Membedakan Irama Sinus Normal vs Bukan Sinus

Minggu lalu di Group Belajar EKG, kita belajar tentang bagaimana membedakan irama sinus normal dan bukan sinus. Serta berlatih menghitung rate EKG dengan cara cepat.

Namun, ada beberapa TS yang masih kesulitan membedakan irama sinus dan bukan sinus.

Biasanya, untuk belajar aku akan pakai 4 pertanyaan di bawah untuk memutuskan apakah suatu EKG iramanya sinus atau bukan sinus

  1. Apakah ada Gelombang P normal?
  2. Apakah kompleks QRS sempit atau lebar?
  3. Apakah hubungan gelombang P untuk setiap kompleks QRS?
  4. Apakah irama teratur atau tidak teratur?

Kalau jawabannya seperti di bawah,

  1. Ya, ada gelombang P normal
  2. Kompleks QRS sempit
  3. Ada satu gelombang P untuk setiap kompleks QRS
  4. Irama pada dasarnya teratur

berarti kemungkinan irama-nya sinus

Membedakan Irama Sinus Normal vs Bukan Sinus


Gambar 1. Irama Sinus 100 kali/menit

Irama sinus selalu memiliki gelombang P yang normal. Gelombang P yang normal dihasilkan oleh bangkitan dari SA node di atrium.

Apa kemungkinannya jika tidak didapatkan gelombang P yang normal?

Jika tidak ada gelombang P, maka irama pasti berada di bawah atrium, entah AV node atau ventrikel.


Gambar 2. Sinus 65 kali/menit

Penting juga untuk mengetahui apakah aksis P normal atau tidak. Karena pada aksis P yang normal, hampir bisa dipastikan gelombang P dihasilkan di atas AV node.

Sementara pada aksis gelombang P yang tidak normal, belum tentu bangkitan dihasilkan di bawah atrium. Pembahasan mendetail tentang hal ini akan dibahas dr Ragil, SpJP di bagian Aritmia.

Pada irama sinus, pasti QRS sempit. Karena hal itu adalah pertanda bahwa konduksi listrik di ventrikel berjalan efisien. Jalur konduksi listrik mengambil waktu tersingkat, sehingga depolarisasi ventrikel durasinya singkat (sempit). Sederhananya, QRS yang sempit menandakan bahwa asal irama pasti berasal dari AV node atau bagian di atasnya.

Gambar 3. Sinus 80 kali/menit

Sementara itu, QRS yang lebar menandakan bahwa durasi depolarisasi ventrikel panjang. Artinya listrik dihasilkan bukan dari tempat yang paling efisien (sistem konduksi). Kemungkinannya, depolarisasi ventrikel dihasilkan oleh miokardium ventrikel sendiri sehingga persebarannya menjadi lambat, tidak efisien. Dampaknya, QRS tergambar lebar.

Gambar 4. Sinus 81 kali/menit

Secara normal, gelombang P selalu mendahului QRS. Hal tersebut menggambarkan bagaimana listrik jantung didistribusikan secara fisiologis. Depolarisasi atrium dihasilkan di SA node (gelombang P muncul), diteruskan ke AV node (gelombang QRS muncul) untuk selanjutnya disebarkan ke berkas purkinje.

Gambar 5. Sinus 85 kali/menit

Namun, bisa terjadi blok dimana listrik dari SA node atau AV node tidak diteruskan ke struktur di bawahnya. Akibatnya ventrikel menghasilkan listrik sendiri, atrium pun sendiri. Kondisi ini disebut sebagai total AV blok atau Disosiasi AV.

Irama sinus normal pasti ritmenya teratur. Jika ritmenya tidak teratur, kemungkinan pasien mengalami aritmia.

Intinya, jika kamu menemui

  1. Gelombang P normal
  2. Kompleks QRS sempit
  3. Ada satu gelombang P untuk setiap kompleks QRS
  4. Irama pada dasarnya teratur

Jangan ragu, itu adalah irama sinus normal.

Semoga Bermanfaat^^


=

Sponsored Content

Bukan rahasia umum, EKG adalah kompetensi "penting" dokter umum. Tidak hanya pada kasus nyeri dada spesifik (kecurigaan Sindroma Koroner Akut), ilmu EKG diperlukan untuk banyak kasus kegawatdaruratan lain (misal Henti Jantung dan Aritmia).

Kemarin tim DokterPost.com minta dr. Ragil Nur Rosyadi, SpJP untuk ngajari sejawat DokterPost.com tentang bagaimana biar sejawat bisa MAHIR BACA EKG. Ini video contoh analisis kasus blok jantung dari dr Ragil, SpJP

Videonya gedhe banget, hampir 7 GB. Biar sejawat di Papua dan Indonesia Timur yang lain bisa ikut belajar juga, akhirnya kami putuskan untuk distribusikan videonya dalam bentuk DVD.

Yang mau pesan MAHIR BACA EKG (BASIC-Non Aritmia-Aritmia), bisa kontak kami disini ya

SMS/WA 085608083342 (Yahya) atau kontakin.com/dokterpost