/ ppk1

Diagnosis dan Terapi Dermatitis Atopik di PPK 1

Dermatitis atopik (DA) adalah peradangan kulit berulang dan kronis dengan disertai gatal. Pasien sering datang ke tempat praktek dokter umum dengan keluhan Utama pruritus (gatal), dapat hilang timbul sepanjang hari, tetapi umumnya lebih hebat pada malam hari. Akibatnya penderita akan menggaruk, sehingga dapat ditemukan lesi bekas garukan pada daerah spesifik.

Beberapa faktor risiko yang berperan penting dalam perkembangan dermatitis atopik pada pasien adalah

  1. Wanita lebih banyak menderita DA dibandingkan pria (rasio 1,3:1).
  2. Ada riwayat atopi pada pasien dan atau keluarga (rhinitis alergi, konjungtivitis alergi/vernalis, asma bronkial, dermatitis atopik, dll).
  3. Faktor lingkungan: jumlah keluarga kecil, pendidikan ibu semakin tinggi, penghasilan meningkat, migrasi dari desa ke kota, dan meningkatnya penggunaan antibiotik.
  4. Riwayat sensitif terhadap wol, bulu kucing, anjing, ayam, burung, dan sejenisnya.

Selain faktor risiko, dokter perlu menanyakan faktor pemicu yang menjadi trigger munculnya gejala dermatitis atopik, di antaranya:

  1. Makanan: telur, susu, gandum, kedelai, dan kacang tanah.
  2. Tungau debu rumah
  3. Sering mengalami infeksi di saluran napas atas (kolonisasi Staphylococus aureus)

Diagnosis Klinis Dermatitis Atopik


Diagnosis klinis dermatitis atopik ditegakkan berdasarkan anamnesis dan Pemeriksaan Fisik, dan harus terdiri dari 3 kriteria mayor dan 3 kriteria minor dari kriteria Williams (1994) di bawah ini.

Kriteria Mayor:

  1. Pruritus
  2. Dermatitis di muka atau ekstensor pada bayi dan anak
  3. Dermatitis di fleksura pada dewasa
  4. Dermatitis kronis atau berulang
  5. Riwayat atopi pada penderita atau keluarganya

Kriteria minor:

  1. Xerosis.
  2. Infeksi kulit (khususnya oleh S. aureus atau virus herpes simpleks).
  3. Iktiosis/ hiperliniar palmaris/ keratosis piliaris.
  4. Pitriasis alba.
  5. Dermatitis di papilla mamae.
  6. White dermogrhapism dan delayed blanch response.
  7. Kelilitis.
  8. Lipatan infra orbital Dennie-Morgan.
  9. Konjunctivitis berulang.
  10. Keratokonus.
  11. Katarak subskapsular anterior.
  12. Orbita menjadi gelap.
  13. Muka pucat atau eritem.
  14. Gatal bila berkeringat.
  15. Intolerans terhadap wol atau pelarut lemak.
  16. Aksentuasi perifolikular.
  17. Hipersensitif terhadap makanan.
  18. Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh factor lingkungan dan atau emosi.
  19. Tes kulit alergi tipe dadakan positif.
  20. Kadar IgE dalam serum meningkat.
  21. Mulai muncul pada usia dini.

Pada bayi, kriteria Diagnosis dimodifikasi menjadi

3 kriteria mayor berupa:

  1. Riwayat atopi pada keluarga.
  2. Dermatitis pada muka dan ekstensor.
  3. Pruritus.

ditambah 3 kriteria minor berupa:

  1. Xerosis/iktiosis/hiperliniaris palmaris, aksentuasi perifolikular.
  2. Fisura di belakang telinga.
  3. Skuama di scalp kronis.

Penatalaksanaan Dermatitis Atopik

Penatalaksanaan dilakukan dengan modifikasi gaya hidup, yaitu:

  1. Menemukan faktor risiko
  2. Menghindari bahan-bahan yang bersifat iritan termasuk pakaian sepert wol atau bahan sintetik
  3. Memakai sabun dengan pH netral dan mengandung pelembab
  4. Menjaga kebersihan bahan pakaian
  5. Menghindari pemakaian bahan kimia tambahan.
  6. Membilas badan segera setelah selesai berenang untuk menghindari kontak klorin yang terlalu lama
  7. Menghindari stress psikis
  8. Menghindari bahan pakaian terlalu tebal, ketat, kotor
  9. Pada bayi, menjaga kebersihan di daerah popok, iritasi oleh kencing atau feses, dan hindari pemakaian bahan-bahan medicated baby oil
  10. Menghindari pembersih yang mengandung antibakteri karena menginduksi resistensi

Untuk mengatasi keluhan, farmakoterapi diberikan dengan:

  1. Topikal (2x sehari)
    • Pada lesi di kulit kepala, diberikan kortikosteroid topikal selama maksimal 2 minggu, seperti:
      • Desonid krim 0.05%
      • Fluosinolon asetonid krim 0.025%
    • Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi, dapat diberikan
      • Obat golongan Betametason valerat krim 0.1%
      • Mometason furoat krim 0.1%.
    • Pada kasus infeksi sekunder, perlu dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal atau sistemik bila lesi meluas.
  2. Oral sistemik
    • Antihistamin sedatif (selama maksimal 2 minggu) yaitu:
      • CTM 3x4 mg, atau
      • Loratadine 1x10 mg/hari atau
      • Antihistamin non sedatif lainnya

Contoh Resep
R/ Cr. Betametason valerat 0,1% tb. No I
S 2 dd, u.e.

R/ Tab Loratadin 10mg no X
S 1 dd tab I

Pasien dermatitis atopik harus sudah tuntas dikerjakan di PPK 1. Namun, jika memenuhi salah satu atau lebih kriteria di bawah ini, pasien perlu dirujuk k PPK 2, yaitu:

  1. Dermatitis atopik luas, dan berat
  2. Dermatitis atopik rekalsitran atau dependent steroid
  3. Bila diperlukan skin prick test/tes uji tusuk
  4. Bila gejala tidak membaik dengan pengobatan standar selama 4 minggu
  5. Bila kelainan rekalsitran atau meluas sampai eritroderma

Semoga Bermanfaat^^


=
Sponsored Content

Sponsored Content

Pernah nggak sih, kalian mendapat kasus sulit saat menatalaksana pasien medik dan bingung mau bertanya pada siapa? Konsul ke senior Sp.PD atau Sp.JP, beliau-nya lagi sibuk ngobati pasien di rawat jalan? Atau, jangan-jangan kita niatnya tanya, eh malah ditanya balik??? Wkwkwkw.

Buku setebal 1000 halaman dengan berat 2,3 kg ini mungkin bisa jadi solusi yang pas buat kamu. Berisi pedoman diagnosis terapi yang paling lengkap saat ini terkait kasus-kasus medik (Penyakit Dalam, Jantung dan Paru).

Ibarat kalian punya "Professor Interna Portable" yang siap ditanya kapan pun dan dimana pun, dan yang pasti nggak akan nanya balik? Wkwkwkwk.

Meskipun tidak bisa menggantikan peran para dokter Sp.PD untuk menjawab konsulan, buku ini setidaknya akan memberikan sejawat pengetahuan dasar yang lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan klinis sehari-hari: diagnosis-nya apa, terapi-nya apa, prognosisnya bagaimana?

Mau Pesan? Langsung aja kontak CS Dokter Post (Yahya) via SMS/WA 085608083342 atau klik kontakin.com/dokterpost