Indikasi Pemasangan Pacu Jantung

Ini adalah laporan kasus dari salah satu sejawat di group Diskusi Kasus Klinis 002. Kasusnya menarik, dan mungkin akan sering kamu temukan dalam praktek sehari-hari.

Jadi, pasien ini datang hanya dengan hipertensi dan riwayat dislipidemia kronik. Tidak ada klinis mengarah sebuah kondisi jantung yang berat. Dilakukan pemeriksaan EKG dan ditemukan gambaran seperti foto di atas.

Coba kamu lihat, ini adalah gambaran total av blok. Masih ingat kan pembahasan di artikel sebelumnya? Total av blok ditandai dengan jarak gelombang P ke P teratur, tapi komplesk QRS tidak mengikuti munculnya gelombang P. Atau sederhananya disebut AV disosiasi. Ibarat suami-istri, keduanya sudah tidak saling bicara, hehe.

Oke, jadi bagaimana tatalaksana pasien dengan total av blok?

Terapi definitifnya adalah dipasang pacu jantung sementara (temporary pacemaker). Biasanya kamu akan dapat bradiaritmia, kamu bisa kasih Sulfas Atropin 2 ampul (max 12 ampul/hari). Bila tidak respons kamu bisa mulai drip dopamin.

Tatalaksana pasien AV Blok yang tepat sangat berkorelasi dengan kemampuan dokter untuk membaca hasil EKG. Pada beberapa kasus, AV Blok dapat misdiagnosis karena dokter kurang cermat dalam membaca hasil EKG.

Dasar-dasar membaca EKG dapat kamu pelajari melalui DVD Mahir Baca EKG dari dr. Ragil, SPJP. Kalau mau pesan bisa klik kontakin.com/dokterpost atau SMS/WA 085608083342 (Yahya) ya^^

Indikasi Pemasangan Pacu Jantung Sementara

Secara garis besar pacu jantung (pacemaker) dapat dibagi menjadi pacu jantung sementara (TPM, kurang dari 30 hari) atau menetap (PPM), bergantung pada gangguan yang timbul apakah sementara atau menetap. Pada keadaan akut yang belum pasti biasanya dipasang dulu TPM, sedang pada keadaan tertentu yang sudah pasti, langsung dipasang PPM.

Beberapa kondisi paling sering membutuhkan pemasangan PPM adalah

  1. Gangguan hantaran
  • Blok AV total
  • Blok AV derajat 2 dengan bradikardia (simptomatis)
  • Bifasicular block (simptomatis)
  1. Sick sinus syndrome (SSS)

Penggunaan TPM lebih sering lagi dilakukan. Pasien dengan AV blok derajat 2 tipe 2 dan AV blok derajat 3 adalah diantara indikasi pemasangan TPM yang banyak dijumpai dalam praktek sehari-hari. TPM dapat dipasang tidak untuk langsung dipakai, melainkan hanya untuk persiapan kalau-kalau ternyata diperlukan (profilaksis).

Pemasangan pacu jantung diindikasikan untuk menghilangkan gejala klinis gangguan irama jantung, seperti pusing-pusing sampai sinkop, berdebar sampai meninggal mendadak atau dekomp jantung. Pacu jantung sementara dipakai juga untuk mengatasi keadaan-keadaan sementara ketika pasien menjalani anestesia umum, operasi jantung, tindakan-tindakan jantung (kateterisasi, PTCA dan lain-lain), penggantian generator pacu jantung, dan kondisi lain.

Beberapa keadaan yang memerlukan pemakaian pacu jantung adalah:

Kondisi I

  1. Blok A-V derajat 3 atau derajat 2 permanen atau intermiten diikuti dengan:
  • takikardia/bradikardia simtomatis
  • gagal jantung
  • keadaan-keadaan yang memerlukan pemakaian obat yang menekan automatisitas iantung
  • Asistol 3 detik atau lebih
  • Atrial flutter parorysmal.
  1. Blok A-V derajat 2 yang berat (advanced) atau derajat 3 yang persisten sesudah infark jantung akut (paling sering infark anterior).
  2. Blok bifasikular dengan blok A-V intermiten derajat 3 atau derajat 2 tipe 2, dengan gejala gejala.
  • Dysfungsi A-V node (SSS) dengan bradikardia
    simtomatis (tanpa/dengan terapi dan tak ada obat
    alternatif lain).
  • Sindrom karotis hipersensitif
  • Sinkop berulang yang timbul spontan ataupun dengan rangsangan karotis
  • Pasien dengan asistol selama 3 detik atau lebih pada rangsangan karotis minimal.

Kondisi II

  1. Blok A-V derajat 3 atau 2 tipe ½ asimtomatis, permanen atau intermiten, dengan frekuensi ventrikel 40 kali/menit atau lebih
  2. Blok A-V derajat 1 menetap dengan BBB yang baru atau blok A-V derajat 2 berat (advanced) meski sementara, disertai BBB
  3. Blok bi/tri fasikular dengan sinkop tanpa sebab lain, atau dengan blok A-V derajat 2 yang berat meski asimtomatis.
  4. Dysfungsi sinus node (SSS) spontan atau karena terapi yang diperlukan, dengan frekuensi nadi kurang dari 40 kali/menit, simtomatis.
  5. Pada sindrom karotis hipersensitif dengan sinkop yang berulang walaupun adanya rangsangan karotis tak jelas.

Kondisi I adalah indikasi kuat pemasangan PPM, sedangkan pada kondisi II biasanya diperlukan PPM, meskipun beberapa ahli berpendapat hanya diperlukan TPM, selanjutnya bisa dilepas bila kondisi klinis pasien tetap stabil.

Kondisi III

Ada pula PPM yang dipakai sebagai defibrilator automatis, yaitu suatu alat menyerupai pacu jantung yang memantau irama jantung dan bila tiba-tiba muncul takiaritmia ventrikel atau fibrilasi ventrikel maka alat ini akan mengeluarkan arus listrik yang cukup besar dan berlaku sebagai defibrilator internal untuk mengoreksinya.

Semoga Bermanfaat^^


=
Sponsored Content

Bukan rahasia umum, EKG adalah kompetensi "penting" dokter umum. Tidak hanya pada kasus nyeri dada spesifik (kecurigaan Sindroma Koroner Akut), ilmu EKG diperlukan untuk banyak kasus kegawatdaruratan lain (misal Henti Jantung dan Aritmia).

Kemarin tim DokterPost.com minta dr. Ragil Nur Rosyadi, SpJP untuk ngajari sejawat DokterPost.com tentang bagaimana biar sejawat bisa MAHIR BACA EKG. Ini behind the scene pembuatan videonya.

Videonya gedhe banget, hampir 7 GB. Biar sejawat di Papua dan Indonesia Timur yang lain bisa ikut belajar juga, akhirnya kami putuskan untuk distribusikan videonya dalam bentuk DVD.

Yang mau pesan MAHIR BACA EKG (BASIC-Non Aritmia), bisa kontak kami disini ya

kontakin.com/dokterpost atau SMS/WA 085608083342 (Yahya)