Diagnosis dan Terapi Perdarahan Pasca-Melahirkan

Menolong persalinan adalah salah satu pengalaman yang membahagiakan sekaligus membanggakan. Sebagai dokter, Anda mungkin merasa sedetik menjadi pahlawan saat telah mampu memandu seorang ibu mengejan dengan benar sehingga sang bayi bisa lahir secara spontan. Namun, pernahkah Anda mereka ulang upaya pertolongan persalinan yang Anda lakukan? Sudahkah prosedur pertolongan persalinan yang Anda berikan pada ibu dan bayi tepat? Atau ternyata, Anda tidak sadar bahwa Anda telah melakukan kelalaian?

Salah satu kelalaian yang seringkali terlewat misalnya, menyepelekan jumlah perdarahan yang terjadi. Merasa telah menjadi pahlawan dan lupa bahwa darah yang keluar dari tubuh ibu sudah terlalu banyak. Merasa terlampau bahagia bahwa sang jabang bayi telah lahir selamat, namun tidak awas pada perubahan tanda vital yang terjadi pada ibu akibat perdarahan. Akibatnya? Anda baru tersadar saat ibu telah mengalami syok dan meregang nyawa.

Pertanyaannya, benarkah Anda telah menjadi pahlawan dalam persalinan tersebut? Ataukah Anda sebenarnya menjadi seseorang yang lalai sehingga kematian ibu yang seharusnya bisa dicegah, tidak dapat dikenali dan ditangani dengan baik? Bukankah berarti, Anda telah menjadi penyebab tidak langsung kematian sang ibu dan hancurnya keluarga akibat kehilangan sosok wanita utama dalam keluarga tersebut?

Diagnosis dan Terapi Perdarahan Pasca Melahirkan (Haemorrhagic Post Partum)

Haemorrhagic post partum (HPP) atau perdarahan pasca persalinan merupakan salah satu komplikasi yang paling sering terjadi saat persalinan; baik persalinan pervaginam ataupun persalinan secara sectio caesar. HPP juga dikenal sebagai penyebab utama kematian Ibu di Indonesia dengan prosentase kejadian sebesar 28% (Soejo, 2017).

HPP ini pula yang disinyalir meningkatkan angka kematian ibu dari 228 pada tahun 2007 menjadi 359 pada tahun 2012 dan 305 pada tahun 2015. Padahal Indonesia menargetkan angka ini turun menjadi 102 per 100.000 kematian pada tahun 2015 (Kemenkes RI, 2014). Komplikasi yang sering disepelekan namun dapat membuat Indonesia gagal memenuhi target Sustainable Development Goals (SDGs) yang dirancangnya sendiri.

buku-curretage-obgyn

Diagnosis tepat HPP: seni memprediksi perdarahan pascamelahirkan

Sebelum melakukan penatalaksanaan, Anda harus mampu menegakkan diagnosis HPP secara cepat dengan melakukan penilaian pada jumlah perdarahan yang telah terjadi. Perlu seni memprediksi perdarahan yang dialami oleh ibu dan membedakan antara perdarahan nifas normal dan tanda-tanda HPP. Anda dapat menggunakan gambar berikut untuk memberikan gambaran prediksi perdarahan yang terjadi.

perdarahan-post-partum

Seseorang didiagnosis sebagai HPP apabila seorang ibu mengalami perdarahan ≥ 500 cc setelah persalinan pervaginam atau ≥ 1000 cc setelah persalinan sectio caesar (Kemenkes RI, 2013). Lakukan evaluasi perdarahan ini sejak awal menolong persalinan hingga 24 jam setelah persalinan. Evaluasi ini juga dilakukan bersamaan dengan melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, memastikan apakah uterus sudah berkontraksi dengan baik atau belum.

Menjadi Superteam Bukan Superman!

Setelah Anda melakukan manajemen aktif kala III dan melahirkan plasenta, segera nilai perdarahan yang terjadi dan kotraksi uterusnya. Bila diagnosis HPP tegak, ikuti bagan berikut!

algoritma-perdarahan-post-partum
(Soejo, 2017)

Ingat! Dalam melakukan tatalaksana HPP, Anda tidak bisa menjadi superman dan melakukan tatalaksana tersebut sendiri. Anda perlu segera memanggil tenaga medis lainnya untuk memberikan bantuan dalam penatalaksanaannya, sehingga tatalaksana HPP dapat dilakukan secara simultan.

tatalaksana-awal-perdarahan-pasca-persalinan

Pemeriksaan pada nadi lebih berguna untuk mendeteksi kehilangan darah dalam jumlah yang belum terlalu banyak dibandingkan dengan perubahan pada tekanan darah. Hal ini terjadi karena tekanan darah masih dikompensasi bila perdarahan belum mencapai 1000 ml.

Sehingga apabila pemeriksaan hanya menekankan pada tekanan darah, tenaga medis seringkali luput dan mendapati ibu telah kehilangan darah sangat banyak dan berada dalam fase syok.
estimated-blood-loss-tabel
(Kemenkes RI, 2013)

Berbeda penyebab perdarahan, berbeda pula terapi definitifnya. Untuk membedakan, berikut gejala dan tanda yang mungkin terjadi pada berbagai penyebab HPP:
penyebab-perdarahan-pasca-persalinan
(Kemenkes RI, 2013)

Tampon kondom kateter: Modifikasi sederhana, murah, untuk pertolongan pertama HPP

Meski demikian, tugas kita sebagai layanan primer cukup sampai menangani kegawatdaruratannya saja. Stabilisasi kondisi umum ibu dan mencegah perdarahan terus menerus terjadi adalah kunci utama dari tatalaksana HPP. Anda dapat melakukan kompresi bimanual interna ataupun eksterna untuk mencegah terjadinya perdarahan terus menerus selama sementara waktu.

Cover-Perdarahan-Pasca-Persalinan-1

(Soejo, 2017)

Sembari mempersiapkan rujukan, Anda dapat memasang tampon kondom kateter untuk melanjutkan usaha pencegahan terjadinya perdarahan berkelanjutan. Alat dan bahan yang akan Anda butuhkan dalam pembuatan tampon kondom kateter intrauterin adalah sebagai berikut:

• 1 buah kondom
• 1 buah kateter folley
• 1 buah infus set
• 4 flaccon cairan infus (NaCL atau RL)
• Sehelai benang sebagai tali atau substitusinya (misal karet)
• 1 pasang Handscoon steril
• 1 set alat ginekologi steril
• Kasa steril
• Povidon iodine

Pasang cairan infus dengan infus setnya. Ikat unjung kondom dan ujung infus set dengan benang atau karet. Pastikan agar sambungan tersebut berfungsi dan tidak bocor. Bila bocor, cek kembali dimana kebocoran terjadi.

Berikut adalah cara pemasangan tampon kondom kateter:

• Pastikan ibu berada dalam meja ginekologi atau dalam posisi litotomi
• Alat-alat telah dipersiapkan
• Bersihkan secara aseptik dan antiseptik genitalia eksterna dan sekitarnya
• Kosongkan kandung kemih terlebih dahulu
• Masukkan kondom, yang telah disambungkan dengan infus set, dengan dua cara

  • Cara pertama dengan menggunakan spekulum untuk membuka vagina dan menjepit portio serviks posterior dengan ring forsep. Masukkan kondom dengan penggunakan tampon tang.
  • Cara kedua memasukkan kondom dalam uterus adalah dengan menggunakan jari, sama seperti cara memasang kateter folley.

• Bila kondom telah masuk dalam uterus, isi kondom dengan cairan dari selang infus, hingga terasa ada tahanan atau perdarahan berhenti. Tutup cairan infus saat terasa tahanan atau perdarahan berhenti. Cairan yang dimasukkan antara 250 – 2000 cc.
• Masukkan tampon bola untuk memfiksasi kondom agar tak terlepas, namun pastikan bahwa perdarahan sudah benar-benar berhenti, karena pemasangan tampon bola pada vagina dapat mengaburkan jumlah perdarahannya; tampon bola dapat menahan keluarnya perdarahan pada saat perdarahan masih aktif terjadi, sehingga darah tertahan di dalam uterus yang menyebabkan jumlah perdarahan tidak sesuai dengan kondisi umum atau tanda vital dari pasien.
• Setelah pemasangan kondom kateter selesai, observasi kembali tanda vital dan perdarahan pervaginam yang terjadi. Bila tanda vital stabil dan perdarahan pervaginam berhenti, maka pemasangan kondom kateter tersebut berhasil.
(Rahman, 2017)

Bila pemasangan kondom kateter tersebut berhasil, segera lakukan rujukan agar dapat dilakukan terapi definitif pada ibu sesuai dengan penyebab terjadinya HPP. Kondom kateter tersebut dapat bertahan hingga 24-48 jam. Bila perlu, Anda dapat menambahkan cairan ke dalam kondom secara bertahap untuk mempertahankan besar kondom teregang (Rahman, 2017).

HPP mudah untuk dikenali dan didiagnosis. Tatalaksana kegawatdaruratannya pun tidak terlalu rumit untuk dilakukan, selama Anda dapat melakukannya dalam bentuk tim secara simultan. Hal penting yang perlu diingat adalah jangan menyepelekan perdarahan yang terjadi selama persalinan. Waspada pada berapa banyak perdarahan yang terjadi, karena tidak ada ibu yang layak meninggal saat sedang berjuang memberikan kehidupan baru untuk sang buah hati. (STE)


Sponsored Content

buku-curretage-obgyn

Buku Current Update in Obstetric and Gynecology Emergency (Bhs Indonesia)

Tenang aja meskipun judulnya bahasa inggris, tapi isinya bahasa Indonesia semua kok.

Penulisnya pun konsulen Obsgyn di Surabaya. Jadi dijamin isinya aplikatif banget.

Banyak diagram dan tabel-tabel pentingnya, yang bikin kamu mudah mengaplikasikan ilmu di bukunya.

Harganya 156 ribu

Untuk pemesanan dan tanya-tanya info daftar isi dsb, kamu bisa langsung kontak Yahya via link ini atau WA aja ke 085608083342

Sumber:

  1. Hadijono, R. Soejo.2017. Manajemen dan Rujukan Perdarahan Postpartum dalam Upaya Penurunan Morbiditas & Mortalitas Maternal.Semarang: SMF Obsgin RSUP Dr. Kardiadi – FK UNDIP
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan: Pedoman Bagi Tenaga Kesehatan Edisi Pertama. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.2014. Infodatin Mother’s Day. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  4. Rahman, M. Nurhadi., dan Sungkar, Ali. 2017. Kondom Hidrostatik Tamponade Intrauterin sebagai Alternatif Penanganan Perdarahan Pasca Persalinan pada Persalinan Pervaginam. Jakarta: Departemen Obstetri & Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.