambil menunggu kultur dan uji resistensi, drainase perkutan/bronkoskopi (sesuai indikasi), dan Fisioterapi dada (latihan pernafasan, latihan batuk, perkusi dada dan drainase postural).
  4. Diet:
    Diet biasa, jalur diet (per oral/NGT/parenteral sesuai kondisi pasien).
  5. Penyuluhan:
    Edukasi kepada pasien dan keluarga pasien mengenai perawatan pasien
  6. Rujukan:
    Menginformasikan pasien dan keluarga jika keadaan memburuk, memerlukan perawatan di ICU
  7. Outcome Klinis:
    Diharapkan sistem pernafasan berfungsi baik dan oksigenasi jaringan baik
  8. Rencana Perawatan:
    Rawat Inap

Sejawat, anda merasa artikel ini bermanfaat? Share ya!

Jika hari ini mencapai 100 share, maka saya akan menulis clinical pathway Pneumonia Nosokomial dari hari pertama hingga hari ke-10 pada artikel selanjutnya.

Semoga bermanfaat.