/ dokter

Mati Muda(H)

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan..
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda..
Dan yang tersial adalah berumur tua..
Berbahagialah mereka yang mati muda..

Carl Sanburg, The Hang Man at Home (filsuf Yunani)

Dalam hitungan kurang lebih satu bulan, dunia Kedokteran Indonesia kehilangan dua dokter muda yang sedang menjalani internship di Dobo, Kepulauan Aru. Mereka adalah Dokter Andra dan Nanda. Duka mendalam tidak hanya dirasakan kedua orang tua mereka, namun seluruh dokter dan masyarakat kesehatan di Indonesia.

Dalam ilmu epidemiologi kita mengenal Kejadian Luar Biasa (KLB), yaitu timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Misalnya peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).

Dalam konteks kematian dokter Andra dan Nanda, adakah dua kematian dokter Internship dalam retang waktu satu bulan adaalah sebuah KLB? Sudahkan ada upaya yang dilakukan Kementrian Kesehatan untuk menginvestigasi kasus tersebut? Atau hanya dibiarkan seperti angin lalu saja? Kita punya hak untuk bertanya.

Dalam paradigma patient safety (doctor safety belum ada panduannya) kita mengenal dua metode arus utama yang digunakan untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan: Root Cause Analysis (RCA) dan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA).

RCA digunakan untuk mengidentifikasi akar masalah penyebab suatu kejadian yang tidak diinginkan. Sedangkan FMEA digunakan untuk mengidentifikasi hal-hal yang BERPOTENSI menimbulkan "kecelakaan" pada pasien. RCA bersifat reaktif (menunggu kasus terjadi) sedangkan FMEA bersifat proaktif (antisipatif sebelum kasus terjadi).

Idealnya penentuan wahana internship, jika memang bertujuan peningkatan skill pendidikan dan bukan pemerataan tenaga kesehatan secara murah, perlu dilakukan kaidah-kaidah patient safety ini.

Misalnya, setelah ada kejadian dokter Andra dan Nanda seharusnya ada upaya Kementrian Kesehatan untuk menelusuri akar masalah mengapa bisa sampai meninggal. Dan yang pasti tindakan korektif harus dilakukan, misal memperbaiki akses ke tempat rujukan dan sebagainya.

Yang tidak kalah penting, seharusnya dalam menentukan wahana internship sudah dilakukan langkah-langkah untuk mengidentifikasi hal-hal yang berpotensi menimbulkan masalah di masa depan. Misal, kalau sudah tau obat-obatan terbatas, sebelum dijadikan wahana internship ya harus dilengkapi dulu obat-obatan yang diperlukan.

Kalau sudah tau akses ke tempat rujukan sulit, ya harus dipastikan bahwa lokasi internship harus cukup mudah diakses atau disiapkan alat transportasi darurat (e.g helikopter ambulans) sebelum kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Kalau tidak bisa memenuhi standar minimal keselamatan, ya mbok ya jangan tempatkan dokter internship di daerah-daerah "berbahaya"!

Cerminan Kesehatan Masyarakat di Daerah Terpencil

Kematian yang menimpa dokter Andra dan Nanda seharusnya menyadarkan kita tentang kondisi sulit yang di alami saudara-saudara kita yang tinggal di daerah terpencil atau sangat terpencil. Mempertanyakan kematian dokter Andra dan Nanda bukan sikap egoisme dokter, melainkan kepedulian dokter terhadap keadilan kesehatan masyarakat daerah terpencil.

Kejadian ini seharusnya membangkitkan kesadaran kita bahwa Pemerintah masih punya PR besar yang harus diselesaikan sebelum mendeklarasikan Universal Coverage BPJS tahun 2019. Jika seorang dokter dengan segala "dukungan" dari Kemenkes bisa mati muda(h), bagaimana dengan masyarakat awam yang "terpaksa" mendiami daerah-daerah tersebut selama bertahun-tahun? Tentu mereka lebih nestapa!

Saya tidak bisa membayangkan jika masyarakat Dobo ada yang menderita penyakit akut yang membutuhkan rujukan segera, tentu kesulitan yang mereka alami jauh lebih "hebat" dari kesulitan yang dialami dokter Andra dan Nanda. Sayang, saya gagal mendapatkan angka mati muda(h) di antara masyarakat Dobo, yang saya yakin akan membuat kita tercengang!

Peristiwa yang dialami dokter Andra dan Nanda adalah sebuh cermin bahwa daerah-daerah di luar jawa yang terpencil dan sangat terpencil masih jauh dari kategori fasilitas kesehatan yang ideal. Saya sangat mahfum bahwa biaya pembangunan infrastruktur kesehatan di sana sangat mahal. Tapi, apakah itu dapat menjustifikasi sikap pemerintah kita yang seakan mengabaikan sila ke lima pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Bullshit!

Sebenarnya, untuk menjalankan amanat pancasila tersebut pilihan mengirim tenaga kesehatan "yang mau dibayar murah" memang pilihan yang mudah namun tidak bijak. Akar masalah kesenjangan tingkat kesehatan di Indonesia tidak terletak pada pemerataan tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan sudah tersebar merata, tetapi kalau tidak didukung alat-alat dan obat-obatan yang memadai kita bisa apa?

Justru, yang harus diupayakan pemerintah adalah perbaikan ekonomi di daerah-daerah terpencil. Dengan ekonomi yang "siap", tak usah "dipaksa" dokter akan datang ke daerah terpencil itu sendiri. Dengan ekonomi yang baik, ada banyak fasilitas kesehatan yang akan bisa dibangun dengan memadai. Dengan ekonomi yang baik, sudah tentu malaria akan pergi sendiri.

Memeberikan keadilan kesehatan untuk daerah tidak dengan "tangan besi", tetapi harus dengan perbaikan ekonomi!

Mengeliminasi Malaria

Peristiwa yang menimpa dokter Andra dan Nanda menyadarkan kita bahwa saudara kita di Indonesia timur masih terkungkung "lingkaran setan" Malaria. Malaria adalah sumber penderitaan yang tidak berkesudahan.

Anak yang terkena malaria, mereka akan sering sakit dan gagal tumbuh karena nutrisi yang "dihisap" plasmodium. Karena nutrisi kurang, otak mereka juga tumbuh tidak optimal. Karena sering demam mereka akan lebih sering bolos sekolah, akibatnya otak mereka semakin jarang terstimulasi. Daerah mereka semakin lama akan terus tertinggal dan semakin tertinggal.

Jadi sepakat bahwa Malaria harus diganyang dari Indonesia?

Perihal ganyang-mengganyang Malaria, saya teringat perbincangan denga Prof. Yoes Prijatna Dachlan beberapa tahun yang lalu. Sebagai pakar malaria, Prof. Yoes menyampaikan bahwa malaria paling cepat baru akan bisa di eliminasi dari Indonesia tahun 2030!

Itu artinya 15 tahun lagi, itu pun estimasi paling cepat. Jadi saya membayangkan bahwa 15 tahun lagi saat Jakarta sudah akan menjadi seperti New York saat ini, saudara kita di Indonesia Timur masih akan "dibodohi" Malaria. Dan mungkin dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia akan menjadi satu dari segelintir negara di Dunia yang masih bergelut dengan Malaria.

Menurut Prof. Yoes, sebenarnya ada jalan pintas yang bisa ditempuh untuk mempercepat eliminasi malaria, yaitu mempercepat pembangunan Indonesia Timur. Pulau Jawa pada awal masa kemerdekaan masih endemis malaria, namun setelah pembangunan berjalan agresif bisa kita lihat, malaria sudah menjadi sejarah di sebagian besar daerah di Pulau Jawa.

Bagaimanapun, kenyataannya malaria berkorelasi negatif dengan tingkat pembangunan suatu daerah. Semakin maju pembangunan di suatu daerah, semakin jarang malaria menjadi berita.

Jangan Ada Lagi Dokter yang Mati Muda(H)

Berita kematian dokter Andra dan Nanda menyadarkan kita bahwa dokter rawan mati mudah(h) dalam penugasan. Sistem kesehatan di Indonesia ini tidak memberikan perlindungan kesehatan yang cukup pada dokter-dokter yang ditugaskan. Kalau dokter-nya tidak mendapat perlindunngan kesehatan yang cukup, jangan tanya untuk rakyatnya.

Anggaran kesehatan Indonesia yang masih akan menjadi 5% APBN, masih jauh dari Amerika Serikat yang sudah lebih dari 10% APBN. Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia masih abai dengan isu-isu kesehatan. Program kesehatan selalu menjadi dagangan politik no. 1, tapi urusan komitmen anggaran, pos untuk kesehatan masih jauh dari no. 1.

Dokter muda bukan komoditas murah yang bisa dengan mudah "dikorbankan" untuk memenuhi janji-janji politik. Dikirim dengan perencanaan program yang asal jalan, tanpa dukungan keselamatan yang berimbang. Dokter muda seakan sangat rentan mati mudah di medan pengabdian.

Padahal, tahukah anda berapa Pemerintah Indonesia dirugikan dengan kehilangan seorang Dokter Muda? Sebuah penelitian di Kenya mencoba menghitung berapa kerugian yang Kenya alami jika kehilangan seorang dokter (bermigrasi atau mati). Saat satu orang dokter gugur, negara akan kehilangan USD 517,931 (setara IDR 6 M). Berarti jika akibat kelalaiannya seorang pejabat membuat Indonesia kehilangan dua orang dokter, berarti pejabat tersebut telah merugikan negara IDR 12 M. KPK sudah bisa masuk?

Semoga bermanfaat.


=
Sponsored Content

Mau Pesen kaos Dokter untuk Tahun Baru? SMS/WA aja ke 081234008737