Komplikasi Transfusi Darah dan Tatalaksana Gawat Darurat

Transfusi darah sering kali HARUS dilakukan dalam kondisi gawat darurat perdarahan akut. Tujuannya agar klinis pasien dipertahankan stabil. Namun, transfusi darah bukan tanpa risiko. Ada kemungkinan pasien mengalami reaksi transfusi dan komplikasi yang lain.

Dikutip sebagian besar dari EIMED Merah PAPDI, artikel ini akan membahas tentang komplikasi yang muncul dalam proses transfusi dan tatalaksana penanggulangannya, yaitu

1. Hemolisis Akut Akibat Transfusi

Pada pasien yang mendapat donor darah namun inkompatible, sangat mungkin mengalami hemolisis akut. Salah satu tanda klinisnya adalah penurunan Hb disertai peningkatan bilirubin serum. Hemolisis akut paska transfusi misalnya ABO atau Rhesus Incompatibility, non-immune mediated hemolysis, DIC, hemoglobinuria.

Pada pasien dengan hemolisis akut paska transfusi, penatalaksanaannya meliputi :

  1. Stop transfusi
  2. Rehidrasi intravena
  3. Pertahanankan diuresis tetap baik
  4. Terapi suportif
  5. Evaluasi : ulang cross-match, Combs test, DPL, kreatinin, bilirubin indirek, LDH, PT, aPTT, hemoglobinuria.

2. Hemolisis Kronik Akibat Transfusi

Komplikasi ini muncul setelah 24 jam post transfusi, bahkan sering kali berminggu-minggu atau berbulan-bulan setelah transfusi darah dilakukan. Contoh kasus yang banyak ditemui dalam praktek sehari-hari adalah timbulnya antibodi baru setelah transfusi. Bila hal tersebut terjadi, maka sedapat mungkin hindari transfusi.

3. Reaksi Alergi Akibat Transfusi

Komplikasi ini biasanya terjadi akibat reaksi antibodi resipien dengan protein donor. Pasien dengan defisiensi IgA dengan antibodi anti-IgA, berisiko terhadap kemungkinan terjadinya reaksi anafilaksis.

Jika sejawat menemukan kasus seperti di atas, berhati-hatilah terhadap kemungkinan terjadi reaksi anafilaksis. Penatalaksanaannya meliputi

  1. Stop transfusi
  2. Difenhidramin dapat diberikan
  3. Evaluasi, bila gejala hilang transfusi dapat diberikan lagi.

Pada keadaan yang berat, harus dievaluasi terhadap kemungkinan hemolisis dan transfusi tidak boleh diberikan lagi sampai dapat ditentukan penyebab alergi.

4. Demam Non-Hemolitik Akibat Transfusi

Ini adalah komplikasi yang cukup sering ditemui. Biasanya pasien akan mengeluh demam, namun Hb dan bilirubin serum normal. Komplikasi ini terjadi akibat reaksi antigen-antibodi atau produksi sitokin pro-inflamasi.

Bila sejawat mendapatkan pasien paska transfusi mengalami komplikasi ini segera hentikan transfusi dan berikan anti-piretik (mis. parasetamol).

5. Transfusion Related Acute Lung Injury (TRALI)

Ini saya pernah dapat kasusnya. Pasien paska transfusi, kemudian terdengar ronki dan wheesing di lapang paru. Setelah di konsul SpP ternyata diagnosisnya TRALI.

TRALI terjadi dalam waktu 6 jam setelah transfusi pada pasien tanpa tanda-tanda hipertensi atrium kiri sebelumnya.

Penatalaksanaannya

  1. Stop transfusi
  2. Berikan ventilasi mekanik
  3. Hindari diuretik dan steroid

6. Transfusion Associated Circulatory Overload

Seringkali terjadi pada pasien geriatri, pasien gagal jantung dan anak-anak. Pasien gagal jantung yang membutuhkan transfusi darah (Hb ≤ 5 gr/dl), harus diberikan packed red cells (PRC) secara berhati-hati dan lambat, setiap unit harus diberikan dalam waktu 4 jam, dan sebelumnya diberikan furosemid 40 mg.

7. Keracunan Sitrat

Komplikasi ini relatif jarang terjadi, biasanya terjadi pada pasien dengan transfusi masif (> 10 unti/ 24 jam). Namun pada pasien dengan keracunan sitrat perlu diwaspadai karenda dapat menyebabkan hipokalsemia, koagulopati, tetani dan aritmia.

8. Infeksi Akibat Transfusi

Infeksi paska transfusi adalah isu yang sedang banyak diperdebatkan dokter, bahkan hingga menjadi isu global. Beberapa infeksi paska transfusi yang banyak ditemukan dalam praktek sehari-hari adalah: HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, HTLV-VII, CMV, malaria, Parvovirus B-19. Tatalaksana komplikasi paska transfusi secara spesifik dapat kamu baca di EIMED Biru PAPDI

Semoga Bermanfaat^^


=
Sponsored Content


EIMED Merah adalah buku yang banyak direkomendasikan sebagai pegangan Dokter Umum di Instalasi Gawat Darurat. Buku ini adalah dasar untuk mempelajari buku EIMED Biru.

Buku ini membahas kasus gawat darurat secara mendasar berdasar keluhan utama.

Bayangkan ketika anda jaga IGD, pasien akan datang dengan keluhan utama (misal muntah, hematemesis-melena, penurunan kesadaran) atau dengan diagnosis spesifik (mis ketoasidosis diabetes, perforasi gaster, stroke perdarahan) ?

Betul, pasien datang dengan keluhan utama. Seperti itulah sistematika penulisan EIMED MERAH. Jadi kamu akan diajak untuk

  1. Menganalisis kasus berdasar keluhan utama
  2. Menganalisis diagnosis spesifik,
  • Apa saja anamenesis yang ditanyakan?
  • Apa saja pemeriksaan klinis yang harus dilakukan?
  • Apa saja pemeriksaan penunjang yang akan diusulkan?
  • Terapi umum untuk stabilisasi pasien, sembari melakukan work up untuk mencari diagnosis spesifik

Salah satu topik favorit di EIMED MERAH adalah kegawatdaruratan kardiologi (EMERGENCY CARDIO).

Seperti kita ketahui bersama, 9 dari 10 pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan henti jantung akan meninggal. Hanya 1 pasien yang hidup, yakni pasien yang mendapatkan cardiac life support yang bagus.

Kegawatdaruratan bidang kardiologi yang dengan angka mortalitas tinggi adalah henti jantung dan arritmia (bradiaritmia dan takiaritmia). Upaya terbaik untuk mencegah kematian pasien yang berada dalam kondisi tersebut adalah melakukan adult cardiac life support, yang dibahas secara mendalam di BUKU EIMED MERAH.

Berita baiknya, setiap pemesanan EIMED MERAH via DokterPost.com kamu akan mendapatkan bonus DVD EMERGENCY CARDIO (senilai 156 ribu)

Mau Pesan EIMED MERAH?

Kamu bisa langsung inbox admin

Bisa juga SMS/WA 0856 0808 3342 (YAHYA) atau 0857 3130 6999 (ANISA)