/ kardiologi

Jangan Resepkan Kombinasi ARB/ACE Inhibotor Ya!

Kemarin, saya ditanya oleh seorang adik sejawat yang akan mengikuti tes UKMPPD (Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter). Dia menanyakan tentang contoh soal CBT (Computer Based Test), yang sebenarnya rutin kita temui sehari-hari, namun cukup menantang.

Pasien wanita 62 tahun datang untuk kontrol. Pasien memiliki riwayat diabetes melitus dan penyakit
jantung. Dari pemeriksaan fisik didapatkan TD 170/90 mmHg, Nadi 86x/m, RR 24 x/m, Tax 37,2.
Didapatkan ronki basah halus pada basal paru kiri dan kanan.

Obat antihipertensi apakah yang tepat untuk pasien tersebut?

A.ACE-i, ARB, Diuretik
B. ACE-i, ARB, Diuretik bila perlu
C. ACE-i, Diuretik, B-Blocker,
D. ARB, Diuretik, B-Blocker
E. ARB, B-Blocker, Diuretik

Sekilas, sebuah soal sederhana yang akan dengan mudah diselesaikan. Namun, tunggu dulu. Ada yang janggal. Seperti kita ketahui, ACE inhibitor dan ARB adalah dua obat yang menjadi pilihan pertama dalam penatalaksanaan gagal jantung kongestif.

Namun, seperti yang dilaporkan oleh Makani et al (2013) di journal BMJ, penggunaan kombinasi ACE inhibitor dan ARB (dua obat ini bekerja di titik renin-angiotensin aldosteron system/RAAS) memiliki angka kematian yang lebih tinggi dibanding penggunaan monoterapi. Penelitian meta-analisis ini menyebutkan bahwa penggunaan ARB/ACE inhibitor dapat menyebabkan efek samping jangka panjang: hipotensi, hipokalemia dan memperburuk gagal ginjal.

European Medicines Agency (EMA) menghimbau seluruh dokter di Eropa, dan dunia, untuk tidak meresepkan kombinasi ARB/ACE Inhibotor. EMA menggarisbawahi larangan kombinasi ARB/ACE Inhibitor terutama pada pasien hipertensi dengan diabetes nefropati, meski secara kesuluruhan penggunaan kombinasi dua obat tersebut tidak direkomendasikan.

Sebuah penjelasan yang menarik disampaikan oleh dokter Darrell di Medscape terkait untung rugi penggunaan kombinasi ARB/ACE Inhibitor. Secara teoritis, penggunaan dua blokade di RAAS akan memberikan out come klinis yang lebih baik dalam kontrol tekanan darah pasien. Teori tersebut didukung oleh banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kombinasi ARB/ACE Inhibitor memang mampu menurunkan tekanan darah lebih rendah dari monoterapi.

Ambil contoh penelitian oleh Azizi et al yang menyelidiki efek pemberian kombinasi enalapril dan losartan sebagai anti-hipertensi. Ternyata penggunaan kombinasi enalapril-losartan dapat mengurangi tekanan darah 3-4 mmHg lebih rendah bila dibandingkan monoterapi (enalapril saja atau losartan saja).

Namun, apakah dapat diambil kesimpulan bahwa kombinasi enalapril-losartan lebih baik dari monoterapi? Belum Tentu.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dilakukanlah sebuah penelitian ON TARGET yang dipublikasikan di NEJM. Penelitian tersebut ternyata menemukan fakta yang menarik dan penting. Dengan sampel penelitian yang besar (150.000 sampel) ternyata tidak ada beda efek terapi kombinasi ARB/ACE Inhibitor dengan monoterapi. Penggunaan kombinasi ARB/ACE Inhibitor bahkan dikaitkan dengan efek jangka panjang berupa angka kematian yang lebih tinggi dibanding monoterapi. Jadi kesimpulannya, penggunaan tunggal ARB atau ACE Inhibitor baik dalam mengendalikan tekanan darah pasien dengan gagal jantung. Namun, penggunaan kombinasinya bisa berbahaya. Jadi, jangan resepkan kombinasi ARB/ACE Inhibitor ya!


=

Sponsored Content


EIMED Merah adalah buku yang banyak direkomendasikan sebagai pegangan Dokter Umum di Instalasi Gawat Darurat. Buku ini adalah dasar untuk mempelajari buku EIMED Biru.

Buku ini membahas kasus gawat darurat secara mendasar berdasar keluhan utama.

Bayangkan ketika anda jaga IGD, pasien akan datang dengan keluhan utama (misal muntah, hematemesis-melena, penurunan kesadaran) atau dengan diagnosis spesifik (mis ketoasidosis diabetes, perforasi gaster, stroke perdarahan) ?

Betul, pasien datang dengan keluhan utama. Seperti itulah sistematika penulisan EIMED MERAH. Jadi kamu akan diajak untuk

  1. Menganalisis kasus berdasar keluhan utama
  2. Menganalisis diagnosis spesifik,
  • Apa saja anamenesis yang ditanyakan?
  • Apa saja pemeriksaan klinis yang harus dilakukan?
  • Apa saja pemeriksaan penunjang yang akan diusulkan?
  • Terapi umum untuk stabilisasi pasien, sembari melakukan work up untuk mencari diagnosis spesifik

Salah satu topik favorit di EIMED MERAH adalah kegawatdaruratan kardiologi (EMERGENCY CARDIO).

Seperti kita ketahui bersama, 9 dari 10 pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan henti jantung akan meninggal. Hanya 1 pasien yang hidup, yakni pasien yang mendapatkan cardiac life support yang bagus.

Kegawatdaruratan bidang kardiologi yang dengan angka mortalitas tinggi adalah henti jantung dan arritmia (bradiaritmia dan takiaritmia). Upaya terbaik untuk mencegah kematian pasien yang berada dalam kondisi tersebut adalah melakukan adult cardiac life support, yang dibahas secara mendalam di BUKU EIMED MERAH.

Berita baiknya, setiap pemesanan EIMED MERAH via DokterPost.com kamu akan mendapatkan bonus DVD EMERGENCY CARDIO (senilai 156 ribu)

Mau Pesan EIMED MERAH?

Kamu bisa langsung kontak SMS/WA 085608083342 (Yahya) atau inbox FB DokterPost ya^^