Membedakan Superimposed Preeclampsia vs Preeklampsia Berat

Hari ini ada banyak kasus menarik obgyn yang dicurhatkan di Group WA Diskusi Kasus Klinis. Tapi, menurutku kasus ini yang paling menarik.

Jadi ceritanya ada pasien datang ke puskesmas. Hamil 20 minggu TD:220/110, Nadi: 145, SpO2 85. Sudah dikasih Oksigen nih, 3 LPM (sesak).

Sayangnya tidak ada data proteinuria karena keterbatasan alat. Sehingga sebenarnya sulit ditentukan apakah pasien ini masuk kriteria diagnosis obstetri apa.

Pasien dirawat di Puskesmas karena menolak dirujuk (tidak ada biaya). Akhirnya pasien KRS, tapi "gone". Menurut cerita sejawat, pasien tersebut tidak mendapatkan MgSO4 karena tidak masuk kriteria preeklamsia.

Membedakan Superimposed Preeclampsia vs Preeklampsia Berat

Kasus diatas menarik, karena sebenarnya perhatiannya tidak tertuju pada preeklampsia atau bukan, emergency first!

Pasien tersebut masuk dalam hipertensi emergensi (TDS > 180) dengan target organ jantung dan paru. Kalau kamu nemu kasus seperti ini, yang kamu pikirikan tentu kegawatdaruratannya. Tangani dulu hipertensinya. Diagnosis dan terapi krisis hipertensi dapat kamu baca lebih lanjut di artikel ini.

Selanjutnya, perlu dipikirkan pasien ini masuk ke diagnosis obstetri apa? Mengingat usia kehamilan 20 minggu, kondisi jadi dilematis (coba lihat gambar di atas). Tapi, aku sudah konsultasikan ke dr Yudhis, SpOG kok.

Jadi intinya begini alur pikirnya. Ini tentang langkah terminasi janin atau tidak. Menurut dokter Yudhis, kemungkinannya ada dua: Superimposed Preeklampsia atau Preeklampsia Berat.

Untuk membedakannya kamu perlu bertanya, pasien punya riwayat hipertensi kronik nggak? Kalau punya riwayat hipertensi kronik, kemungkinan diagnosisnya adalah superimposed preeklampsia. Artinya, prognosis janin baik. Implikasinya, konservatif, kehamilan tidak diterminasi.

Lha, kalau baru kali ini hipertensi? Wah, kamu mesti curiga ke arah preeklampsia. Artinya, prognosis janin jelek. Implikasinya, kehamilan sebaiknya diterminasi. Untuk menyelamatkan nyawa ibu.

Diagnosis dan Terapi pasien preeklampsia dapat kamu baca lebih lanjut disini => Tatalaksana Preeklampsia

Oh ya, untuk anti-hipertensi intravena, PPK PENATALAKSANAAN PAPDI merekomendasikan penggunaan hydralazine 10-40 mg. Namun, beberapa jurnal juga merekomendasikan penggunaan labelatol 0.5-2 mg/menit.

Intinya targetnya adalah menurunkan arterial pressure yang meningkat sebanyak 10% dalam 1 jam pertama, dan tambahan 15% dalam 3-12 jam. Setelah diyakinkan tidak ada tanda hipoperfusi organ, penurunan dapat dilanjutkan dalam 2-6 jam sampai tekanan darah 160/110 mmHg selanjutnya sampai mendekati normal. MgS04 hanya diindikasikan untuk mencegah kejang.

Semoga Bermanfaat^^


=

Sponsored Content

Pernah nggak sih, kalian mendapat kasus sulit saat menatalaksana pasien medik dan bingung mau bertanya pada siapa? Konsul ke senior Sp.PD atau Sp.JP, beliau-nya lagi sibuk ngobati pasien di rawat jalan? Atau, jangan-jangan kita niatnya tanya, eh malah ditanya balik??? Wkwkwkw.

Buku setebal 1000 halaman dengan berat 2,3 kg ini mungkin bisa jadi solusi yang pas buat kamu. Berisi pedoman diagnosis terapi yang paling lengkap saat ini terkait kasus-kasus medik (Penyakit Dalam, Jantung dan Paru).

Ibarat kalian punya "Professor Interna Portable" yang siap ditanya kapan pun dan dimana pun, dan yang pasti nggak akan nanya balik? Wkwkwkwk.

Meskipun tidak bisa menggantikan peran para dokter Sp.PD untuk menjawab konsulan, buku ini setidaknya akan memberikan sejawat pengetahuan dasar yang lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan klinis sehari-hari: diagnosis-nya apa, terapi-nya apa, prognosisnya bagaimana?

Mau Pesan? Langsung aja kontak CS Dokter Post (Yahya) via kontakin.com/dokterpost