Manajemen RAAS inhibitor Pada Hiperkalemia Pasien PGK

Hiperkalemia Pada PGK

Hiperkalemia diartikan sebagai adanya peningkatan kadar kalium dalam serum/plasma di atas kadar normal yaitu lebih dari 5 mEq/L.

Pasien dengan penyakit ginjal kronis (PGK) stadium 3 atau lebih mempunyai predisposisi mengalami hiperkalemia yaitu pada pasien yang disertai dengan gangguan jantung, dan pasien yang menggunakan renin-angiotensin-aldosteron system (RAAS) inhibitor.

Hiperkalemia umumnya tidak terjadi hingga LFG kurang dari 20-25 mL/menit/1.73 m2, namun dapat dijumpai lebih awal pada pasien dengan asupan tinggi kalium atau kadar aldosteron di serum yang rendah. Kadar aldosteron yang rendah dapat dijumpai pada diabetes mellitus, penggunaan ACE inhibitor, NSAID atau beta blocker.

Diagnosis hiperkalemia dikonfirmasi terlebih dahulu untuk menyingkirkan pseudo-hyperkalemia, yang dapat disebabkan oleh teknik phlebotomy yang buruk, hemolysis pada tabung reaksi, trombositosis, atau leukositosis.

Penyebab hiperkalemia salah satunya adalah penggunaan obat-obatan yang dapat menginduksi hiperkalemia, baik dipicu dengan obat penghambat eksresi potassium ginjal atau dengan menghambat pembuangan ekstrarenal.
Obat-Menyebabkan-Hiperkalemia

RAAS Inhibitor Pada PGK

Salah satu penyebab hiperkalemia pada PGK antara lain adalah penggunaan golongan obat yang dapat menginduksi hiperkalemia, baik dipicu dengan obat penghambat eksresi potassium ginjal atau yang bekerja dengan menghambat pembuangan ekstrarenal.

RAAS inhibitor merupakan obat yang termasuk dapat menyebabkan terjadinya hiperkalemia. Obat kelompok ini termasuk ARB dan ACE i menyebabkan terjadinya produksi aldosteron sehingga menyebabkan terjadinya penurunan sekresi ion K+ di ginjal.
RAAS-induksi-Hiperkalemia

Namun beberapa klinisi terkadang memilih untuk tetap melanjutkan terapi RAAS inhibitor dengan alasan adanya efek nefroprotektif yang dimiliki oleh obat kelompok ini. Pada pasien yang berisiko tinggi hiperkalemia namun ingin melanjutkan terapi RAAS inhibitor maka disarankan beberapa pendekatan berikut :

  1. Tentukan perkiraan GFR pasien (≤ 30 ml / menit adalah ambang batas untuk kemungkinan hiperkalemia).
  2. Amati kadar kalium serum/plasma dengan ketat.
  3. Hindari pemberian NSAID (termasuk inhibitor COX-2) dan pengobatan herbal.
  4. Resepkan diet rendah kalium dan hindari pengganti garam yang mengandung potassium.
  5. Resepkan tiazid atau loop diuretik (loop diuretik diindikasikan untuk GFR <30 ml/menit).
  6. Koreksi asidosis metabolik yang benar dengan pemberian sodium bikarbonat.
  7. Mulai pemberian inhibitor ACE atau ARB dengan dosis rendah.
  8. Amati kadar kalium serum dalam satu minggu ACE atau ARB inisiasi dan peningkatan dosis untuk menentukan titrasi dosis atau penghentian obat (hentikan jika potassium > 5,5 mmol/L tetap ada) setelah intervensi di atas.
    Medikamentosa