Farmakoterapi Obat Adrenergik

"Aktivitas saraf simpatis (adrenergik) sangat berguna bila hanya berdurasi sebentar, maka pemberian obat-obat adrenergik selalu diusahakan dalam dosis sekecil mungkin dan dalam waktu sesingkat mungkin" (Prof. Peter Kabo, SpJP., PhD)

Ini adalah artikel lanjutan dari artikel sebelumnya berjudul Dasar Farmakoterapi Jantung dan Pembuluh Darah. Dalam artikel tersebut, aku sudah bahas tentang farmakoterapi obat adrenergik golongan katekolamin (epinefrin, norepinefrin, dopamin, dobutamin).

Dalam artikel ini kita akan membahas aspek farmakodinamik obat adrenergik non-katekolamin

Farmakoterapi Obat Adrenergik

Seperti sudah aku tulis di artikel sebelumnya, kunci penting memahami farmakodinamika obat adrenergik adalah mengenali efek simpatis pada tubuh, meliputi: inotropik positif (peningkatan kontraktilitas jantung), kronotropik positif (peningkatan heart rate), vasokonstriksi dan peningkatan tekanan darah. Namun, perlu diingat bahwa masing-masing obat adrenergik memiliki mekanisme spesifik tertentu.

Efedrin

Efedrin adalah obat yang cukup populer karena efeknya sebagai dekongestan. Efedrin juga banyak ditemukan di berbagai obat over the counter (OTC) atau obat yang dijual bebas. Efedrin termasuk dalam golongan adrenergik karena merangsang adrenoreseptor alfa dan beta. Selain itu, efedrin juga memiliki efek peningkatan pelepasan katekolamin di sirkulasi.

Secara farmakodinamik, hampir bisa diduga bahwa efek efedrin hampir sama dengan epinefrin yaitu

  1. inotropik positif
  2. kronotropik positif
  3. vasokonstriksi

Efedrin memang tidak memiliki efek sekuat epinefrin, namun efedrin memiliki keunggulan efek yang lebih panjang dan dapat diberikan per oral.

Indikasi

Pada pasien rinitis yang mengalami hidung buntu, efedrin dapat digunakan sebagai decongestan dengan dosis 15-60 mg diberikan 3 kali/hari.

Efedrin HCl banyak dikombinasikan dengan teofilin sebagai terapi asma bronkiale. Misalnya, pada obat OTC merk Neo Napacin mengandung Efedrin HCl 25 mg dan Teofilin 130 mg. Efedrin HCl sebagai terapi asma dapat diberikan 3 kali sehari.

Kontraindikasi dan Efek Samping

Karena memiliki efek kronotropik positif, inotropik positif dan vasokonstriksi maka obat ini harus hati-hati diberikan pada pasien hipertensi, penyakit jantung koroner atau pasien dengan risiko stroke yang tinggi.

Salbutamol dan Agonis Beta-2 Lainnya

Meskipun masih memiliki efek terhadap reseptor beta-1, obat golongan salbutamol dan sejenisnya (metaproterenol, salmeterol, formoterol, dan terbutaline) disebut sebagai agonis beta-2 karena merangsang reseptor adrenergik beta-2 lebih dominan. Obat golongan ini biasanya tidak mempengaruhi kerja jantung jika diberikan dalam dosis kecil. Namun, ketika dosis ditingkatkan efeknya juga akan mempengaruhi kerja jantung dan organ lain.

Agonis beta-2 short acting (salbutamol, metaproterenol, terbutaline), dapat digunakan untuk mengobati serangan asma akut. Pemberiannya secara oral atau inhalasi. Salah satu yang populer adalah ventolin yang merupakan salah satu merk dagang salbutamol.

Salbutamol sebagai terapi serangan asma akut dapat diberikan secara

  1. Oral: 4 mg, 3-4 kali sehari (Dewasa). 2 mg, 3-4 kali/hari (Lansia dan Pasien yang Sensitif). Tablet 200 mcg/kgbb 4 kali/hari (anak di bawah 2 tahun). Tablet 1-2 mg 3-4 kali/hari (anak > 2 tahun).
  2. Injeksi subkutan atau intramuskular: 500 mcg diulang tiap 4 jam bila perlu
  3. Infus intravena lambat: 250 mcg, diulang bila perlu.
  4. Infus intravena: awal 5 mcg/menit, lalu disesuaikan dengan respons dan denyut jantung, lazimnya antara 3-20 mcg/menit, atau lebih bila perlu
  5. Inhalasi aerosol: 100-200 mcg (1-2 hirupan). Untuk gejala yang persisten 3-4 kali sehari, anak 100 mcg (1 hirupan) dapat dinaikkan menjadi 200 mcg (2 hirupan) bila perlu.

Inhalasi nebuliser salbutamol dapat diberikan untuk untuk asma akut yang berat dan bronkospasme kronis. Terapi ini dapat diberikan pada pasien dewasa dan anak > 18 bulan dengan dosis 2,5 mg (dapat diberikan 4-5 kali). Pantau perbaikan klinis pasien setiap habis satu ampul, nilai response terapi.

Pada pasien asma persisten, dapat dipilih agonis beta-2 long acting, misalnya salmeterol dan formoterol. Namun, sering kali obat tersebut perlu dikombinasi dengan kortikosteroid misalnya formoterol-budesonide (merk dagang Symbicort).

Efek samping penggunaan salbutamol dan obat agonis beta-2 yang lain sering kali disebabkan oleh sediaan oral. Efek samping yang dilaporkan meliputi tremor, takikardia, nyeri kepala, hiperglikemia dan hipokalemia. Harus hati-hati menggunakan sediaan oral pada pasien hipertensi, penyakit jantung koroner dan decomp cordis.

Penggunaan obat-obatan adrenergik penting diperhatikan dalam praktek sehari-hari karena sangat luas aplikasinya tidak hanya sebagai terapi penyakit kardiovaskuler, tetapi juga common cold (decongestan) sampai asma bronchiale. Penting untuk diperhatikan pemberian obat-obat adrenergik pada pasien hipertensi, Penyakit Jantung Koroner dan pasien dengan risiko stroke tinggi.

Semoga Bermanfaat^^


=
Sponsored Content

Tahu nggak, kenapa kok DVD-DVD Kardio dr Ragil, SpJP bisa laku keras banget?

Soalnya materi yang disampaikan di

  1. DVD Sindroma Koroner Akut
  2. DVD Baca Cepat ECG (Dalam Perspektif ACLS)
  3. DVD Hipertensi pada Faskes Primer

sangat simpel dan aplikatif. Pas banget diterapin di Puskesmas, dan IGD.
Istilahnya dr Ragil mencoba menyederhanakan hal rumit dibalik penanganan pasien Hipertensi, SKA dan Aritmia berdasarkan pengalaman beliau sebagai kardiologis dalam bekerja sama dengan dokter umum.

Berikut sedikit preview DVD Sindroma Koroner Akut in Daily Practice tentang pentingnya analisis faktor risiko dalam membedakan kelainan Sindroma Koroner Akut vs Dispepsia.

Harganya 156 ribu/DVD (belum termasuk ongkos kirim).

Pemesanan via SMS/WA 0856 0808 3342 (YAHYA) atau klik link order ini

Eh, lagi ada promo lho (01 Januari-05 Januari 2018 ... Tanyain promonya ke Yahya ya^^