/ HIV

Mengapa Beberapa Orang Kebal Secara Alamiah Terhadap Infeksi HIV?


Populasi "ajaib", sekelompok orang yang memiliki kekebalan terhadap infeksi HIV, telah lama menjadi pusat perhatian para peneliti kedokteran. Banyak penelitian yang sudah dilakukan untuk menyelidiki penyebabnya. Hasil penelitian tersebut nanti diharapkan dapat menjadi terobosan luar biasa dalam upaya eradikasi HIV di dunia.

Saya sendiri pernah menemui beberapa pasien AIDS (telah terinfeksi HIV bertahun-tahun) yang memiliki pasangan (suami atau istri) dengan HIV negatif. Padahal, dalam anamnesis mereka selalu mengatakan bahwa mereka baru mengetahui jika pasangannya terinfeksi HIV dan selama bertahun-tahun tidak pernah menggunakan kondom saat berhubungan suami istri. Kelompok manusia ini adalah manusia yang kebal secara alamiah terhadap infeksi HIV, kami menyebutnya populasi longterm no progressor (LTNP).

Mengapa Mereka Kebal Terhadap Infeksi HIV?

Banyak penelitian sudah dilakukan, hal penting yang ditemukan adalah sering kekebalan tersebut disebabkan karena mutasi pada gen-gen penting sel imun, yaitu mutasi pada reseptor CCR5 dan CXCR4.

Reseptor CCR5 dan CXCR4 adalah protein dalam sel imun yang digunakan oleh virus HIV-1 sebagai "pintu gerbang" dalam proses infeksi. Kalo ada kerusakan struktur karena mutasi gen pada "pintu gerbang" ini, tentu HIV-1 tidak bisa masuk ke dalam sel imun dan menginfeksi tubuh kita. CCR5 dan CXCR4 ini ada pada semua sel imun yang mengekspresikan reseptor CD4 (itulah kenapa pada pasien HIV jumlah CD4 turun, karena hanya sel-sel yang punya protein ini yang diinfeksi virus HIV-1) (Carrington dkk, 1999).

Polimorfisme gen (mutasi gen) yang mengkode CCR5 dan CXCR4 yang termahsyur adalah polimorfisme gen CCR5 d32. Itu adalah mutasi gen pada 32 kode DNA yang menyandi reseptor CCR5. Sayangnya, populasi LTNP dengan polimorfisme CCR5 d32 tidak ditemukan di orang Asia dan Afrika. LTNP dengan jenis mutasi tersebut banyak ditemukan pada orang-orang eropa utara. Mutasi ini diperkirakan merupakan proses evolusi yang telah terjadi 700-2000 tahun yang lalu, ditemukan pada 13% populasi (Martinson dkk, 1997). Mereka kebal terhadap infeksi HIV.

Beberapa jenis polimorfisme yang lain diantaranya adalah mutasi pada enzim APOBEC3H, CCR2, dan CXCR4. Namun negara-negara maju masih melakukan penelitian ekstensif untuk mempelajari bagaimana mekanisme mutasi gen di atas memberikan kekebalan yang berharga terhadap infeksi HIV.

Di Indonesia sendiri, banyak kasus LTNP yang tidak terdiagnosis mengapa orang tersebut kebal terhadap HIV. Sering suami atau istri pasien AIDS ternyata hasil pemeriksaan antibodi menunjukkan HIV negatif. Sebenarnya, jika kita dapat mempelajari fenomena ini di populasi orang Indonesia, akan sangat bermanfaat untuk pengembangan obat HIV di masa depan. Obat yang sangat spesifik dirancang untuk masyarakat kita, karena dipelajari pada populasi masyarakat kita.

Saya sendiri pernah mengajukan usulan kepada pemerintah untuk melakukan penelitian populasi LTNP di Surabaya. Namun, usulan itu malah ditertawakan, menurut mereka Indonesia masih butuh "barang mewah" ini 20 sampai 30 tahun lagi. Saya hanya berdoa, semoga suatu saat mereka akan memahami.

Semoga bermanfaat, sejawat.