/ Internal Medicine

Diagnosis dan Terapi Gawat Darurat Sengatan Listrik

Sengatan listrik adalah suatu reaksi fisiologis yang ditandai dengan adanya nyeri dan spasme otot, akibat adanya kontak dengan sumber listrik dan penjalaran arus listrik ke seluruh tubuh. Tubuh manusia merupakan konduktor (perantara) yang baik bagi listrik. Luka bakar, kerusakan organ dalam, gangguan irama jantung, dan bahkan kematian dapat di sebabkan oleh sengatan listrik ini.

Diagnosis dan Terapi Sengatan Listrik di IGD

Kemarin aku dapat kasus menarik dari sejawat. Seorang pasien wanita usia 20 tahun tersengat listrik "magicom". Sesaat setelah tersengat listrik, pasien mengeluh dada berdebar dan memutuskan untuk periksa ke IGD.

Ketika sampai di IGD keluhan berdebar sudah tidak ada, vital sign dalam batas normal. Kemudian pasien dilakukan EKG dan didapatkan gambaran EKG seperti di bawah.

Coba perhatikan lead V1 dan V6, ada yang aneh nggak? Ya, ada gelombang QRS yang lebar (> 3 kotak kecil) di V1. Berarti ada blok di ventrikel, kanan atau kiri? V1 punyanya ventrikel kanan. Jadinya, bloknya di ventrikel kanan atau disebebut RBBB (Right Bundle Branch Block).

Sekarang lihat V6, gelombang S melebar ya. Jadi cocok ya, memang RBBB^^. Pada pasien seperti ini kamu harus melakukan observasi seenggaknya 1x24 jam. Selain untuk evaluasi kerusakan organ dalam (e.g mioglobinuria), juga untuk evaluasi listrik jantungnya.


=
Sponsored Content

Cara Asik Bedain LBBB vs RBBB

LBBB atau RBBB adalah adanya blok di bundle branch yang ada di ventrikel. Karena blok di ventrikel, berarti yang melebar apa? Gelombang qrs, setuju ya? Kan qrs menggambarkan ventrikel.

Kriteria LBBB adalah gelombang QRS yang melebar lebih dari 0.12 s atau 3 kotak kecil. Gelombang QRS mana yang lebar? Karena LBBB kan LEFT bundle branch blocks. Jadi blok nya kan di kiri. Jadi gelombang QRS yang lebar di V6. V6 kan punya ventrikel kiri ya. Dan disertai gelombang s yang lebar di v1. Gampang kan?

Kalau RBBB kan kanan, jadi kebalikan-nya LBBB. Jadi gelombang QRS lebar di V1, dan gelombang S yang lebar di V6. Jadi gambaran RBBB ini mirip RVH tapi gelombang QRS-nya lebar. Mudeng kan?

Kalau pengen lebih jelas kamu bisa pelajari di DVD Mahir Baca EKG, kamu bisa pesan ke CS kita (Yahya) via kontakin.com/dokterpost


=

Diagnosis Klinis Sengatan Listrik

Gejala Klinis Sengatan Listrik

Pasien yang mengalami luka bakar akibat voltase listrik yang tinggi akan menunjukkan adanya luka bakar yang hebat dan memerlukan perawatan rumah sakit yang cukup lama dengan berbagai macam komplikasi. Pasien yang mengalami luka akibat petir dan listrik tegangan rendah tidak mengalami luka yang terlalu berat seperti diatas, tetapi pernah dilaporkan juga adanya henti jantung paru.

Pasien yang mengalami sengatan listrik tegangan rendah baru akan terlihat kondisi medis lainnya setelah resusitasi. Pasien-pasien ini memiliki angka kematian yang cukup tinggi akibat sindrom nyeri atau kerusakan otak yang serupa dengan trauma tumpul kepala.

Manifestasi Klinis Sengatan Listrik Berbasis Sistem Organ:

Kepala dan Leher

Kepala merupakan organ tubuh yang mengalami kontak tersering dengan arus listrik tegangan tinggi dan pasien menglamai luka bakar dan kerusakan neurologis. Katarak dapat terjadi pada sekitar 6% kasus.

Sistim Kardiovaskular

Henti jantung, baik itu asistol atau fibrilasi ventrikel, adalah sebuah bentuk yang paling sering dari cedera akibat arus listrik. Infark miokard akut jarang dilaporkan.

Kulit

Daerah yang paling sering kontak adalah tangan dan kepala. Daerah terbawah yang paling sering kontak dengan arus listrik adalah tumit. Seorang pasien dapat mengalami berbagai macam sumber kontak. Luka bakar pada beberapa kecelakaan listrik dapat berwujud tidak nyeri (painless), agak turun (depressed), abu-abu kekuningan, ada daerah yang ber "pungtata" dengan nekrosis sentral, atau daerah yang mati. Yang khas dari kelainan kulit pada sengatan listrik adalah "kissing burn", dimana terjadi pada lipatan otot flektor.

Ekstermitas

Pada cedera akibat arus listrik tegangan tinggi, nekrosis otot dapat meluas jauh dari kulit yang terlihat ada lukanya. Sindrom kompertemen dapat terjadi akibat iskemia vaskular dan edema otot. Dapat terjadi mioglobunurik.

Diseluruh ekstermitas harus dilakukan pemeriksaan nadi dan pengisian kapilernya, dan pemeriksaan neurovaskular harus dilakukan berkali-kali. Dapt terjadi nekrosis koagulasi, trombosis dan perdarahan, terutama pada arter-arteri kecil otot.

Sistim Skeletal

Fraktur tulang panjang yang disebabkan karena trauma dapat dihubungkan dengan adanya cedera sengatan listrik ini. Dislokasi kedua bahu posterior dan anterior yang disebabkan karena spasme tetani otot rotator cuff juga pernah dilaporkan, seperti juga adanya fraktur spinal.

Sistem Saraf

Pada luka akibat arus listrik tegangan tinggi, hilangnya kesadaran dapat terjadi tapi biasanya sementara, kecuali disertai dengan luka kepala yang cukup berat. Koma yang memajang dapat pelan-pelan membaik. Pasien dapat mengalami kebingungan, afek datar, dan kesulitan mengingat memori jangka pendek, kejang atau kesulitan berkonsentrasi.

Kerusakan neurologis yang tertunda dapat memiliki gejala klinis tahunan setelah kejadian. Biasanya yang di dapatkan adalah paralisis asending, sclerosis lateral amiotropic, atau mielitis transversal.

Organ Tubuh Lainnya

Luka pada paru dapat terjadi karena adanya trauma tumpul yang dihubungkan dengan sengatan arus listrik, mungkin karena udara merupakan konduktor yang buruk. Luka pada organ viseral yang padat jarang terjadi, tetapi pernah dilaporkan adanya kerusakan pada pankreas dan hati. Juga pernah dilaporkan adanya luka pada organ dalam seperti usus kecil, usus besar, kandung kemih, dan kandung empedu.

Penatalaksanaan Sengatan Listrik

Pre Rumah Sakit

Mengamankan tempat kejadian. Mengamankan daerah tersebut, sehingga tidak ada kejadian serupa saat menolong. Untuk kejadian sengatan listrik tegangan tinggi, pusat sumber listrik harus dimatikan. Hati-hati terhadap sisa-sisa arus listrik yang tertinggal di lantai walaupun arus listrik sudah dimatikan, yang disebut sebagai "Ground Current". Oleh karena tu kendaraan bermotor penolong harus diparkirkan setidaknya 1 (satu) kali sepanjang tempat kejadian.

Rumah Sakit

  1. Triase. Resusitasi kardiopulmonal harus dimulai pada pasien yang datang tanpa nadi atau pernapasan. Walaupun automatisitas intrinsik kardiak dapat memperbaiki aktivitas listrik jantung, henti napas yang disebabkan oleh luka sistim saraf pusat, biasanya akan berlangsung lebih lama dari henti jantung dan dapat menyababkan henti jantung kedua dengan fibrilasi ventrikel akibat hipoksia. Jika korban sudah dipasang bentilasi setelah henti jantung pertama, sebenarnya secara teori, henti jantung kedua dapat dihindarkan.
  2. Resusitasi awal. Korban akibat sengatan listrik dapat mengalami kombinasi perawatan untuk jantung dan trauma juga karena biasanya terjadi luka tumpul traumatik dan luka bakar. Fiksasi spinal di indikasikan apabila memang dicurigai terdapat trauma di spinal. Fraktur dan dislokasi harus di bebat dan luka bakar harus ditutupi dengan pembalut yang bersih dan kering. Pasang jalur intravena dengan jarum yang besar pada seluruh pasien. Pasien yang hipoetnsi harus mendapatkan cairan isotonik bolus 20 ml/kg dan dilanjutkan cairan pemeliharaan tergantung dari hemodinamik pasien.

Penatalaksanaan Gawat Darurat

Korban sengatan listrik biasanya tidak memberikan keterangan yang adekuat, baik itu akibat beratnya luka, adanya syok, hipoksia, kehilangan kesadaran atau kebingungan yang biasanya menyertai pasien dengan luka yang tidak terlalu berat. Keterangan biasanya di dapatkan dari orang sekitarnya dan paramedik yang membantu, termasuk didalamnya sumber listrik, lamanya kontak, faktor lingkungan tempat kejadian dan nilai-nilai ukuran resusitasi yang diperlukan. Bantuan resusitasi harus dilanjutkan di Gawat Darurat dengan pemberian cairan intravena yang adekuat.

Cairan harus diberikan pada rata-rata yang mencukupi dan sesuai dengan keluaran urin setidaknya 0,5 sampai 1,0 ml/kg/jam tanpa adanya hematuria dan 1.0 sampai 1.5 ml/kg/hr jika ada hematuria. Pemantauan kardiak di indikasikan untuk pasien dengan luka yang berat. Semua pasien sengatan listrik tegangan tinggi dan rendah yang memiliki keluhan kardiorespirasi sehingga harus dilakukan EKG.

Status klinis pasien juga harus di pantau secara invasif dengan kateter tekanan vena sentral, monitor tekanan intrakranial, dan kateter Swan-Ganz.

Pemeriksaan Laboratorium

Evaluasi laboratorium pada pasien yang mengalami sengatan listrik tergantung dari luas luka. Semua pasien dengan adanya bukti luka konduktif atau luka bakar dipermukaan kulit, harus mendapatkan pemeriksaan laboratorium , seperti dibawah ini:

  1. Darah lengkap perifer
  2. Kadar elektrolit
  3. Mioglobulin serum; semua pasien harus di evaluasi kearah mioglobinuria, komplikasi tersering dari luka sengatan listrik tegangan tinggi. Mioglobinuria di tegakkan apabila didapatkan hematuria atau dari pemeriksaan dipstick urin positif ada darah, tetapi tidak didapatkan eritrosit pada pemeriksa-an mikroskopik.
  4. BUN (blood urea nitrogen)
  5. Kreatitin serum, dan
  6. Urinalisis

Pemeriksaan yang khusus:

  1. Pemeriksaan enzim pankreas dan hepatik dan koagulasi dilakukan pada pasien dengan luka hebat akibat sengatan listrik atau dicurigai adanya luka intraabdominal
  2. Pemeriksaan analisis gas darah dilakukan pada korban yang memerlukan intervensi ventilator atau terapi alkalinisasi.
  3. Pemeriksaan kadar Creatine kinase (CK) dan isoenzim. Kadar puncak CK yang terlihat dapat memperkirakan jumlah otot yang terkena, risiko amputasi, dan lamanya perawatan rumah sakit.

Pemeriksaan Penunjang

EKG (Ekokardiografi)

Semua pasien yang menglamai sengatan listrik harus mendapatkan pemantauan jantung digawat darurat dan dilakukan EKG apapun sumber listrik dan besarnya listrik yang mengalir. Indikasi dilakukan EKG saat masuk rumah sakit adalah:

  1. Henti janting
  2. Tidak sadar atau ada riwayat tidak sadar
  3. EKG yang abnormal sebelumnya
  4. Diketahui disritmia seblum masuk rumah sakit atau saat di gawat darurat
  5. Adanya riwayat sakit jantung sebelumnya
  6. Adanya faktor risiko yang signifikan untuk penyakit jantung
  7. Disertai dengan luka yang cukup berat
  8. Kecurigaan adanya luka konduksi hipoksia
  9. Nyeri dada

Foto Polos

  1. Foto polos servikal harus dilakukan apabila dicurigai adanya trauma spinal
  2. Foto polos lainnya dilakukan sesuai dengan keluhan pasien, misal adanya keluhan di kedua kaki atau terlihat adanya deformitas.

Angiografi

Angiografi tidak menunjukkan manfaat dalam perencanaan diberidemen dan tidak rutin dilakukan.

CT atau MRI

Dapat berguna pada evaluasi traumatik dan terutama untuk trauma intr-akranial dan apabila skor GCS (Glasgow Coma Scale) tidak progresif me-mbaik.

Transfer Pasien dan Penatalaksanaan Rawat Jalan

Kebanyakan pasien dengan luka bakar listrik harus distabilkan dan ditransfer ke pusat luka bakar setempat dan rehabilitasi fisik. Korban dan keluarga akan mendapatkan manfaat dari konsultasi tersebut, karena adanya kemungkinan perubahan hidup yang cukup besar akibat dari cedera listrik tersebut. Apabila di dapatkan luka bakar yang serius dan tidak dapat di tangani, maka pasien harus dirujuk ke unit luka bakar terdekat.

Pasien yang tidak memiliki gejala dan pemeriksaan fisik yang normal setelah adanya sengatan listrik tegangan rendah dapat diyakinkan untuk keluar rumah sakit tanpa pemeriksaan-pemeriksaan tambahan. Pasien-pasien dengan luka bakar kutaneus atau pasien-pasien yang memiliki keluhan ringan yang menetap dapat rawat jalan jika EKG normal dan tidak ada pigmen heme dalam urinnya. Apabila didapatkan adanya keluhan-keluhan lain yang tidak dapat diatasi, pasien harus dirujuk kepada spesialis yang kompeten dan terkait.

Semoga bermanfaat^^


Sponsored Content

Pesan EIMED BIRU? Kontak aja CS kami (Yahya) via kontakin.com/dokterpost