/ dokter

MEA dan Kompetisi yang "Beracun"


Pagi ini saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah buku, "Zero to One". Buku yang ditulis Peter Thiel. Peter adalah pendiri Paypal yang fenomenal. Buku ini secara garis besar bercerita tentang inovasi, namun dalam artikel ini saya hanya akan membagikan bagian yang relevan dengan dokter Indonesia: MEA dan Kompetisi Global.

Dalam bukunya, Peter Thiel menceritakan bahwa Paypal bisa tumbuh secara karena dia "menghindari" kompetisi. Meskipun pada akhirnya banyak produk lain yang "meniru" dan secara tidak langsung menantang untuk berkompetisi, Peter selalu berusaha untuk berinovasi sehingga Paypal selalu berhasil menghindari kompetisi.

Mengapa Kompetisi Terkadang Tidak Sehat?

Kompetisi yang merah dan biru adalah sebuah analogi yang digunakan Kim W. Chan untuk menggambarkan tingkat kompetisi sebuah market. Istilah samudera merah digunakan untuk menggambarkan market yang sudah hiperkompetitif, sedangkan samudera biru digunakan untuk menganalogikan market yang tingkat kompetisinya masih rendah. Konsep strategi samudera biru (blue ocean strategy) adalah konsep yang digunakan Chan untuk mendorong perusahaan berinovasi menemukan keunggulan yang unik dan profitable.

Kompetisi adalah jiwa dari kapitalisme dan globalisasi. Setiap entitas (perusahaan, profesional atau yang lain) yang "bertarung" dalam globalisasi mau tidak mau akan berusaha menjadi yang terbaik atau yang termurah. Saat kompetisi mendorong untuk menjadi yang terbaik atau yang paling efisien, itu baik. Sehat. Namun, ketika kompetisi sudah sedemikian "merahnya" yang terjadi adalah kompetisi harga sehingga kadang-kadang yang dikorbankan adalah kesehatan keuangan perusahaan.

Ambil contoh mudah adalah persaingan antar klinik di Surabaya atau Jakarta. Di Surabaya, jumlah klinik menjamur. Persaingan penyedia layanan kesehatan sudah demikian "merah", belum ditambah jumlah klinik abal-abal bak cendawan di musim penghujan. Semakin "merah" lah persaingan klinik-klinik di Surabaya.

Persaingan menjadi tidak sehat ketika klinik-klinik tersebut sudah mulai masuk ke arah "perang harga", bukan lagi berkompetisi dalam ranah kualitas kualitas. Biaya pemeriksaan kesehatan "dibanting" habi-habisan. Bagaimana anda bisa membayangakan sebuah klinik di Surabaya memasang tarif 15 ribu untuk satu kali pemeriksaan dokter plus obat. Gila!

Mau tidak mau, kondisi tersebut akan memukul sebagian klinik atau dokter praktek swasta yang memasang "tarif rasional". Akibatnya, pasien yang sensitif harga akan beralih ke klinik 15 ribu tersebut, berbondong-bondong. Klinik tarif rasional akhirnya mengambil langkah tidak rasional untuk memangkas biaya berobat mengimbangi klinik 15 ribu, agar tetap kompetitif. Siapa variabel yang paling rentan "disesuaikan"? Dokter umum.

Dokter umum adalah kelompok profesi yang paling rentan ketika terjadi perang tarif dalam pelayanan kesehatan. Apakah dengan kompetisi yang sangat tinggi, dokter umum akan lebih berkualitas? Bisa ya, namun dengan syarat ada dana untuk meningkatkan kompetensi yang berkesinambungan. Masalahnya adalah dengan tingkat kompetisi yang tinggi dokter umum rentan mengalami "penipisan kantong", sehingga dana untuk meningkatkan kompetensi juga sering "kurang". Hal ini menyebabkan kompetisi yang hiper justru akan menyebabkan dokter umum menjadi tidak kompetitif.

MEA dan Kompetisi yang "Beracun"

Saya khawatir ketika Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diberlakukan, maka kondisi hiperkompetitif tersebut bisa terjadi. Dokter asing dari vietnam, Kamboja dan Myanmar kabarnya telah berancang-ancang untuk menyerbu Indonesia. Mereka berasumsi bahwa kesejahteraan dokter Indonesia secara umum lebih baik dari negara mereka yang masih berbau "sosialis".

Namun, yang lebih saya khawatirkan adalah masuknya dokter dan pemain industri kesehatan Singapura, Malaysia dan Thailand. Beberapa rumah sakit di Singapura kabarnya sudah bersiap masuk ke Indonesia lengkap dengan dokter dan modal teknologi dan finansial yang sudah siap dibawa. Saya tahu mereka sangat kompetitif. Ketika mereka masuk dan membanjiri Indonesia, saat itu lah kita harus benar-benar "berperang".

Dalam teori permainan (Game Theory), salah satu aplikasi yang penting adalah "kompetisi sering berakhir dengan kalah-kalah". Ya, setiap peserta kompetisi akan mengakhiri perang dengan kekalahan, pemenang menderita kekalahan lebih sedikit, sedangkan pecundang akan menderita kekalahan jauh lebih besar. Salah satu cara untuk menghidari kekalahan adalah "tidak berkompetisi".

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Dalam ilmu strategi kita mengenal ada dua strategi besar: menyerang atau bertahan. Kita Kekuatan dan Peluang dominan, menyeranglah. Namun, jika kelemahan dan hambatan yang dominan, bertahanlah. Lakukan perubahan internal sampai kita siap untuk menyerang.

Sederhananya, dalam menghadapi MEA, tidak ada gunanya lagi berteriak-teriak: "Menolak MEA". MEA sudah di depan mata. "Musuh" sudah di pintu gerbang, bersiap "menghunuskan pedang". Hadapi!

Saran terbaik adalah investasikan seoptimal mungkin sumber daya kita untuk mempelajari keahlian unik. Ciptakan "samudera" (Konsep Blue Ocean Strategy) anda sendiri, menghindari kompetisi. Kembangkan spesialisasi unik sejawat, dan mulai menyerang keluar. Itu!

Kisah Dokter Bedah Saraf Lokal, Pasien Internasional

Adalah dokter Sofyanto, SpBS dokter yang menginspirasi saya bahwa dokter Indonesia punya daya saing untuk terus bertahan di era MEA. Dokter Sofyanto adalah dokter bedah saraf di RS Swasta di Surabaya. Istimewanya, dokter lulusan FK UNAIR ini adalah satu dari sedikit orang di Asia Tenggara yang menguasai teknik bedah mikro, terutama untuk penanganan Trigeminal Neuralgia.

Berkat keahlian uniknya tersebut, dokter Sofyanto bisa melepaskan diri dari kompetisi, menghindari kompetisi. Menciptakan samuderanya sendiri yang masih biru. Karena setiap kali ada pasien yang menderita trigeminal neuralgia, nama yang pertama kali muncul (top of mind) di kalangan dokter adalah dr Sofyanto. Pasiennya pun tidak hanya datang dari Surabaya, ada pasien dari seluruh Indonesia, Malaysia, Singapura bahkan Australia.

Dokter Sofyanto tidak meraih semua itu dengan mudah. Ada banyak hal yang harus dikorbankan. Dia sampai harus tidak bekerja beberapa bulan dan menghabiskan tabungannya untuk bersekolah subspesialis di Jepang. Karena hubungan baiknya dengan dosen di Jepang, dokter Sofyanto menawarkan kerjasama untuk mengembangkan pusat Trigeminal Neuralgia di Surabaya. Sang guru Jepang pun menyetujui. Berkat investasinya yang besar, dokter Sofyanto berhasil membuktikan bahwa dokter Indonesia juga bisa mendapat kepercayaan pasien Internasional.

Welcome dokter ASEAN. Kami tidak takut!


=
Sponsored Content

Tiga Buku Praktis untuk Overview Materi Penyakit Dalam sebelum bertempur dalam seleksi PPDS Penyakit Dalam tahun ini.

Pemesanan SMS/WA ke 081234008737