/ Internal Medicine

Diagnosis dan Terapi Ileus Paralitik

Beberapa hari yang lalu seorang sejawat bercerita baru saja menemui pasien diare akut dehidrasi berat dengan komplikasi ileus paska diare. Pasien ini terlambat datang ke Instalasi Gawat Darurat, karena kendala transportasi.

Beruntung, nyawa pasien terselamatkan berkat resusitasi cairan yang baik. Namun, masalah muncul ketika ternyata pasien mengalami hipokalemia yang berakibat pada ileus paralitik.

Artikel ini akan membahas secara singkat bagaimana menegakkan diagnosis klinis dan tatalaksana ileus paralitik. Kami merujuk pada buku PPK Penatalaksanaan PAPDI, dengan menyesuaikan beberapa aspek sehingga mudah diaplikasikan di Instalasi Gawat Darurat.

Ileus paralitik adalah keadaan dimana usus gagal/tidak mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan isinya. Keadaan ini dapat disebabkan oleh

  1. Tindakan/operasi yang berhubungan dengan rongga perut
  2. Hematoma retroperitoneal yang berhubungan dengan fraktur vertebra
  3. Pielonefritis berat
  4. Penyakit paru seperti pneumonia lobus bawah
  5. Fraktur iga
  6. Infark miokard
  7. Gangguan elektrolit (berkurangnya kalium)
  8. Iskemik usus, baik dari oklusi vaskular ataupun distensi usus.

Diagnosis Klinis dan Tatalaksana Ileus Paralitik

Diagnosis klinis ileus paralitik cukup ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang dibutuhkan untuk mengkonfirmasi diagnosis dan mencari etiologi. Etiologi ileus paralitik penting diketahui untuk merencanakan tatalaksana yang sesuai.

Anamnesis Ileus Paralitik

Pasien ileus paralitik biasanya datang tidak dengan keluhan tunggal di sistem gastrointestinal. Banyak pasien ileus paralitik yang datang akibat keluhan utama yang lain. Misalnya pasien diare, post-operasi abdomen sampai infark miolard akut.

Anamenesis yang terstruktur dan terarah penting untuk mengarahkan pemeriksaan fisik apa saja yang perlu sejawat garisbawahi. Beberapa hasil anamnesis yang relevan didapatkan pada pasien dengan ileus paralitik diantaranya adalah

  1. Rasa tidak nyaman pada perut, tanpa nyeri kolik
  2. Muntah sering terjadi namun tidak profuse, sendawa, bisa disertai diare, sulit buang air besar
  3. Dapat disertai demam
  4. Perlu dicari juga riwayat: batu empedu, trauma, tindakan bedah di abdomen, diabetes, hipokalemia, obat spasmolitik, pankreatitits akut, pneumonia, dan semua jenis infeksi tubuh.

Pemeriksaan Fisik Ileus Paralitik

Pemeriksaan fisik memiliki peranan penting dalam menegakkan diagnosis ileus paralitik. Tiga tanda penting yang perlu sejawat ingat adalah: distensi abdomen, perkusi abdomen timpani dann penurunan bising usus.

  1. Keadaan umum pasien sakit ringan sampai berat, bisa disertai penurunan kesadaran, demam, tanda dehidrasi, syok.
  2. Distensi abdomen (+), rasa tidak nyaman pada perut, perkusi timpani, bising usus yang menurun sampai hilang.
  3. Reaksi peritoneal (-) (nyeri tekan dan nyeri lepas tidak ditemukan). Apabila penyakit primernya peritonitis, manifesatsi klinis yang ditemukan adalah gambaran peritonitis
  4. Pada colok dubur: rektum tidak kolaps, tidak ada kontraksi

Dalam penegakan diagnosis klinis ileus paralitik, tanda klinis pertama yang mudah ditemukan adalah distensi abdomen. Penting untuk membedakan apakah ileus yang dihadapi adalah ileus paralitik atau obstruktif.

Tabel dibawah ini merangkum beberapa pemeriksaann fisik penting yang perlu diperhatikan untuk membedakan ileus obstruktif atau paralitik.

Pemeriksaan Penunjang Ileus Paralitik

Pemeriksaan penunjang pada kasus ileus paralitik bertujuan untuk mengkonfirmasi diagnosis dan mencari etiologi ileus paralitik. Secara garis besar pemeriksaan penunjang ileus paralitik dapat dibagi menjadi pemeriksaan laboratorium dan radiologis

  1. Laboratorium: darah lengkap, amilase-lipase, gula darah, elektrolit, dan analisis gas darah
  2. Radiologis: foto poles abdomen, akan ditemukan gambaran air fluid level. Apabila meragukan, dapat mempergunakan kontras

Tatalaksana Ileus Paralitik

Setelah diagnosis klinis ileus paralitik dan etiologi ditentukan, langkah selanjutnya adalah merencanakan tatalaksana yang tepat. Tatalaksana ileus paralitik dibagi menjadi tatalaksana non-farmakologis dan farmakologis.

Tatalaksana Non-farmakologis Ileus Paralitik

  1. Puasa dan nutrisi parenteral total sampai bising usus positif atau dapat buang angin melalui dubur
  2. Pasang NGT dan rectal tube bila perlu
  3. Pasang kateter urin

Tatalaksana Farmakologis Ileus Paralitik

  1. Infus cairan, rata-rata 2,5-3 liter/hari disertai elektrolit
  2. Natrium parenteral yanga dekuat sesuai kebutuhan kalori basa ditambah kebutuhan lain
  3. Metoklopramid (gastroparesis), elsapride (Ileus paralitik pasca operasi), klonidin (ileus karena obat-obatan)
  4. Terapi etiologi: Pasien dirujuk sesuai etiologi penyakit yang dicurigai (SpPD, SpB, dsb)

Semoga Bermanfaat^^


=
Sponsored Content

PPK EIMED BIRU bisa dipesan di Admin Dokter Post lho, SMS/WA 085608083342 (Yahya) atau