/ Internal Medicine

(KLINIS) Mengidentifikasi Pasien Palpitasi Yang Membutuhkan Perawatan Gawat Darurat

Tidak jarang seorang dokter IGD harus menerima seorang pasien dengan suatu keluhan utama (sinkop, penurunan kesadaran atau bahkan demam) yang disertai palpitasi. Kapan kita harus waspada bahwa palpitasi tersebut membawa konsekuensi emergensi? Artikel ini akan sedikit me-refresh memori kita.

Palpitasi adalah keluhan subjektif pasien yang merasakan ketidaknyamanan mengenai keadaan denyut jantungnya sendiri. Keluhan diungkapkan biasanya berupa denyut jantung yang lebih cepat, lebih kuat atau tidak beraturan. Palpitasi tidak selalu berhubungan dengan disritmia jantung. Perlu dilakukan pemeriksaan fisik dan penunjanng apakah memang ada gangguan pada irama jantung.

Palpitasi dapat disebabkan kelainan primer jantung yang diinduksi oleh respon fisologis maupun patologis. Palpitasi bahkan bisa disebabkan oleh faktor psikologis pada beberapa orang. Keadaan cemas yang berlebihan dapat menginduksi peningkatan aktivitas otot simpatik sehingga meningkatkan frekuensi, irama dan kekuatan kontraktilitas otot jantung.

Diagnosis Klinis Palpitasi

Penegakan diagnosis klinis perlu dilakukan dengan cermat. Pasien yang datang dengan keluhan berdebar-debar. Hanya dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik sederhana, pasien yang menderita kecemasan umum (psikologis) sudah dapat diketahui penyebab palpitasi tanpa memerlukan pemeriksaan invasif yang mahal.

Namun, bisa jadi pasien yang tidak menunjukkan tanda disritmia pada saat pemeriksaan di klinik, mungkin disritmianya bersifat temporer. Sehingga bila dari anamnesis kita belum bisa menyingkirkan kemungkinan disritmia, maka kita tdiak bisa langsung mengatakan bahwa pasien ini mengalami palpitasi subyektif yang diakibatkan kecemasan. Kita perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menyingkirkan kemungkinan disritmia patologis.

Anamnesis Palpitasi

Informasi yang secara umum perlu kita gali adalah kapan pertama kali pasien merasa berdebar-debar. Apakah keluhan dirasakan terus-menerus atau kumat-kumatan. Penting untuk menggali durasi keluhan, faktor prncetus, faktor yang memperberat/memperingan, gejala penyerta, riwayat/keadaan psikososial, riwayat penyakit jantung dalam keluarga (termasuk riwayat meninggal mendadak), laju irama jantung (cepat-lambat), derajat keteraturan (reguler-ireguler). Riwayat peyakit lain yang berhubungan disritmia (diabetes, hipertensi, tiroid dan gangguan elektrolit) juga perlu ditanyakan.

Pasien dapat diedukasi untuk mengukur frekuensi dan mencatat pola denyut nadinya sendiri dalam satu menit, ketika keluhan berdebar-debar muncul. Pasien diharapkan bisa menjelaskan keluhan palitasinya, apakah terasa kuat (pounding), bergetar (fluttering), meloncat-loncat (flapping) atau ada yang terlewat (skipping).

Pemeriksaan Fisik Palpitasi

Pemeriksaan fisik yang diperlukan untuk mendeteksi kegawatdaruratan pada pasien palpitasi adalah inspeksi dan perabaan denyut nadi. Raba/lihat denyut nadi karotis, raba nadi femoralis, radialis atau brakhialis. Tentukan laju denyut nadi per menit dan regularitas irama. Rasa debar-debar kuat disertai denyut-denyut yang terlihat di leher kemungkinan adalah akibat regurgitasi aorta. Bila menemukan kondisi tersebut, segera waspadai sebagai kasus yang membutuhkan tindakan gawat darurat.

Pemeriksaan Penunjang Palpitasi

Pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi disritmia jantung patologis terdiri dari EKG, Treadmill, Ekokardiografi sampai Elektrofisiologi Jantung. Namun yang paling dasar dan tersedia di banyak IGD rumah sakit adalah pemeriksaan EKG. Dalam artikel ini hanya akan dibahas pemeriksaan EKG untuk mendeteksi kegawatdaruratan. Pemeriksaan penunjang yang lain dapat sejawat pelajari di Buku EIMED PAPDI Merah.

Pemeriksaan EKG adalah tes awal yang paling berguna untuk mendeteksi apakah keluhan palpitasi yang diungkapkan pasien membutuhkan penanganan gawat darurat atau tidak. Namun, perlu diwaspadai bahwa pasien yang datang dengan keluhan palpitasi di poliklinik bisa saja memiliki hasil EKG sesaat yang normal.

Video di atas adalah cuplikan dari DVD Mahir Baca EKG yang menjelaskan cara membaca EKG kelainan Aritmia Ventrikel. Kalau kamu mau pesan bisa SMS/WA Yahya 085608083342

Rekaman EKG 24 jam (Holter monitor) bisa dilakukan untuk mendeteksi gangguan irama yang sering muncul (tiap hari) tetapi tidak terdeteksi dengan rekaman EKG sesaat. Pasien dipasangi alat Holter Monitor selama 24 jam. Alat tersebut dibawa pulang dan menempel di tubuh selama 24 jam secara penuh. Pasien tetap beraktivitas seperti biasa dan tidak boleh terkena air. Esok harinya alat tersebut dilepas dan dihubungkan dengan komputer dan dievaluasi ada tidaknya gangguan irama yang berarti.

Identifikasi Kasus Gawat Darurat Pada Pasien Dengan Keluhan Utama Palpitasi

"Baku emas" diagnosis pasien dengan keluhan utama palpitasi adalah melakukan pemeriksaan fisik dan EKG saat pasien mengalami gejala. Segera raba nadi dan lakukan pemeriksaan EKG sesegera mungkin. Kesulitan utama mendiagnosis pasien dengan keluhan palpitasi adalah "gagal" merekam EKG saat keluhan sedang berlangsung. Jika pasien sedang mengalami gejala palpitasi saat datang ke tempat praktek sejawat, jangan sia-sia kan kesempatan tersebut!

Sebagian besar pasien yang datang dengan palpitasi (jantung berdebar-debar) tidak membutuhkan penanganan gawat darurat. Banyak pasien yang mengeluh jantung berdebar-debar, setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat dan ditunjang hasil EKG ternyata hanya sinus takikardia yang diinduksi kecemasan. Penting menggali masalah psikologis yang mungkin menyebabkan kecemasan pada pasien.


Aturan Sinus Takikardia

  1. Ritme/Irama Reguler
  2. Heart Rate 101-180 x/menit
  3. Gelombang P Bulat/Bundar, Muncul pada setiap QRS kompleks, Bentuknya relatif sama
  4. PR Interval 0.12 sampai 0.20 detik
  5. QRS Interval < 0.12 detik

Pada pasien dengan riwayat ekstrasistole yang jelas, biasanya cukup ditenangkan saja tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Kita tidak selalu bisa membedakan ekstrasistole ventrikel dengan fibrilasi atrium hanya berdasar anamnesis saja. Namun, anamnesis pasien yang mengarah pada keluhan khas ekstrasistole ventrikel ("jolt", "jump", "dropped" dan "skipped") mungkin bisa memberikan petunjukkan yang sangat bermanfaat.

Waspadai pasien dengan

  1. Riwayat sinkop/pra-sinkop
  2. Kelainan EKG bermakna saat istirahat (resting ECG)
  3. Faktor resiko VT (riwayat Infark Miokard Akut, pembedahan ventrikel dan kardiomiopati

Pasien-pasien dengan salah satu atau lebih kondisi di atas memiliki resiko mengalami kelainan aritmia serius. Rujuk ke dokter spesialis jantung (Sp.JP) untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Kesimpulannya, jika sejawat mendapat pasien dengan keluhan utama palpitasi, dan sejawat tidak berhasil memastikan bahwa pencetus keluhan palpitasinya adalah sinus takikardia atau kondisi lain yang tidak berbahaya, pertimbangkan untuk merujuk ke dokter spesialis jantung (Sp.JP) untuk mendapatkan penatalaksanaan yang lebih advance.

Semoga bermanfaat.


=
Sponsored Content

Tahukah sejawat, 90% diagnosis klinis sudah dapat ditegakkan dengan anamnesis yang baik. Pemeriksaan fisik yang terarah akan semakin mengkonfirmasi diagnosis yang dibuat.

Buku Diagnosis Klinis MacLeod-PAPDI (yang disunting Prof. DR. dr. Aru Sudoyo, Sp.PD, K-HOM, FINASIM, FACP) adalah buku yang memiliki kerangka konsep yang unik dan praktis.

Buku ini mencoba menjawab tantangan kedokteran berbasis Problem Based Learning yakni manajemen kasus klinik berbasi pemecahan masalah.

Menyajikan 25 keluhan utama (Nyeri Dada, Sakit Kepala sampai Masalah Kulit) yang paling sering membawa pasien ke praktek dokter (klinik rawat jalan dan Instalasi Gawat Darurat), buku ini menyajikan algoritma klinis yang praktis diaplikasikan oleh dokter umum.

Kabra baiknya, Buku DIAGNOSIS KLINIS MACLEOD bisa sejawat pesan via DokterPost.com

Caranya, SMS/WA ke 085608083342 (Yahya) atau via link kontakin.com/dokterpost

Buruan, limited Stock!!!