/ pediatri

Merawat Pasien Anak Dengan Infeksi Virus Dengue, Hati-Hati Intoksikasi Paracetamol Intravena

Wabah demam berdarah dengue memberikan sebuah peningkatan beban kerja bagi tenaga kesehatan, terutama dokter. Beban kerja yang terlampau banyak berpotensi mengakibatkan medical error terjadi. Salah satunya adalah kesalahan pemberian dosis obat.

Pasien anak yang terinfeksi virus dengue akan menunjukkan gejala demam tinggi pada beberapa hari pertama. Salah satu obat yang paling sering kita gunakan untuk mengatasi demam pada anak adalah paracetamol.

Saat ini ada beberapa jenis sediaan paracetamol yang beredar di pasaran. Yang patut diwaspadai dalam pemberian obat anti-piretik pada pasien demam adalah paracetamol intravena. Kesalahan dosis sering terjadi karena dosis diberikan dalam mL untuk dosis mg. Sehingga dalam penulisan resep paracetamol intravena sebaiknya selalu ditulis dalam satuan mL dan mg untuk menghindari kesalahan dosis.

Keracunan Paracetamol

Paracetamol (asetaminofen) adalah obat analgesik non-narkotik dan antipiretik yang paling banyak diresepkan. Paracetamol dimetabolisme di hepar dan menghasilkan senyawa yang bersifat hepatotoksik. Ada beberapa sediaan paracetamol yang beredar di pasar, di antaranya paracetamol oral yang paling populer dan paracetamol intravena yang belum terlalu populer di Indonesia.

Paracetamol intravena memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan paracetamol per oral dan per rektum. Mekanisme aksi paracetamol intravena sangat cepat (5-10 menit) bila dibanding paracetamol per oral (80 menit) dan paracetamol per rektum (60-120 menit). Kecepatan kerja obat ini lah yang menjadi alasan banyak klinisi (terutama di negara maju) memilih paracetamol intravena. Waktu paruh paracetamol umumnya berkisar antara 1-4 jam.

Paracetamol intravena pertama kali digunakan di Perancis pada tahun 2001 dan di USA tahun 2010. Over dosis dalam penggunaan paracetamol intravena banyak terjadi karena kesalahan penghitungan dosis dalam miligram tetapi pemberian obat dalam mililiter sehingga angka kejadian overdosis meningkat 10 kali lipat.

Pasien overdosis paracetamol perlu mendapatkan rawat inap, meskipun angka kejadian gagal hati akut dan kematian pada anak jarang ditemukan. Nomogram Rummack-Matthew digunakan di negara maju untuk memantau pemberian paracetamol intravena dalam upaya mencegah resiko intoksikasi. Namun, tool ini masih belum dapat diaplikasikan di Indonesia karena keterbatasan sarana dan prasarana.

Gejala Keracunan Paracetamol

Manifestasi klinis intoksikasi paracetamol dibagi menjadi 4 stadium

  1. Stadium 1 (24 jam pertama). Gejala yang muncul adalah mual, muntah, malaise, letargis, diaforesis, pemeriksaan laboratorium AST/ALT normal.
  2. Stadium 2 (24-48 jam) dengan gejala sistem pencernaan membaik, namun terjadi peningkatan AST dan ALT subklinis. Pada kasus berat timbul gejala nyeri perut kanan atas, hepatomegali, ikterus, pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan kadar bilirubin dan waktu protombin. Terjadi pula gangguan faal ginjal berupa oliguria dan peningkatan kreatinin.
  3. Stadium 3 (72-96 jam). Gejala yang tampak adalah mual dan muntah muncul kembali, dengan puncak gangguan faal hati, ikterus, ensefalopati dan gangguan faal koagulasi. Bisa terjadi gagal ginjal akut (10-50%) dan pankreatitis akut (0.3-0.5%). Kematian dapat terjadi pada stadium ini karena gagal multi-organ.
  4. Stadium 4 (96 jam-2 minggu). Stadium penyembuhan yang terjadi 1-2 minggu. Perbaikan klinis terjadi dengan perkembangan dari hari ke hari, namun perbaikan histopatologi hepar masih berjalan 3 bulan. Belum ada laporan hepatitis kronik pada pasien yang sampai pada stadium 4.

Terapi Keracunan Parasematol

N-Asetilsitein (NAC) adalah antidotum pilihan kasus intoksikasi paracetamol. Mekanisme kerjanya adalah memberikan pasokan sistein bagi hepar sehingga hepar dapat "memproduksi" cukup glutation untuk "mendetoksifikasi" senyawa hepatotoksik di hepar.

NAC dapat diberikan per oral maupun intravena, pemilihan jalur pemberian NAC bergantung pada keadaan klinis pasien. Pemberian NAC intravena dipilih jika didapatkan adanya kontraindikasi terapi oral seperti pada aspirasi dan muntah.

Dosis NAC oral 140 mg/kgBB diikuti dengan 70 mg/kgBB per 4 jam sebanyak 18 dosis selama 72 jam. Dosis NAC intravena bergantung pada berat badan pasien. Gambaran terapi NAC intravena adalah

  1. Loading dose: 150 mg/kgBB NAC dicampur dalam 200 mL larutan D5. Diberikan secara intravena selama 1 jam.
  2. Dosis 2: 50 mg/kgBB NAC dicampur dalam 500 mL larutan D5. Diberikan secara intravena selama 4 jam.
  3. Dosis 3: 100 mg/kgBB NAC dicampur dalam 1000 mL larutan D5. Diberikan secara intravena selama 16 jam.

Indonesia memiliki masalah dalam ketersedian sarana dan prasarana untuk memantau kadar paracetamol plasma. Sehingga, terkadang sulit untuk menentukan apakah seorang pasien betul mengalami intoksikasi paracetamol atau tidak, terutama pasien yang tidak menunjukkan gejala spesifik. Sehingga penting untuk mencurigai semua pasien yang mendapat dosis paracetamol intravena > 60 mg/kgBB.

Sejauh ini saya belum berhasil menemukan laporan kasus intoksikasi paracetamol di Indonesia. Ada beberapa sejawat yang berargumen bahwa genetika orang Indonesia lebih tahan terhadap paracetamol. Namun, ternyata beberapa kasus intoksikasi paracetamol intravena terjadi di negara berkembang seperti ini. Hal ini mendasari dugaan bahwa kasus intoksikasi paracetamol intravena mungkin ada di Indonesia, namun belum terdeteksi dengan baik.

Waspadalah.


=
Sponsored Content

Yuk, dipesan buku Nelson Pediatrik essensial. Buku terjemahan dari konsulen IDAI yang baik hati.

Spesial buat kamu yang:

  1. Dokter Spesialis Anak
  2. Punya Cita-Cita jadi Dokter Spesialis Anak
  3. Sedang ambil Residen di Departemen Ilmu Kesehatan Anak
  4. Berbiat daftar Residen Ilmu Kesehatan Anak tahun ini
  5. Dokter Umum yang Kece Badai (senantiasa update ilmu)

Langsug aja dipesan di SMS/WA 081234008737