Kegawatdaruratan Psikiatri

Beberapa waktu terakhir, publik dikejutkan oleh beberapa kasus bunuh diri artis ternama dunia. Mengejutkan karena di tengah hiruk pikuk dan gemerlap dunia keartisan, ternyata depresi dan keinginan bunuh diri bisa dialami oleh siapapun. Percobaan bunuh diri memang kasus yang jarang dan hampir tidak pernah masuk dalam 10 besar kunjungan UGD, namun kasus ini merupakan suatu kegawatdaruratan di bidang psikiatri. Setiap kegawatdaruratan memerlukan tindakan cepat dan tepat.

Kegawatdaruratan Psikiatri

Kegawatdaruratan psikiatri adalah setiap gangguan dalam pikiran, perasaan, atau tindakan yang memerlukan intervensi segera. Kejadian gawat darurat psikiatri semakin meningkat karena kekerasan, penggunaan narkoba, dan gangguan jiwa. Sebagian gawat darurat psikiatri dapat ditemui diunit gawat darurat.

Jenis kegawatdaruratan psikiatri yang mungkin ditemukan adalah gaduh gelisah atau kekerasan, percobaan bunuh diri, penelantaran diri, sindroma putus zat, perkosaan dan bencana lain, dan sindroma neuroleptik maligna.

Gawat darurat psikiatri memerlukan penilaian yang cepat dan tepat melalui pendekatan pragmatis. Pendekatan ini memerlukan skill yang cukup karena keterbatasan ruang dan waktu pelayanan. Target dari penanganan awal adalah initial diagnosis, identifikasi faktor pencetus, dan keputusan untuk merujuk ke bagian yang sesuai.

Gaduh gelisah dan ancaman kekerasan

Gaduh gelisah adalah peningkatan aktivitas mental dan motorik seseorang yang sulit dikendalikan. Gaduh gelisah dapat berujung pada agresi fisik yang dilakukan seseorang terhadap orang lain yang dalam taraf ekstrem dapat berupa pembunuhan.

Tindakan kekerasan ini mempunyai lingkup yang luas meliputi tindakan kekerasan sebelumnya, ancaman verbal maupun fisik, ancaman menggunakan benda tajam dan semacamnya, agitasi psikomotor, ancaman di bawah pengaruh alkohol atau zat lainnya, psikotik paranoid, dan halusinasi dengar dengan perintah kekerasan. Kekerasan bisa terjadi pada gangguan atau penyakit otak (gangguan organik), skizofrenia katatonik gaduh gelisah, gangguan mania bipolar, depresi agitasi, dan gangguan pengendalian impuls.

Prinsip penanganan gawat darurat psikiatri pada pasien dengan agitasi dan ancaman kekerasan adalah lindungi diri terlebih dahulu dan tetap waspada terhadap tanda-tanda munculnya kekerasan. Diperlukan jumlah staf yang cukup untuk melakukan fiksasi. Fiksasi dapat dilakukan secara fisik maupun farmakologis.

Pasien harus ditenangkan, senjata yang dibawa harus dilucuti, dan dilakukan fiksasi segera. Keluarga pasien yang mengantar juga harus ditenangkan. Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan secara simultan dalam waktu singkat yang efisien.

Fiksasi secara farmakologis dapat dilakukan dengan injeksi Chlorpromazin 25 mg, Haloperidol 2-10 mg, atau Diazepam 10 mg intramuskular. Pasien harus diawasi secara ketat dan perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan dengan pelayanan kesehatan jiwa.

Penelantaran Diri

Tanda utama yang dapat dilihat dari pasien penelantaran diri adalah cachexia, badan lemah yang dapat berada pada status dehidrasi, dan badan kotor dan bau. Penelantaran diri dapat terjadi pada pasien dengan skizofrenia katatonik stupor, episode depresi berat dengan gejala psikotik, skizofrenia simpleks, dan gangguan afektif bipolar episode depresi.

Penelantaran diri juga dapat terjadi pada pasien non-psikotik dengan anoreksia nervosa, gangguan depresi berat, dan bulimia. Kadang, penelantaran diri juga merupakan gejala adanya penyakit organik atau katatonic like symptom.

Penanganan penelantaran diri yang utama adalah stabilisasi keadaan umum. Pasien mungkin saja memerlukan infus dan atau sonde. Anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mencari masalah fisik. Gangguan jiwa juga harus diterapi untuk mencegah terjadinya penelantaran diri kembali.

Percobaan Bunuh Diri

Bunuh diri adalah percobaan yang dilakukan seseorang untuk mengakhiri emosi, perasaan, dan pikiran yang tidak dapat ditoleransi lagi. Bunuh diri juga dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri psikologik dan menurunkan ketegangan yang tak tertahankan. Seringkali, kematian bukan tujuan utama dari bunuh diri, tetapi lebih pada berhenti atau keluar dari kehidupan.

Keinginan untuk bunuh diri merupakan interaksi dari faktor biologi, psikologi, sosiokultural, dan lingkungan. Faktor lingkungan yang dapat melatarbelakangi keinginan untuk bunuh diri di antaranya adalah kesulitan sosial-ekonomi, tersedianya alat dan bahan untuk bunuh diri, dan pemberitaan media massa pada kasus “copycat suicide”. Beberapa kelompok pasien yang mempunyai risiko tinggi untuk bunuh diri adalah pasien dengan penyalahgunaan zat, gangguan depresi, skizofrenia, gangguan bipolar episode depresi, dan gangguan kepribadian.

Faktor risiko bunuh diri lebih tinggi pada pasien dengan:

  1. kelompok umur 15-35
  2. laki-laki
  3. penyalahgunaan alkohol dan obat
  4. pernah mencoba bunuh diri sebelumnya
  5. depresi
  6. penyakit kronis yang berat
  7. pengangguran
  8. tidak menikah, janda atau duda, bercerai
  9. masalah finansial
  10. isolasi sosial
  11. korban kekerasan

Hal pertama yang harus dilakukan ketika menerima pasien percobaan bunuh diri adalah stabilisasi. Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan mengarah dan tergantung gejala yang muncul.

Sebagian besar bunuh diri dapat dicegah, sebaiknya pasien dengan kondisi yang mengarah pada percobaan bunuh diri dilakukan pendekatan. Orang di sekitar pasien harus mulai waspada bila pasien mulai meberikan wasiat, memberikan barang miliknya, melakukan perilaku merusak diri sendiri, dan mengalami krisis suicidal. Krisis suicidal merupakan fase menjelang perbuatan bunuh diri berupa perasaan sedih sekali yang tak tertahankan dan ditandai oleh isyarat atau jeritan minta tolong, atau suicidal communication misalnya surat atau catatan pribadi.

Pasien kadang memerlukan opname, tergantung pada diagnosis, keparahan depresi, gagasan bunuh diri, kemampuan pasien dan keluarga mengatasi masalah, adanya faktor risiko, dan tersedianya dukungan sosial. Medikamentosa dapat diberikan sesuai dengan penyebab. Misalnya antipsikotik atau antidepresan.


Sponsored Content

Buku Rekomendasi PPDS Psikiatri

Buku-Ajar-Saddock

Buku-Ajar-Psikiatri

Pemesanan WA 085608083342 Yahya

Sindroma Lepas Zat

Sindroma lepas zat adalah keadaan ketika seseorang menunjukkan gejala-gejala ketergantungan secara fisik terhadap suatu zat pada saat zat tersebut dihentikan. Ketergantungan yang muncul dapat berupa ketergantungan mental maupun fisik. Gejala ketergantungan mental di antaranya adalah bingung, gelisah, rasa kehilangan sesuatu, dan menunjukkan seeking behaviour. Gejala ketergantungan fisik di antaranya adalah keringat dingin, keluar air mata, keluar lendir dari hidung, nyeri hebat, kram usus, diare, dan pupil midriasis.

Terapi sindroma putus zat tergantung dari zat yang dipakai, jumlah dan frekuensi pemakaian, cara memakai, kondisi pasien, komplikasi, metode yang dipakai, dan kondisi keluarga. Kondisi umum harus dilakukan stabilisasi, pasien yang sudah stabil harus dirujuk ke poli metadon untuk dilakukan substitusi, analgesik kuat perlu diberikan sebagai terapi simptomatik.

Perkosaan

Perkosaan dapat didefinisikan sebagai tipuan, kekuatan, ancaman, maupun kekerasan saat melakukan kontak seksual dengan orang lain. Perkosaan dapat juga disebut sebagai sexual assault. Korban perkosaan anak di bawah umur dapat disebut child molesting atau penganiayaan anak-anak.

Penanganan korban perkosaan harus melalui izin tertulis dari pasien atau keluarga. Dilakukan pemeriksaan medis menyeluruh, pasien harus tetap mendapat perlindungan terhadap penyakit dan kehamilan, akan dilakukan intervensi krisis pada trauma psikiologi. Setelah fase akut terlewati, pasien diusahakan mendapat dukungan sosial, pendampingan, dan konseling hukum untuk kembali ke fungsi sosial semula.

Tidak semua kasus perkosaan dilaporkan, perkosaan dapat berujung pada penurunan kepercayaan diri, post trauma stress disorder (PTSD), gangguan makan, gangguan tidur, cemas, agorafobia, depresi, dan ketakutan akan penyakit seksual dan kehamilan.

Sindroma Neuroleptik Maligna

Sindroma neuroleptik maligna adalah suatu sindrom toksik yang berhubungan dengan penggunaan obat psikotik. Keadaan ini dapat terjadi dalam hari pertama penggunaan antipsikotik pada saat dosis mulai ditingkatkan. Gejala klinis yang dapat ditemukan yaitu demam tinggi, kekakuan otot, instabilitas otonomik, dan gangguan kesadaran.

Penanganan segera yang dapat dilakukan adalah menghentikan obat antipsikotik, pemeriksaan laboratorium, pemberian Bromocriptine 2.5mg-45mg/ hari. Termoregulasi dapat dilakukan dengan pemberian obat dan kompres. Tanda vital harus dimonitor secara berkala.

Sebagai dokter, kita harus memahami bahwa kegawatdaruratan dapat muncul tidak hanya secara fisik tetapi juga mental. Semoga artikel ini dapat memberi manfaat bagi kita untuk menjadi dokter yang “to comfort always”. Semoga bermanfaat!
(mqa)

Semoga Bermanfaat^^


=
Sponsored Content

Buku paling dicari dokter puskesmas, IGD dan Klinik Pratama dari aceh-papua ini sudah mau terbit lagi. Versi update tahun 2018 "BUKU 155 DIAGNOSIS DAN TERAPI FASKES PRIMER"

cover-155-Diagnosis-Terapi-Faskes-Primer

Harganya 155 ribu. Tapi, kalau kamu ikut pre-order, kamu akan dapat bonus DVD TERAPI CAIRAN DI IGD DAN PUSKESMAS senilai 156 ribu.

DVD MAHIR TERAPI CAIRAN (MTC) isinya

  1. Dasar-dasar Terapi Cairan

  2. Dasar Perdarahan Akut

  3. Strategi Resusitasi Cairan Perdarahan Akut

  4. Dasar Dehidrasi

  5. Strategi Rehidrasi Anak dan Dewasa

  6. Profil Cairan Kristaloid (NS, RA, RL, D5)

  7. Profil Cairan Koloid (HES, Dextran)

  8. Memilih Kristaloid vs Koloid

  9. Menghitung Kebutuhan Nutrisi

Tanggal 21-28 Februari ini kita buka pre-order. Langsung aja WA 085608083342 Yahya atau klik link order ini.

Buku akan dikirim ke rumahmu tanggal 18-04-18

Jangan sampai nggak kebagian kayak kemarin^^