/ dokter

Dokter, Berbahagialah!


Kemarin, seorang dokter senior yang seorang konsulen penyakit dalam berkunjung ke ruang kerja saya. Beliau bercerita banyak tentang BPJS, sistem rujukan regional sampai gaji dokter saat ini.

Senior tersebut bercerita bahwa saat ini adalah masa transisi sekaligus turbulensi bagi para dokter. Ini adalah masa yang sama yang dihadapi dokter Amerika tahun 1970. Sebuah masa transisi dari model pendapatan fee for service menjadi universal coverage.

Beliau bercerita, menjadi dokter sepuluh tahun lalu adalah sebuah masa emas. Dokter adalah raja, pasien juga senang dirawat oleh sang raja. Penghasilan dokter dibanding rata-rata penghasilan masyarakat seperti langit dan bumi. Punya tanah berhektar-hektar atau rumah yang menjamur adalah hal biasa bagi seorang dokter, terutama dokter spesialis. Namun, menjadi dokter saat ini tidak semudah itu.

Hati saya hanya kecut, namun masih mendengarkan dengan takzim.

Dulu, tahun 1967, dokter di Amerika meraih puncak kesuksesan setelah diberlakukan Medicare (semacam Askes untuk Lansia). Pendapatan dokter mulai meningkat tajam. Tahun 1940 pendapatan dokter pertahun di Amerika adalah USD 50.000,00. Tahun 1970, setelah Medicare diperkenalkan, pendapatan dokter per tahun sudah mendekati USD 250.000,00. Pendapatan dokter meningkat hingga 5 kali!

Tahun 1974, pendapatan dokter di Amerika terus meningkat dari tahun ke tahun, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Begitu juga biaya kesehatan nasional meningkat tajam. Celakanya, sebagian dokter diketahui banyak melakukan Fraud.

Banyak obat paten dengan harga mahal yang diresepkan tidak sesuai indikasi dan pemeriksaan diagnostik tanpa indikasi yang dilakukan. Mereka tercatat melakukan 2,4 juta operasi yang tidak perlu, yang menelan biaya USD 4 Milyar, dan ditengarai menyebabkan 12.000 kematian terkait tindakan medis!

Saat ada "kerusakan" maka alam akan merespon untuk menyeimbangkan. Health Maintenance Organizations (HMO) mengkampanyekan kendali mutu dan kendali biaya di bidang pelayanan kesehatan. Akibatnya, dokter-dokter menghadapi tekanan luar biasa dengan kampanye tersebut yang memicu berbagai penolakan di kalangan dokter. Semakin hari kepuasan kerja dokter semakin menurun.

Penghasilan dokter sejak tahun 1970-an relatif semakin menurun. Tahun 1970, dengan memperhitungkan tingkat inflasi, penghasilan dokter umum di Amerika adalah USD 185.000,-/tahun. Pada tahun 2010, penghasilan dokter umum menurun hingga USD 160.000,-/tahun, meskipun beban kerja meningkat dua kali lipat. Banyak dokter di Amerika bahkan menyampaikan bahwa mereka tidak berencana menyekolahkan anak mereka di Sekolah Kedokteran.

Itulah mengapa banyak dokter di Amerika saat ini merasa tidak puas, tidak bahagia. Seiring dengan menurunnya penghasilan, masyarakat dan media juga semakin "menggerus" kebahagiaan dokter, dengan banyaknya pemberitaan negatif dan tuntutan malpraktik. Dokter yang tidak bahagia, akan menyebabkan pasien yang tidak bahagia.

Jamak kita ketahui menurunnya kualitas hubungan dokter pasien. Dulu pasien masih bisa bangga mengatakan, "Dia adalah dokter Saya." Kini orang sudah tidak punya "Dokter Saya".


Kini, Indonesia menghadapi masalah yang sama. BPJS mulai beroperasi sejak 1 Januari 2014. Hampir dua tahun BPJS berjalan kita dapat memotret fenomena yang terjadi. Seorang dokter internis di RSUD bisa mengalami peningkatan pendapatan 2-4 kali lipat, meskipun jumlah pasien juga meningkat 5-8 kali lipat.

Dokter bedah dan obgyn harus rela kehilangan puluhan pasien umum setiap bulan, diganti dengan ratusan pasien BPJS yang tentu dengan jasa medik "standar BPJS". Puluhan ribu dokter umum di Puskesmas merasakan kenaikan pendapatan 3-5 kali lipat semenjak BPJS di selenggarakan. Saat ini kita sedang menuju ke arah turbulensi.

Kita akan menuju rezim rumah sakit. Suatu masa dimana tidak ada lagi "Dokter Saya". Saat dokter spesialis hanya dapat bekerja di rumah sakit, dan dokter umum hanya bisa bekerja di Puskesmas atau klinik swasta. Dokter hanya akan menjadi komoditas, karyawan biasa, yang dapat diganti sewaktu-waktu ketika manajemen rumah sakit sudah tidak puas dengan kinerja dokter.

Apakah dokter Indonesia juga akan bernasib sama dengan dokter Amerika? Tidak bahagia dan cenderung tidak bangga dengan profesinya? Mungkin saja.

Namun, kita masih tetap bisa memilih untuk bahagia. W. Randal Jones dalam buku-nya, The Richest Man in Town, mengatakan bahwa orang-orang terkaya di setiap kota di Amerika selalu memiliki prinsip yang sama, tidak menjadikan uang sebagai satu-satunya tujuan.

Kita tetap dapat memilih untuk bahagia, di tengah berbagai himpitan dan turbulensi yang sedang terjadi. Jangan jadikan uang sebagai satu-satunya tujuan! Selama kita memberikan nilai yang terbaik untuk pasien, selama itu pula kita akan selalu bahagia. Selama pasien masih tersenyum setelah sembuh dari penyakitnya dengan perantara pena atau pisau kita, selama itu pula lah kita akan bahagia.

Kita pasti masih bisa memilih untuk bahagia. Bagaimana dengan sejahtera? Masihkah kita bisa memilih untuk sejahtera? Bisa, asalkan kita kompak berjuang bersama memperjuangkan kesejahteraan kita.

Bagaimana menurut anda, sejawat?