Membedakan Hiperkalemia vs STEMI pada Bacaan ECG

Aku terinspirasi membuat tulisan ini karena kemarin ada TS yang dapat pasien stroke, di-ECG hasilnya "ST Elevasi" hampir di semua leads. Namun, tidak terpikirikan DD hiperkalemia.

Ketika dikonsulkan ke Group Belajar EKG dr Wahyudi,SpPD langsung komentar...

"Cek kalium... Impending VT... Inj. Ca Glukonas 1 amp IV... Standby DC Shock... Segera Cek Kalium." Advis dr Wahyudi di Group Belajar EKG.

ECG memang adalah kotak ajaib yang aku sebut "pintu kemana saja". Seperti "pintunya Doraemon", dari gambaran ECG sering kali "secara tidak sengaja" kita diarahkan ke suatu diagnosis tertentu yang tidak terpikirkan sebelumnya. Dan sering kali data ECG sangat penting dalam setting emergency. Contohnya kasus hiperkalemia di atas.

Membedakan Hiperkalemia vs STEMI pada Bacaan ECG

Peningkatan kadar kalium darah menyebabkan gambaran ECG berubah sedemikian jelas sehingga dapat menjadi petunjuk yang penting untuk mengarahkan diagnosis hiperkalemia. Hiperkalemia sendiri adalah kondisi klinis yang sangat berbahaya bagi pasien karena dapat berujung pada ventrikel takikardia (VT), ventrikel fibrilasi (VF), henti jantung dan kematian.

Ketika kadar kalium darah mulai naik, gelombang T diseluruh 12 lead ECG mulai meninggi. Pada beberapa tenaga medis yang kurang mahir membaca ECG, gambaran ECG ini akan sangat mungkin keliru terbaca sebagai ST elevasi pada infark miokard akut.

Perbedaan paling jelas adalah, pada STEMI gambaran ST Elevasi hanya akan ditemukan pada lead tertentu (minimal 2 lead) yang menggambarkan daerah infark, kalau kata dokter ragil "lead yang selokasi" (misal II, III dan AvF menggambarkan lokasi infark di inferior). Sedangkan pada kondisi hiperkalemia, ST Elevasi hampir bisa ditemukan di semua lead.

Bila kadar kalium darah semakin tinggi, interval P akan memanjang, gelombang akan semakin rendah sampai kemudian menghilang. Selanjutnya kompleks QRS akan melebar hingga bergabung dengan gelombang T dan membentuk gambaran gelombang sinus (gelombang QRS yang melebar dan gelombang T yang tinggi hampir sulit dibedakan). Fibrilasi ventrikel pun akan segera muncul. Jika tidak ditangani dengan benar, pasien akan henti jantung dan meninggal.

Satu hal yang penting diketahui, meski perubahan gambaran ECG pada hiperkalemia sering terjadi sesuai dengan urutan di atas, pada praktisnya sering dokter di IGD menemukan kasus ketika evolusi sudah lanjut. Perburukan menuju fibrilasi ventrikel dapat terjadi begitu mendadak.

Setiap peubahan gambaran ECG akibat hiperkalemia harus segera ditangani secara cepat.

Tatalaksana Hiperkalemia

Tatalaksana Hiperkalemia pernah aku tulis secara rinci di artikel tatalaksana hiperkalemia di IGD. Tapi akan aku review sedikit di tulisan ini, namun hanya fokus pada rapid correction kalium.

Metode menormalkan kembali kadar kalium darah ada 2: slow dan rapid correction. Namun, yang lebih sering dilakukan di IGD adalah metode rapid correction.

Metode rapid correction terdiri dari

  1. Kalsium glukonat intravena: untuk menghilangkan efek neuromuskular dan jantung akibat hiperkalemia. Diberikan 1-2 ampul IV
  2. Glukosa dan insulin intravena: untuk memindahkan kalium ke dalam sel, dengan efek penurunan kalium kira-kira 6 jam. Dosis: insulin 10 unit dalam glukosa 40%, 50 ml bolus intravena, lalu diikuti dengan infuse Dekstrosa 5% untuk mencegah hiperkalemia.
  3. Pemberian B2 agonis albuterol: untuk memindahkan kalium ke dalam sel. Dosis 10-20 mg secara inhalasi maupun tetesan intravena (0.5 mg IV)
  4. Dialisis: untuk membuang kalium dari tubuh paling efektif.

Pada hiperkalemia jika diterapi dngan adekuat akan sembuh. Pada pasien dengan kadar kalium mencapai 7-8 meq/L memiliki risko menjadi fibrilasi ventrikel sampai 5%, sedangkan jika kadar kalium 10 meq/L risiko menjadi fibrilasi ventrikel meningkat hingga 90%. Pada kasus berat risiko mortalitas sebesar 67%.

Semoga Bermanfaat^^


=
Sponsored Content

Bukan rahasia umum, EKG adalah kompetensi "penting" dokter umum. Tidak hanya pada kasus nyeri dada spesifik (kecurigaan Sindroma Koroner Akut), ilmu EKG diperlukan untuk banyak kasus kegawatdaruratan lain (misal Henti Jantung dan Aritmia).

Kemarin tim DokterPost.com minta dr. Ragil Nur Rosyadi, SpJP untuk ngajari sejawat DokterPost.com tentang bagaimana biar sejawat bisa MAHIR BACA EKG. Ini video contoh analisis kasus blok jantung dari dr Ragil, SpJP

Videonya gedhe banget, hampir 7 GB. Biar sejawat di Papua dan Indonesia Timur yang lain bisa ikut belajar juga, akhirnya kami putuskan untuk distribusikan videonya dalam bentuk DVD.

Yang mau pesan MAHIR BACA EKG (BASIC-Non Aritmia-Aritmia), bisa kontak kami disini ya

SMS/WA 085608083342 (Yahya) atau kontakin.com/dokterpost