Diagnosis dan Terapi Pasien Sinkope

Sinkope atau bahasa awamnya "pingsan" adalah kondisi yang tidak jarang ditemui di praktek sehari-hari. Tantangan bagi dokter adalah membedakan apakah diagnosis pasien memang dikategorikan sebagai sinkope atau diagnosis banding yang lain.

Data statistik menunjukkan bahawa hampir 40% dari populasi dewasa pernah mengalami episode sinkope. Sinkope lebih sering terjadi pada wanita, dan semakin bertambah usia, insiden makin sering dijumpai.

Dibawah ini aku rangkumkan beberapa poin penting dari EIMED Merah tentang diagnosis dan terapi sinkope. Penjelasan di EIMED Merah cukup singkat dan sederhana untuk diaplikasikan di IGD.

Diagnosis dan Terapi Sinkope

Sinkope adalah suatu kehilangan kesadaran sesaat akibat hipoperfusi serebral global yang ditandai dengan onset yang cepat, jangka waktu pendek, dan recovery penuh secara spontan. Kondisi ini sering disertai dengan ketidakmampuan dalam mempertahankan tonus postural.

Turunnya tekanan darah sistemik diikuti dengan turunnya aliran darah serebral menjadi dasar terjadinya sinkope. Henti aliran darah ke otak secara tiba-tiba walau hanya 6-8 detik sudah cukup menyebabkan kehilangan kesadaran secara penuh.

Klasifikasi Sinkope

  1. Sinkope refleks (neurally-mediated)
  • Vasovagal
  • Situasional
  • Sinkope sinus karotis
  1. Sinkope akibat hipotensi orthostatik
  • Gagal otonomik primer
  • Gagal otonomik sekunder
  • Deplesi volumik
  1. Sinkope kardiak
  • Aritmia (bradikardia, takikardia, obat-obatan)
  • Penyakit struktural jantung

Diagnosis Sinkope

Dalam penegakkan diagnosis sinkope perlu ditentukan apakah pasien benar sinkope atau bukan. Hal ini penting untuk menentukan tindakan klinis selanjutnya. Coba kita perhatikan diagram di bawah.

Anamnesis Sinkope

Pasien dengan sinkope harus dipastikan memang sesuai definisi sinkope yaitu

  1. Kehilangan kesadaran
  2. Onset cepat
  3. Jangka waktu pendek
  4. Recovery penuh spontan
  5. Tonus Postural tidak stabil

Jika semua kriteria di atas jelas, maka jangan ragu untuk mendiagnosis sebagai sinkope. Jika hanya ada beberapa kriteria yang positif dan masih meragukan diagnosisnya, kamu bisa menghitung stratifikasi risiko sinkope.

Kalau misal hasil stratifikasi risiko sinkope menunjukkan Hi risk, jangan ragu untuk menatalaksana pasien segera sesuai etiologi. Kalau risiko rendah, namun didapatkan sinkope berulang, kamu perlu melakukan tes EKG atau merujuk pasien untuk tes EEG. Nah, kalau pasien risiko rendah dan baru pertama kali sinkope, anggap saja koinsiden, tidak usah dievaluasi lebih lanjut.

Bagaimana jika ternyata kamu dapatkan pasien bukan sinkope?

Kalau sudah kayak gini biasanya ini kasus yang complicated. Aku sarankan sih kamu rujuk/konsulkan pasien ke spesialis (SpPD/SpS). Takutnya pingsan pasien disebabkan faktor berbahaya yang tidak kita ketahui.

Beberapa anamnesis yang perlu kamu tanyakan adalah

  1. Sebelum terjadinya sinkope, mungkin ada periode prodromal dengan keluhan pusing melayang, nausea, berkeringat, badan lemas, dan gangguan penglihatan.
  2. Riwayat obat-obatan yang sedang dikonsumsi.

Pemeriksaan Fisik Sinkope

Pemeriksaan vital sign adalah suatu keharusan. Temuan pada pemeriksaan fisik tergantung adanya komorbiditas. Tekanan darah sistolik biasanya adalah sekitar ≤ 60 mmHg. Lakukan pemeriksaan jantung-paru dan neurologik. Periksa juga apakah ada tanda-tanda trauma.

Pemeriksaan Penunjang

  1. EKG: bila dicurigai suatu sinkope aritmik. Pemeriksaan EKG sangat penting untuk membedakan etiologi sinkope kardiak dan non kardiak. Salah satu penyakit terkait sinkope berulang yang dapat dideteksi dini dengan pemeriksaan EKG adalah Brugada Syndrome
  2. Ekhokardiografi: bila diketahui telah ada penyakit jantung sebelumnya.
  3. Orthostatic challenge (lying-to-standing orthostatic test dan/atau head-up tilt test): bila sinkope terkait posisi tegak atau dicurigai suatu mekanisme refleks.
  4. Tes lain yang mungkin tidak spesifik seperti evaluasi neurologik atau pemeriksaan darah.

Ini ada video bagus yang aku dapat dari Youtube untuk melakukan pemeriksaan orthostatic challenge.

Terapi Sinkope

Terapi sinkope sangat bergantung dengan jenis sinkope dan etiologi pasie. Yang penting, tujuan terapi pada pasien sinkope antara lain memperpanjang survival, mambatasi cedera fisik, serta mencegah kekambuhan.

Coba kita perhatikan algoritma tatalaksana sinkope di bawah

Keterangan :

  1. ARCV: arrhytmogenic right ventricular cardiomyopathy
  2. DCM : dilated cardiomyopathy
  3. HOCM : hypertrophic cardiomyopathy
  4. ICD : implantable cardioverter defibrilator

Salah satu etiologi sinkope yang akan cukup sering kamu temui di IGD adalah pasien dengan kelainan aritmia. Pertama, kamu harus pastikan bahwa pasien mengalami aritmia. Tentu kamu membutuhkan EKG untuk melakukannya. Interpretasi hasil bacaan EKG yang tepat akan sangat menentukan ketepatan pemilihan modalitas terapi.

Semoga Bermanfaat^^


=

Sponsored Content

Bukan rahasia umum, EKG adalah kompetensi "penting" dokter umum. Tidak hanya pada kasus nyeri dada spesifik (kecurigaan Sindroma Koroner Akut), ilmu EKG diperlukan untuk banyak kasus kegawatdaruratan lain (misal Henti Jantung dan Aritmia).

Kemarin tim DokterPost.com minta dr. Ragil Nur Rosyadi, SpJP untuk ngajari sejawat DokterPost.com tentang bagaimana biar sejawat bisa MAHIR BACA EKG. Ini salah satu cuplikan videonya

Videonya gedhe banget, hampir 20 GB. Biar sejawat di Papua dan Indonesia Timur yang lain bisa ikut belajar juga, akhirnya kami putuskan untuk distribusikan videonya dalam bentuk DVD.

Yang mau pesan MAHIR BACA EKG (BASIC-Non Aritmia-Aritmia), bisa kontak kami disini ya

kontakin.com/dokterpost atau SMS/WA Yahya (0856-0808-3342)