Selamat Jalan Sang Pahlawan Kesehatan


Tanggal 10 November 2015 presiden Jokowi hadir ke Surabaya untuk merayakan hari pahlawan di Tugu Pahlawan. Satu hari sebelum Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang jatuh pada 12 November 2015, seorang "pahlawan kesehatan" gugur dalam tugas mulia memeratakan "program kesehatan murah Indonesia", program internship dokter Indonesia. Pahlawan itu bernama dr. Dionisus Giri Samudra.

Martir atau Pahlawan Kesehatan?

Di era perang kemerdekaan, ada istilah yang cukup erat namun memiliki konotasi yang bertolak belakang: Martir dan Pahlawan. Martir adalah istilah yunani yang berarti "saksi". Dalam istilah arab, martir sering diungkapkan dengan kata syahid. Martir adalah seseorang yang berani berjuang hingga mati membela suatu ideologi yang dipercayainya (Tuhan, Agama, Organisasi, Negara dsb).

Sedangkan, Pahlawan adalah istilah yang berasal dari bahasa Persia Pahalwan. Pahlawan sangat identik dengan keberanian, pengorbanan dan "heroisme" dalam membela idealisme yang diperjuangkan. Pahlawan identik dengan tindakan pengorbanan yang tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri diatas kepentingan orang banyak.

Dalam kasus dokter-dokter Internship, saya sedikit bingung. Apakah kita sedang mengirimkan pahlawan-pahlawan untuk memperjuangkan keadilan sosial dalam bidang kesehatan. Atau, jangan-jangan kita sedang mengirimkan martir-martir siap mati yang siap "berkorban" untuk menyukseskan program kementrian kesehatan dengan cost efficiency setinggi mungkin, meski terkadang mengabaikkan cost-effectiveness.

Cacat UU Dikdok Kita

Gugurnya dr. Dionisus Giri Samudra adalah puncak gunung es, kecacatan sistemik Undang-Undang Pendidikan Dokter (UU Dikdok) kita. Di masa depan, sudah menanti banyak kecacatan yang termanifestasi dalam luaran program pendidikan kedokteran.

Indonesia ini aneh, "dibesarkan" dalam sistem pendidikan Belanda, termasuk sistem pendidikan Kedokteran, selama ratusan tahun, namun dalam perkembangannya lebih banyak mengembangkan sistem pedidikan kedokteran yang berkiblat pada Amerika Serikat, Bapak Kapitalisme Dunia. Akibatnya sitem yang terbangun adalah sistem gado-gado yang kurang lezat rasanya.

Di Belanda, sistem pendidikan dokter adalah sistem pendidikan kedokteran yang manusiawi. Ujian masuk pendidikan dokter di Belanda tidak berdasarkan hasil nilai ujian semata, bahkan tidak berhubungan dengan besar sumbangan orang tua. Sebagian besar dari mereka terpilih menjadi [dokter](http://dokterpost.com/ karena lotre. Ya, lotre!

Program internship di Belanda tidak mempekerjakan dokter dengan gaji rendah untuk menekan pengeluaran kesehatan. Program internship di Belanda, ditempuh untuk mempertajam skill spesialistik seorang dokter umum. Program internship di Belanda direncanakan dengan detail, diimplementasikan dengan serius dan dievaluasi dengan cermat. Sangat berbeda dengan program internship di indonesia yang masih akrab dengan penundaan keberangkatan, pembayaran honor yang terlambat, sampai bimbingan akademik yang kurang memadai di wahana.

Berita duka dari Kepulauan Aru adalah peringatan dari Tuhan. Jika kita tidak segera berbenah, ada banyak "tumbal" yang mati berguguran sia-sia. Setidaknya, ketika seorang dokter gugur dalam pengabdian, kita sudah kehilangan Milyaran rupiah dana yang diinvestasikan untuk membangun satu orang Sumber Daya Unggul.

Belum selesai masalah dokter internship, kita sudah akan dipusingkan dengan Dokter Layanan Primer (DLP). DLP adalah "inovasi absurd" yang sayangnya sudah terlanjur "dilegitimasi" dalam UU DIKDOK. Entah kegaduhan dan nestapa apalagi yang ingin dilahirkan elit politik bangsa kita.

Sistem Pendidikan Kedokteran dan Cerita Pasta Setengah Jadi

Mendengar berbagai kesemrawutan sistem pendidikan kedokteran kita, saya teringat "kisah pasta setengah-setengah".

Bayangkan begini. Pada sebuah malam yang dingin diguyur hujan, perut sejawat tiba-tiba kruwes-kruwes minta diisi. Tak ada pilihan lain, hal paling gampang dilakukan adalah: mengambil sayur dari kulkas, memotongnya jadi dua atau tiga bagian, lalu membuka satu atau dua bungkus mie rebus favorit. Ya, mie rebus adalah penawar udara dingin yang mantab.

Lha kok, sebelum mie rebusnya matang, tiba-tiba selera sejawat berubah, ingin mie goreng dengan taburan bawang yang kriuk di atasnya. Namun karena sejawat malas membuang waktu lebih lama untuk memasak ulang, hasilnya mie rebus yang sudah matang beserta bumbunya itu kemudian dipaksa menjadi mie goreng dengan cara yang paling gampang: dibuang kuahnya!

Tapi bukankah bumbunya tetap mie rebus? Lalu bagaimana rasanya? Tentu saja keasinan, Damn! Ya sudah, mau bagaimana lagi, sudah lapar tingkat emergensi?

Lha da lah… belum ada seperempat piring mie goreng gadungan itu habis, selera sejawat kemudian berubah kembali dengan signifikan. Imajinasi sejawat kini membayangkan seporsi spaghetti dengan luluran saus bolognaise. Maknyuss!

Membuang tiga perempat mie yang masih mengepul dan berselimutkan bawang goreng, lalu menyalakan kembali kompor untuk masak spaghetti, tentu bukan pilihan praktis. Hasilnya, mie rebus yang telah didandani menjadi mie goreng tadi kini berlumuran saus bolognaise.

Celakanya, meski telah tiga kali melakukan perubahan mie yang dipandu oleh nafsu kuliner tadi, pada akhirnya sejawat tidak jadi meneruskan makan. Apa lacur, mie yang Anda buat itu kini rasanya jadi tidak karuan. Bahkan tambahan ayam bakar sisa tadi sore, serta beberapa butir bakso yang empuk, tidak juga menggugah selera. Dan sekarang sejawat hanya mampu terduduk di dapur dengan lapar yang makin hebat dan mulut yang mecucu sembari bersungut-sungut:

“Jiiiaaashiiiik!”

Seandainya saja, ya, seandainya saja pikiran sejawat tak mudah terbius imajinasi yang serakah tadi, mungkin kini sejawat masih menikmati semangkuk mie rebus dengan potongan sayur sawi dan butiran bakso yang menggugah selera. Demikian penyesalan Anda.

=
Begitulah sistem pendidikan kedokteran kita. Semangat berinovasi memang tinggi, namun tidak diberengi dengan kedisiplinan eksekusi. Belum selesai satu program sudah menerapkan program lain. Belum selesai internship sudah menggembar-gemborkan Dokter Layanan Primer. Dan pada akhirnya, tetap dokter di garda depan yang kena getahnya.

Selamat Hari Pahlawan,
Selamat Hari Kesehatan,
Selamat Jalan sang Pahlawan Kesehatan