Diagnosis dan Terapi Infeksi Umbilikus Newborn

Infeksi umbilikus atau omfalitis merupakan infeksi yang umumnya terjadi pada neonatus dan dapat menjadi penyebab mortalitas bayi pada negara miskin atau berkembang. Penyakit ini disebabkan oleh kurangnya kebersihan pada saat persalinan maupun perawatan tali pusat. Infeksi pada tali pusat berhubungan dengan tetanus neonatorum yang dapat menimbulkan spasme dan kejang pada neonatus.

Kematian akibat omfalitis yang menimbulkan komplikasi adalah sekitar 7-15% dari seluruh neonatus dengan omfalitis. Angka kematian meningkat hingga 38-87% bila telah terjadi komplikasi necrotizing fasciitis atau myonekrosis. Untuk itu diperlukan langkah pencegahan, deteksi dini oleh tenaga kesehatan, dan penatalaksanaan yang tepat untuk bayi dengan omfalitis.

Diagnosis dan Terapi Infeksi Umbilikus Bayi Baru Lahir

Faktor risiko terjadinya infeksi umbilikus adalah persalinan yang tidak aseptik, persalinan yang dilakukan tidak di tenaga kesehatan, korioamnitis pada ibu, ketuban pecah dini, bayi berat lahir rendah, dan bayi yang dilakukan pemasangan kateter umbilikal. Bakteri yang menginfeksi umumnya adalah bakteri aerob seperti Staphylococcus aureus, Streptococcus grup A, Eschericia coli, Klebsiella pneumoniae, dan Proteus mirabilis. Mengoleskan tumbuh-tumbuhan herbal pada tali pusat dapat menimbulkan kontaminasi bakteri patogen seperti Clostridium tetani.

Komplikasi dari omfalitis dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Infeksi dari kulit di sekitar tali pusat dapat pula menyerang lemak subkutan dan fascia superfisial dan profundus, yang disebut necrotizing fasciitis, hingga mencapai skrotum dan penis. Bila infeksi mencapai lapisan otot, maka dapat terjadi myonekrosis.

Komplikasi yang paling umum terjadi adalah sepsis, yang dapat berkembang menjadi syok septik, disseminated intravascular coagulation (DIC), dan gagal multi organ. Infeksi pada intraabdomen menimbulkan eviserasi spontan, peritonitis, obstruksi usus, dan abses. Komplikasi jangka panjang yang bisa terjadi transformasi atau trombosis vena porta, hipertensi porta ekstrahepatik, dan obstruksi bilier. Hipertensi porta bisa menimbulkan varises esofagus atau gaster sehingga memberikan gejala perdarahan gastrointestinal.

Pada anamnesis, perlu digali riwayat kehamilan, persalinan, dan perawatan neonatus. Anak tidak mau menetek merupakan salah satu tanda dari infeksi. Adanya perubahan status mental menandakan adanya infeksi sistemik. Pada pemeriksaan regio umbilikus dapat ditemukan sekret purulent, eritema periumbilikal, edema, dan abdominal tenderness. Pada dinding abdomen bisa ditemukan ekimosis, bula, peau d’orange, krepitasi, ptekiae, dan tanda-tanda selulitis. Rata-rata usia bayi terkena omfalitis adalah 5-9 hari pada bayi aterm dan 3-5 hari pada bayi preterm.

Bila infeksi sistemik telah terjadi, pada neonatus dapat terjadi instabilitas suhu yaitu demam > 38o C atau hipotermi < 36o C. Gangguan hemodinamik dapat terjadi yaitu takikardi (>180 kali permenit), hipotensi (tekanan darah sistolik < 60 mmHg pada neonatus aterm) atau capillary refill time (CRT) yang melambat. Takipnea (> 60 kali permenit), merintih, pernafasan cuping hidung, retraksi, hipoksemia hingga apneu dapat ditemukan pada bayi. Dinding abdomen kaku, distended, dan bising usus menghilang.

Pada pemeriksaan darah lengkap, dapat ditemukan neutrofilia ataupun neutropenia, trombositopenia. Peningkatan c reactive protein (CRP), procalcitonin dan laju endap darah (LED) menandakan adanya infeksi. Bila infeksi berat maka akan timbul hipoglikemi, hipokalsemia dan asidosis metabolik. Pemeriksaan faal hemostasis dapat dilakukan bila terdapat kecurigaan DIC. Kultur dan sensitivitas darah maupun pus dapat dilakukan untuk pedoman terapi antibiotik.

Pemeriksaan radiologis dengan foto polos abdomen dapat menunjukkan adanya udara di dinding abdomen. Pada ultrasonografi ditemukan penebalan fasia, dan akumulasi cairan. CT scan dapat menunjukkan adanya keterlibatan otot atau fascia. Para ahli membagi omfalitis menjadi 4 stadium.

Stadium 1 bila ditemukan funisitis dengan sekret purulen tidak berbau, stadium 2 bila disertai dengan selulitis dinding abdomen periumbilikus, stadium 3 bila telah terjadi infeksi sistemik, sedangkan stadium 4 bila ditemukan infeksi pada fascia dan otot dan infeksi sistemik.

Tatalaksana Bayi dengan Infeksi Umbilikus

Tatalaksana bayi dengan infeksi umbilikus meliputi terapi farmakologis hingga pembedahan disertai dengan perawatan suportif terhadap komplikasi seperti gagal nafas. Pemberian antibiotik parenteral kombinasi penisilin vankomisin antistaphylococcus dan aminoglikosida direkomendasikan.

Dosis ampisilin pada neonatus > 2 kg adalah 7-150 mg/kg BB/hari terbagi dalam 3 dosis. Sedangkan vankomisin dapat diberikan dengan dosis 10-15 mg/kgBB setiap 8-12 jam. Pemberian gentamisin pada neonatus < 7 hari diberikan dengan dosis 5 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis.

Omfalitis dengan komplikasi necrotizing fasciitis dan myonekrosis membutuhkan terapi yang lebih agresif dengan antibiotik untuk organisme anaerob seperti metronidazole dan clindamycin. Dosis metronidazole pada neonatus adalah 15 mg/kg/hari dibagi 2 dosis atau clindamycin 20 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis.

Antibiotik topikal seperti bacitracin atau terapi topikal lain seperti triple dye dapat digunakan sebagai tambahan terapi parenteral. Terapi antibiotik diberikan dalam waktu 2 minggu melalui jalur vena sentral maupun perifer.

Terapi pembedahan ditujukan untuk melakukan debridement pada jaringan dan otot dengan necrotizing fasciitis dan myonekrosis. Keterlambatan diagnosis dapat menimbulkan perburukan dan penyebaran dari jaringan yang nekrosis. Lakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dengan spesialis anak dan bedah.

Bila omfalitis disertai dengan gejala sistemik, berikan nutrisi melalui jalur parenteral. Pemberian makanan secara enteral sebaiknya tidak dilakukan hingga infeksi akut dan ileus teratasi.

Untuk mencegah terjadinya omfalitis, pemberian antimikroba pada tali pusat merupakan hal rutin dalam perawatan tali pusat terutama pada negara berkembang. Antimikroba yang dapat digunakan adalah triple dye, povidone iodine, silver sulfadiazine, bacitracin, dan chlorhexidine 4%. WHO merekomendasikan pemberian chlorhexidine topikal pada tali pusat pada 1 minggu pertama setelah lahir. Namun pemberian antimikroba ini masih menimbulkan kontroversi.

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasi untuk kembali ke perawatan tali pusat kering tanpa pemberian antimikroba topikal. Perawatan tali pusat secara kering menyebabkan pelepasan tali pusat lebih cepat, namun juga dilaporkan dapat menyebabkan tali pusat lebih basah, berbau dan kolonisasi bakteri. WHO tetap merekomendasikan perawatan dengan antimikrobial topikal disertai dengan antibiotik oral maupun parenteral.

Terdapat 6 langkah untuk mencegah dan mengobati omfalitis dari WHO:

  1. Menggunakan sistem disinfektan lokal dan topikal
  2. Modulasi imun dengan Taurox topikal atau sublingual
  3. Antimikroba oral dan intravena
  4. Perawatan luka dengan medicated dressings
  5. Dukungan nutrisi dan imunitas
  6. Skrining kesehatan dan edukasi

Infeksi umbilikus sudah jauh menurun kejadiannya di Indonesia, meskipun begitu sebagai dokter di faskes primer, kemampuan diagnosis dan terapi infeksi umbilikus tetap wajib dikuasai.

Semoga Bermanfaat^^


Sponsored Content

SUDAH READY...

Buku 155 Diagnosis dan Terapi di Faskes Primer

cover-buku-155-Diagnosis-dan-Terapi-Faskes-Primer

Berisi

  1. Kumpulan diagnosis, terapi dan contoh resep 155 penyakit yang "wajib" ditangani di Faskes Primer

  2. Ilmu praktis "Mahir Baca EKG" buat di IGD dan Puskesmas

  3. Tips Evaluasi Foto Thoraks dan Fraktur

  4. Dosis obat untuk anak berbasis diagnosis di Faskes Primer

  5. Rangkuman intisari Diskusi Faskes Primer

Lengkap terangkum dalam buku 350 halaman, full color untuk ilustrasi penyakit dermatologi dan Gambar EKG.

Pas di taruh di laci praktek kamu

Bisa kamu dapatkan dengan biaya 199 ribu

WA aja Yahya 085608083342

Semoga Bermanfaat^^