Kardioversi: Dasar Banget

Kamu tau dong kardioversi? Kardioversi adalah tindakan elektif atau emergensi untuk mengobati takiaritrmia dengan cara diberikan aliran listrik, biasanya dengan energi yang rendah dan disinkronkan dengan gelombang R, maksudnya aliran listrik kejut diberikan pada puncak gelombang R.

Kardioversi dilakukan dengan direct current counter shock (DC Shock) yang synchronized, menggunakan alat defibrilator. Alat ini sangat penting dalam life saving.

Saking pentingnya alat ini bahkan menjadi syarat sebuah bandara dapat dikatakan punya standar Internasional. Kalau RS tempat mu praktek sudah terakreditasi JCI, harusnya DC Shock mudah ditemukan. Betul nggak?

Kalau belum punya DC Shock, ya setidaknya belajar dulu teorinya DC Shock. Siapa tahu satu atau dua tahun lagi direkturmu tiba-tiba belikan kamu DC Shock. Amien.

Dasar Mekanisme Kerja Kardioversi

Pada kardioversi, aliran listrik diberikan ke miokardium saat puncak gelombang R. Ini penting dipahami, karena ketika aliran listrik kejut diberikan bukan pada puncak gelombang R, misalnya pada saat ST, justru pasien malah berpotensi mengalami komplikasi aritmia. Kalau bingung ditelan dulu aja, ntar kamu akan paham sendiri :)

Mengapa saat puncak gelombang R? Karena QRS adalah gambaran depolarisasi Ventrikel. (baca dulu Mahir Baca EKG: Basic ECG)

Aliran listrik yang diberikan pada puncak gelombang R akan menyebabkan terjadinya depolarisasi seluruh miokardium, sehingga masa refrakter memanjang, sehingga dapat menghambat dan menghentikan terjadinya re-entry, dan memungkinkan SA Node mengambil alih irama jantung menjadi irama sinus.

Dalam bahasa sederhananya saya suka mengandaikan sebagai sebuah demonstrasi massa karena krisis di negara Serinah. Karena seorang raja (SA Node) sedang sakit, negara menjadi tidak stabil. Akibatnya akan muncul pemberontak-pemberontak (re-entry) yang berusaha mengambil alih pimpinan. Tapi, hal itu justru membuat kondisi semakin kacau (Aritmia). Bagaimana agar kondisi kembali stabil? Butuh bantuan dari luar negri, sebuah bom pun dijatuhkan Negara Paman Sam (DC Shock). Akhirnya saat pemberontak kaget (refrakter), sang raja (SA Node) berhasil mengambil alih kendali penuh. Akhirnya negara tenang kembali (irama sinus).

*Jayus banget ya analoginya... Hehehe.

Kardioversi Pada Pasien Henti Jantung di IGD

Salah satu aplikasi populer DC Shock di IGD adalah ketika menangani pasien henti jantung. Henti jantung adalah kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan segera, tidak dibutuhkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mendetail sebelum kondisi pasien stabil. Coba perhatikan algoritma tatalaksana henti jantung di bawah ini.

Coba perhatikan, apa yang harus kamu lakukan pada pasien henti jantung setelah melakukan RJP dan memberikan oksigen? Memasang monitor defibrilator. Tujuannya untuk mengevaluasi apakah gangguan iramanya shockable atau non-shockable.

Salah satu langkah penting dalam algoritma tatalaksana henti jantung adalah menilai apakah iramanya shockable (VF/VT) atau non-shockable (Asystole/PEA) => Pelajari di DVD Mahir Baca EKG Basic => Mau daftar Waiting List? Klik disini

Misalnya kamu dapat pasien VT/VF, tatalaksana pasien sesnuai dengan algoritma di atas. Penatalaksanaan fibrilasi ventrikel (VF) atau ventrikel takikardia (VT) harus cepat dengan protokol resusitasi kardiopulmonal yang baku, meliputi defibrilasi sesegera mungkin, diikuti resusitasi jantung paru (RJP), dengan pemberian obat-obatan epinefrin, vasopresin dan amiodaron.

Penanganan utama ketika mendapatkan pasien dengan fibrilasi ventrikel adalah melakukan defibrilasi. Defibrilasi non-synchronized menggunakan energi 360 Joule gelombang monofasik atau 120-200 Joule gelombang bifasik.

Setelah dilakukan defibrilasi, segera lakukan RJP sebanyak 5 sikulus. Satu siklus terdiri dari 30 kompresi dada:2 ventilasi (30:2). RJP dilakukan jika pada pasien belum dipasang advanced airway (ETT). Jika pada pasien telah terpasang ETT, ventilasi diberikan 8-10 kali/menit sambil terus melakukan kompresi dada 100 kali/menit.

Pada VF, shock listrik menyebabkan hiperpolarisasi membran sel sehingga fibrilasi dapat dihentikan dan jantung dapat kembali ke irama sinus. Tatalaksana pasien henti jantung dengan VF, secara lebih detail dapat kamu baca di artikel sebelumnya.

Kardioversi elektrik paling efektif dalam menghentikan takikardia karena re-entry, misalnya

  1. Fluter atrial
  2. Fibrilasi atrial
  3. Takikardia nodal AV
  4. Reciprocating tachycardia karena sindrom Wolff Parkinson Wite (WPW)
  5. Takikardia ventrikel

Oh ya, mungkin sebagian dari kamu belum paham istilah re-entry. Sederhananya re-entry itu begini, kan jalur konduksi normal jantung dimulai dari SA node => AV node => Bundle His => Berkas Purkinje

Nah, kalau terjadi infark misalnya dari SA node ke AV node, maka AV node ini bisa menghasilkan konduksi litrik untuk di alirkan ke Bundle his sampai Berkas Purkinje. Namun, konduksi SA node ke AV Node putus, nggak ada konduksi. Nah, setelah infark membaik kan SA node akhirnya bisa kembali ngasih konduksi ke AV node, sayangnya AV node tidak mau berhenti menghasilkan listrik juga.

Jadi ada dua dirijen, SA Node dan AV Node, betul? Akibatnya terjadilah gerakan jantung yang tidak ritmis, atau kita sebut sebagai aritmia.

Tapi itu penjelasan sederhana banget lho, penjelasan yang lebih detail kamu bisa baca di buku 5 Rahasia PKV.

Oke, Lanjut ya...

Takiaritmia dapat juga terjadi karena pembentukan impuls (automaticity) yang bertambah seperti pada kelainan parasistol atau takikardia ideoventrikular. Gangguan irama seperti itu tidak perlu dilakukan kardioversi listrik karena akan kembali lagi dalam waktu singkat.

Indikasi Kardioversi

  1. Fibrilasi ventrikel
  2. Takikardia ventrikel, bila pengobatan medika-mentosa yang adekuat tidak berhasil menghenti-kan takikardia tersebut atau pasien dengan keadaan hemodinamik yang buruk.
  3. Takikardia supraventrikular yang tidak bisa dihentikan dengan pemberian obat-obatan atau keadaan hemodinamik yang buruk
  4. Fibrilasi atrial yang tidak bisa dikonversi menjadi irama sinus dengan obat-obatan.
  5. Fluter atial yang tidak bisa dikonversi menjadi irama sinus dengan obat-obatan.

Langkah-langkah Persiapan Kardioversi

Ilustrasi singkat bagaimana melakukan kardioversi dapat kamu tonton di video di atas.

Pada henti jantung (cardiac arrest) dengan fibrilasi ventrikel energi yang dibutuhkan
200-400 Joule.

Paddle pertama diberi jelly secukupnya dan diletakkan di dada bagian depan sedikit sebelah kanan sternum di sela iga III, paddle kedua setelah diberi jelly diletakkan di sebelah kiri apeks kordis.

Alat defibrilator dinyalakan dan dipilih tingkat energi yang ditentukan, alat untuk sinkronisasi gelombang R juga dinyalakan lalu kedua paddle diberi tekanan yang cukup dan alat dinyalakan dengan energi yang dibutuhkan, misalnya untuk fibrilasi ventrikel diberikan energi 200 Joule.

Bila belum berhasil dinaikkan menjadi 300 Joule sampai 400 Joule. Pasien yang menderita cardiac arrest paling sedikit harus dicoba 3 kali, sebagai awal tindakan resusitasi.

Kardioversi dapat mengembalikan irama sinus sampai 95%, tergantung tipe takiaritmia. Tetapi kadang-kadang gangguan irama timbul lagi kurang dan 12 bulan. Oleh karena itu mempertahankan irama sinus perlu dilakukan dengan memperbaiki kelainan jantung yang ada dan memberikan obat anti-aritmia yang sesuai. Bila irama sinus sudah kembali maka atrium kiri dapat mengecil dan kapasitas fungsional akan menjadi lebih baik.

Komplikasi Kardioversi

Salah satu komplikasi kardioversi yang umum adalah aritmia. Aritmia dapat timbul sesudah kardioversi secara listrik, karena sinkronisasi terhadap gelombang R tidak cukup sehingga shock listrik terjadi pada segmen ST atau gelombang T dan dapat menimbulkan fibrilasi ventrikel. Kalau kamu menemui kondisi ini, kamu dapat melakukan DC countershock sekali lagi.

Selain itu komplikasi lain yang dapat timbul adalah bradiaritmia atau asistol, sehingga di IGD-mu perlu disiapkan obat atropin dan pacu jantung sementara.

Komplikasi thromboemboli dilaporkan terjadi 1-3% pada pasien fibrilasi atrial kronik yang dikonversi menjadi irama sinus. Sehingga, pada pasien dengan fibrilasi atrial yang sudah lebih dari 23 hari sebaiknya diberi antikoagulan selama 2 minggu sebelum dilakukan tindakan kardioversi.

Hal ini terutama untuk pasien dengan stenosis mitral dengan atrium kiri yang membesar dan terjadi fibrilasi atrial yang baru.

Semoga Bermanfaat^^


=
Sponsored Content

Bukan rahasia umum, EKG adalah kompetensi "penting" dokter umum. Tidak hanya pada kasus nyeri dada spesifik (kecurigaan Sindroma Koroner Akut), ilmu EKG diperlukan untuk banyak kasus kegawatdaruratan lain (misal Henti Jantung dan Aritmia).

Kemarin tim DokterPost.com minta dr. Ragil Nur Rosyadi, SpJP untuk ngajari sejawat DokterPost.com tentang bagaimana biar sejawat bisa MAHIR BACA EKG. Ini video contoh analisis kasus blok jantung dari dr Ragil, SpJP

Videonya gedhe banget, hampir 7 GB. Biar sejawat di Papua dan Indonesia Timur yang lain bisa ikut belajar juga, akhirnya kami putuskan untuk distribusikan videonya dalam bentuk DVD.

Yang mau pesan MAHIR BACA EKG (BASIC-Non Aritmia-Aritmia), bisa kontak kami disini ya. Yang punya DVD MBE lengkap tanggal 17 kita mulai Group Belajar EKG ya^^

SMS/WA 085608083342 (Yahya) atau kontakin.com/dokterpost