Membedakan Dengue vs Leptospirosis

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sekarang memang mulai banyak. Jumlah kasusnya naik terus dari bulan ke bulan. Namun, bukan berarti kita boleh "gelap mata" dalam menegakkan diagnosis DBD. Jangan semua pasien yang demam dengan trombositopenia lantas didiagnosis DBD.

Beberapa hari terakhir ini sudah ada dua pasien dengan demam dan trombositopenia di rujuk ke RS terbesar di Jawa Timur dengan DBD. Namun setelah diworkup ternyata bukan DBD, melainkan Leptospirosis dan Japanesse Encephalitis Virus (JEV). Oke lah, kalau JEV salah diagnosis mungkin masih bisa dimaklumi, namun kalau Leptospirosis sampai salah Diagnosis dengan DBD, wah ini.... :(

Padahal dr. Musofa Rusli, SpPD sudah jelasin dengan gamblang banget tentang Diagnosis Banding DBD. Tidak semua pasien dengan gejala mirip dengue pasti adalah DBD. Ada banyak kemungkinan lain (infeksi Arbovirus, Leptospirosis dsb).

Yang fatal adalah bila sejawat gagal membedakan antara DBD dengan Leptospirosis, karena pendekatan tatalaksananya sangat berbeda. DBD tidak butuh antibiotik karena penyebabnya virus, sedangkan Leptospirosis jelas butuh antibiotik.

Leptospirosis jelas butuh antibiotik sebagai terapi utama. Antibiotik yang dibutuhkan pun banyak tersedia dan relatif murah kok. Kalau kita diagnosis pasien Leptospirosis dengan DBD, implikasinya kita tidak akan berikan antibiotik.

Kira-Kira Apa yang Mungkin Terjadi?

Perjalanan penyakit pasien akan semakin berat, alih-alih pasien membaik, potensi pasien untuk jadi dead case akan meningkat. Nggak mau kan?

Makanya kita harus paham betuk manifestasi klinis dan diagnosis DBD sebelum masuk ke terapi. Begitu juga kita harus paham betul klinis Leptospirosis, agar tidak salah diagnosis.

Membedakan Demam Berdarah Dengue (DBD) vs Leptospirosis

Membedakan DBD vs Leptospirosis bisa dengan pendekatan klinis dan laboratoris. Meskipun saya lebih suka menggunakan pendekatan laboratoris (karena lebih sederhana), namun tetap saja kita harus tahu pendekatan klinis terlebih dahulu.

Manifestasi Klinis DBD

Untuk penjelasan lebih detail sebenarnya kamu bisa lihat di Video Update on Tatalaksana DBD di bawah ini.

Tapi saya sudah tulis artikel yang cukup mendalam di sini. Klik aja^^

Manifestasi Klinis Leptospirosis

Saya sudah pernah tulis di artikel sebelumnya sih. Secara klinis, leptospirosis dapat dibagi menjadi dua jenis: anikterik (ringan) dan ikterik (berat).

Leptospirosis anikterik

Sebagian besar (90%) manifestasi klinik leptospirosis adalah anikterik. Onsetnya mendadak ditandai demam ringan atau tinggi umumnya remiten, nyeri kepala, menggigil dan mialgia.

Leptospirosis Ikterik

Ikterus umumnya dianggap sebagai indikator utama Leptospirosis ikterik (berat). Gagal ginjal akut, ikterus, dan manifestasi perdarahan merupakan gambaran klinik khas penyakit Well.

Dari gambaran EKG-nya akan didapatkan gambaran tersering berupa blok AtrioVentrikuler derajat satu dan afibrilasi atrium.

Untuk lebih mudahnya, kamu bisa merujuk kriteria Faine untuk melakukan skrining apakah seorang pasien dengan demam mungkin terinfeksi Leptospirosis.

Kamu bisa merujuk artikel ini untuk mempelajari Faine Criteria lebih detail.

Sederhananya, kamu dapat MENCURIGAI seorang pasien TERINFEKSI LEPTOSPIROSIS (Suspected Case) jika memenuhi gejala-gejala di bawah ini

Demam akut (> 38,5 C) dan atau sakit kepala berat dengan:

  1. Mialgia
  2. Lemah dan atau
  3. Conjunctival suffusion, dan
  4. Riwayat terpapar lingkungan terkontaminasi Leptospira

Nah, kalau kamu sudah dapat SUSPECTED CASE, selanjutnya kamu bisa mendiagnosis klinis Leptospirosis (PROBABLE CASE) Jika memenuhi kriteria Suspected Case disertai dua keadaan berikut:

  1. Calf ternderness
  2. Batuk dengan atau tanpa batuk darah
  3. Kuning (jaundice)
  4. Manifestasi perdarahan
  5. Iritasi Meningeal

Diagnosis pasti Leptospirosis masih sulit dilakukan di Indonesia. Biasanya diagnosis pasti dilakukan pemeriksaan MAT. Sayangnya pemeriksaan MAT hanya bisa dikerjakan di RS KARYADI SEMARANG.

Artikel lebih lanjut yang membahas diagnosis dan terapi Leptospirosis dapat kamu baca di sini.

Bagaimana Membedakan DBD vs Leptospirosis secara Laboratoris?

Ini ilmu yang penting. Sering kali DBD vs Leptospirosis dapat dibedakan dengan mudah dengan cara ini.

Kamu masih ingat kan kalau dr Musofa Rusli, SpPD pernah menerangkan tentang Leukopenia pada pasien DBD?

Ya, ciri khas hasil laboratorium pasien DBD adalah didapatkan Trombositopenia+Leukopenia. Trombosit turun, Leukosit ikut turun.

Beda dengan Leptospirosis. Ciri khas hasil laboratorium pasien Leptospirosis adalah Trombositopenia+Leukositosis. Trombosit turun, tapi leukosit naik.

Hal ini penting, karena ada salah satu sejawat di Group WA Diskusi Klinis yang tanya hasil laboratorium pasiennya. Klinis demam 4 hari dengan gejala mirip Dengue.

Awalnya dikira DBD. Namun, setelah dikonsultasikan via WA ke dr Musofa Rusli, SpPD, dari hasil lab saja sudah bisa diarahkan kecurigaan mengarah ke Leptospirosis.

Semoga Bermanfaat^^


=
Sponsored Content

Saat ini sudah ada 400-an sejawat yang sudah punya DVD DBD, sebagian besar ternyata pesan sebagai persiapan "outbreak DBD" beberapa bulan lagi. Bahkan ada yang bikin acara "nonton bareng" satu tim IGD dan Rawat Inap di Puskesmas... hehe. CERDAS.

Harganya cuma 156 ribu/keping.

Jika kamu pesan DVD DBD ini, dan mengajarkannya ke tim di Puskesmas/Klinik, maka angka kematian pasien DBD-mu akan turun signifikan tahun ini.

Salam Zero Death^^

Nb: Mau Pesan? Bisa via Yahya 085608083342 (bisa SMS/WA) atau via link kontakin.com/dokterpost

Semoga Bermanfaat^^