/ diabetes

Hati-Hati, Rifampisin Menurunkan Efektivitas Glibenklamid!


Indonesia harus waspada Tuberkulosis (TB)-Diabetes, mengingat prevalensi Diabetes Melitus (DM) yang semakin meningkat di Indonesia dan sejawah lama epidemi TB di Indonesia. Penelitian Alisjahbana (2006) menyebutkan bahwa 13,2% pasien TB menderita juga DM. Itu artinya, kira-kira setiap anda menangani 10 pasien TB, setidaknya ada 1 pasien yang menderita DM sebagai komorbid.

Masalah menjadi pelik karena TB dan DM adalah sama-sama tergolong dalam penyakit yang harus ditangani di fasilitas kesehatan primer. Seperti kita ketahui, fasilitas kesehatan primer di Indonesia masih terbelenggu dengan minimnya plihan obat farmakologis dan sarana diagnostik. Padahal, infeksi TB yang terjadi pada pasien dengan DM bukanlah masalah sederhana. Jika tidak tepat dalam melakukan terapi, bisa jatuh pada kondisi multi-drug resistant (MDR).

Pitfals yang banyak terjadi dalam penanganan kasus TB pada DM adalah pemberian obat yang tidak tepat. Di Puskesmas kita sering dihadapkan pada keterbatasan pilihan obat-obatan DM. Insulin injeksi masih merupakan barang langka yang sering sulit didapatkan terutama di puskesmas luar jawa. Banyak cerita dari sejawat di luar Jawa yang "hanya" memiliki glibenklamid sebagai obat DM pilihan.

Seperti kita ketahui, pasien TB di puskesmas dirawat dengan obat Fixed Drug Combination (FDC). Obat TB FDC lini pertama memiliki komposisi tetap: Isoniazid, Rifampisin, Ethambutol dan Pyrazinamide (HRZE), yang diberikan setiap hari selama dua bulan. Terapi tersebut diikuti dengan pemberian FDC berisi Isoniazid dan Rifampisin (HR) yang diberikan tiga kali seminggu selama empat bulan.

Yang sering tidak disadari adalah rifampisin dapat menurunkan efektivitas glibenklamid! Akibatnya pasien TB yang mendapatkan FDC sekaligus glibenklamid sering mengalami kenaikan gula darah yang relatif tinggi. Hal tersebut tentu dapat menyebabkan kegagalan dalam pengobatan TB.

Interaksi Rifampisin dan Glibenklamid

Rifampisin memiliki efek penurunan efektivitas obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea, contohnya glibenklamid. Sebuah penelitian di India menyebutkan bahwa 15 dari 17 penderita TB dengan komorbid DM membutuhkan modifikasi dosis (peningkatan dosis) glibenklamid untuk mencapai target glukosa darah (Surekha dkk, 1997). Namun dalam Pedoman Penatalaksanaan TB yang disusun Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), jumlah rentang dosis yang disarankan masih belum dilaporkan.

Rifampisin dan Glibenklamid berinteraksi satu sama lain. Rifampisin adalah obat yang memiliki efek yang kuat menginduksi sekresi enzim mikrosom hati. Penggunaan Rifampisin ternyata memberikan efek negatif pada upaya kendali gula darah yang tepat. Modifikasi pada dosis terapi dibutuhkan untuk mencapai kadar gula darah yang diinginkan.

Penelitian Alisjahbana (2007) melaporkan bahwa kondisi hiperglikemia pada DM berhubungan dengan kegagalan terapi TB. Sekitar 22,2% kultur dahak pasien TB dengan DM menunjukkan hasil positif. Perbaikan kadar gula darah diduga akan memberikan respon terapi yang lebih baik pada pasien.

Penanganan TB yang tidak adekuat pada pasien dengan komorbid DM, diduga juga berhubungan dengan munculnya MDR-TB. Penelitian Subhash dkk (2003) di India Selatan menunjukkan bahwa 26% pasien TB yang memiliki DM ternyata pada akhirnya menderita MDR-TB.

Kehati-hatian dalam memilih obat diabetes oral dalam pengobatan TB komorbid DM merupakan hal krusial dalam penatalaksanaan pasien. Kesalahan dalam jenis dan dosis obat yang dipilih sangat berpotensi merugikan pasien, infeksi TB tidak sembuh bahkan dapat berkembang menjadi MDR-TB.

Jika fasilitas kesehatan memungkinkan, insulin injeksi dapat dipilih untuk memastikan kontrol gula darah yang lebih baik. Penggunaan obat anti-diabetes oral di luar golongan sufonilurea juga dapat digunakan, contohnya: metformin, tiazolidinediones (TZD) dan akarbose. Jika tidak memungkinkan, maka penggunaan obat sulfonilurea dengan dosis yang lebih besar dapat digunakan dengan monitoring glukosa darah yang disiplin.

Semoga bermanfat.


=
Sponsored Content

Yuk dapatkan segera Buku Panduan Praktis Klinis Penatalaksanaan Penyakit Dalam, karya terbaru dari PAPDI terbitan 2015.

Buku ini sudah dipesan lebih dari 100 sejawat dokter post di seluruh Indonesia Lho!

Untuk pemesanan, Langsung saja

SMS/WA 085608083342 (Yahya)