/ Duduk

Duduk Terlalu Lama, Resiko Perlemakan Hati

Gaya hidup "rendah aktivitas" (sedentary lifestyle) sudah lama didaulat sebagai pemicu berbagai macam penyakit kronik mematikan. Hasil penelitian terbaru melaporkan bahwa "overdosis" duduk akan menyebabkan anda lebih rentan mengidap Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) (Ryu dkk, 2015).

Sebuah penelitian besar yang melibatkan hampir 140 ribu orang korea ini menyelidiki hubungan antara lama waktu duduk, tingkat aktivitas fisik dan kejadian NAFLD. Dari 140 ribu orang yang diteliti, ada 40 ribu orang yang menderita NAFLD. Analisis statistik menunjukkan bahwa waktu duduk yang lama (>10 jam/hari) adalah faktor resiko independen untuk terjadinya NAFLD.

Sederhananya, tanpa memiliki faktor resiko yang lain, waktu duduk yang lama saja sudah dapat memicu NAFLD. Hasil penelitian ini memberikan sebuah pesan yang sangat jelas, kurangi waktu duduk anda agar hidup lebih sehat.

NAFLD dan Penyakit "Pembunuh" Terkait

NAFLD adalah salah satu penyebab perlemakan hati. NAFLD terjadi karena penimbunan lemak (steatosis) di organ liver yang disebabkan oleh berbagai faktor resiko, kecuali alkohol. Di negara barat, perlemakan hati sering disebabkan oleh konsumsi alkohol yang berlebihan.

NAFLD sering dikaitkan dengan kondisi obesitas yang telah menjadi endemik di USA. 1 dari 3 orang USA menderita obesitas, dan 1 dari 10 orang Amerika menderita NAFLD.

Terlalu banyak duduk menyebabkan ketidakmampuan tubuh untuk membakar kalori makanan menjadi energi, sehingga ditimbun dalam bentuk sel lemak. Sel lemak yang terus mengalami hipertrofi selanjutnya akan mengeluarkan sitokin pro-inflamasi yang menyebabkan resistensi insulin di jaringan liver.

Akibatnya, liver mengalami steatohepatosis (penimbunan lemak di sel hepatosit). Bila dibarkan terus menerus, hal itu akan memicu fibrosis dan nekrosis sel hepatosit sehingga menyebabkan sirosis sampai kanker hati (Chalasani dkk, 2012).

Beberapa Rekomendasi Penting Dalam Mananjemen NAFLD

Kami mencoba merangkum 3 rekomendasi penting dalam guideline diagnosis dan terapi NAFLD yang diterbitkan oleh American Association for The Study of Liver Disease, yaitu:

  1. Penurunan berat badan (3-5%) bermanfaat untuk memperbaiki kondisi steatosis pada pasien NAFLD (Level of Evidence 1B).
  2. Obat golongan pioglitazone terbukti efektif memperbaiki kondisi klinis pasien stetaohepatosis non-diabetik yang telah terdiagnosis pasti secara histo-PA (Level of Evidence 1B).
  3. Pemberian vitamin E 800 IU/hari disarankan sebagai terapi lini pertama pasien steatohepatik non-diabetik yang telah terdiagnosis pasti secara histo-PA (Level of Evidence 1B).

Semoga bermanfaat. Jangan lupa share ya!