/ Internal Medicine

Diagnosis Dan Terapi Demam Tifoid

Demam tifoid adalah penyakit demam yang disebabkan infeksi bakteri gram negatif Salmonella enteric serotype Typhi atau serotype paratyphi. Penularan antar manusia terjadi melalui rute fekal-oral seperti konsumsi air minum, sayuran tidak dimasak, air mentah, es krim dan semua produk makanan yang diolah dengan tangan yang kurang terjaga kebersihannya.

Penularan lewat udara atau droplet perlu dipikirkan saat terjadi outbreak. Setelah makanan terkontaminasi bakteri tersebut tertelan, dan dapat melewati keasaman lambung maka akan menuju usus halus, jumlah bakteri berpotensi menimbulkan infeksi berkisar antara 103-106 coloning forming unit.

Diagnosis Demam Tifoid

Anamnesis Demam Tifoid

Pada anamnesis parlu ditanyakan tentang riwayat perjalanan didaerah endemis, makanan yang dikonsumsi. Masa inkubasi biasanya 10-14 hari dengan rentang antara 3-60 hari.

Manifestasi Klinis dan Laboratorium Demam Tifoid

Demam tifoid didapatkan demam pada > 75% kasus, nyeri perut 30-40% kasus. Demam bias berkepanjangan sampai 4 minggu bila tidak diobati. Sifat demam adalah meningkat perlahan-lahan dan terutama pada sore hingga malam. Gejala klinis bervariasi dari ringan sampai berat, bahkan dapat berakibat kematian.

Pada minggu pertama gejala klinis tidak berbeda penyakit umum yang lain yaitu: demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak, batuk dan diare.

Pada minggu kedua gejala menjadi jelas, bradikardi relative (peningkatan 1 C tidak diikuti peningkatan denyut nadi 8 kali permenit), lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepi dan ujung merah serta tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental, berupa somnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis.

Roseola spot merupakan gambaran faint, solmon-colored, blanching, ruam makulopapular terletak terutama pada badan dan dada ruam ini jelas pada 30% pada minggu pertama dana sembuh setelah 2-5 hari. Rose spot jarang ditemukan di Indonesia.

Manifestasi neuropsikiatrik/Tifoid toksik, terjadi 2-40% pasien, dapat berupa delirium dengan atau tanpa gejala kejang, semi koma atau koma, Parkinson rigidity, transien parkinsonism, sindroma otak akut, mioklonus generalisata, meningimus, skisofrenia sitotoksik, mania akut, hipomania, ensefalomielitis, meningitis, sindrom Guilain-Barre dan psikosis.

Terkadang gejala demam tofoid diikuti suatu sindrom klinis berupa gangguan atau penurunan kesadaran akut (kesadaran berkabut, apitis, delirium, somnolen, sopor atau koma) dengan atau tanpa disertai kelainan neurologis lainnya dan dalam pemeriksaan cairan otak masih dalam batas normal.

Sering ditemukan leukopenia, dapat pula terjadi kadar leukosit normal atau leukositosis. Selain itu dapat ditemukan anemia ringan dari trombositopenia, kemungkinan disebabkan menurunnya produksi trombosit di sumsum tulang selama proses infeksi atau meningkatnya destruksi trombosit di sistem retiku-loendotelial.

Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilla maupun limfopenia. Laju endap darah dapat meningkat. Komplikasi hematologi berupa trombositopenia, hipofibrinogenemia, peningkatan protombin time, peningkatan partial thromboplastin time, peningkatan fibrin degredation product sampai DIC.

Pembengkakan hati ringan sampai sedang dijumpai pada 50% kasus. Untuk membedakan apakah hepatitis ini karena tifoid, virus, malaria atau amuba maka perlu diperhatikan kelainan fisik, parameter laboratorium dan bila perlu histopatologi hati.

Pemeriksaan enzim amylase, lipase, USG abdomen/CT scan perlu dilakukan bila ada kecurigaan terhadap pankreatitis tifosa. Miokarditis terjadi 1-5% sedangkan kelainan EKG dapat terjadi 10-15%. Keluhan miokarditis dapat berupa sakit dada, gagal jantung kongestif, aritmia atau syok kardiogenik. Hal ini disebabkan kerusakan miokardium oleh kuman S.typhi.

Diagnosis demam tifoid dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Confirmed case of Typhoid fever. Bila, pasien demam > 38 C lebih dari 3 hari, dam mempunyai hasil kultur S.Typhi yang positif.
  2. Probable case of Typhoid Fever. Bila, penderita demam yang mempunyai serodiagnosis atau antigen yang positif tanpa kultur isolasi bakteri.

Isolasi dari bakteri S Typhi: kultur darah, bone marrow, cairan feses atau lesi anatomi spesifik merupakan gold standart. Kultur darah biasanya positif pada hari 7-10 demam dengan sensitifitas 90% dan turun menjadi 50% pada minggu ketiga, sedangkan bone marrow aspiration culture direkomendasikan setelah periode tersebut terutama setelah mendapatkan terapi antibiotika.

Kultur pada feses pada minggu pertama menunjukkan 60-70% negatif dan menjadi positif pada minggu ketiga terutama penderita yang belum terapi. Bila hasil kultur positif maka tidak diperlukan lagi pemeriksaan serologi.

Uji widal dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap kuman S.Typhi. Maksud uji widal adalah untuk menentukan adanya agglutinin dalam serum pederita tersangka demam tifoid yaitu: agglutinin O, agglutinin H, aglutinin Vi. Dari ketiga agglutinin tersebut hanya agglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid.

Pembentukan agglutinin mulai terjadi pada akhir minggu pertama demam, kemudian meningkat secara cepat dan mencapai puncak pada munggu keempat dan tetap tinggi selama beberapa hari. Pada fase akut mula-mula timbul agglutinin O, kemudian diikuti agglutinin H.

Pada orang yang telah sembuh agglutinin O masih tetap dijumpai setelah 4-6 bulan, sedangkan agglutinin H menetap lebih lama antara 9-12 bulan. Oleh karena itu uji widal bukan untuk menentukkan kesembuhan penyakit.

Beberapa tes diagnostik baru tubex tes dan Typhidot dapat dipakai untuk mendeteksi IgG dan IgM terhadap S.Typhi. polymerase Chain reaction (PCR), menggunakan H1-d primers untuk menggandakan kuman secara lebih sensitif dan spesifik secara dini, terapi untuk keperluan masal biayanya masih cukup mahal.

Terapi Demam Tifoid

Istirahat dan Perawatan

Tirah bening dan perawatan professional bertujuan untuk mencegah komplikasi, akan membantu proses penyembuhan.

Diet dan Terapi Penunjang

Perlunya gizi yang cukup baik agar mempercepat proses penyembuhan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat secara dini dengan lauk pauk rendah selulosa (menhindari sayuran berserat) dapat diberikan aman pada penderita tifoid. Pemberian bubur sering untuk mengistirahatkan usus dan untuk menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna.

Terapi Antibiotik Pilihan

Kuman Salmonella tyohii adalah salah satu kuman yang reatif jarang mengalami resistensi, khususnya di Indonesia. Banyak laporan antibiogram di Rumah Sakit yang menunjukkan bahwa kuman tersebut masih cukup baik sensitivitasnya terhadap antibiotik murah seperti kloramfenikol dan amoksisilin.

Jadi pada intinya diagnosis yang tepat dan pemberian antibiotik segera akan sangat bermanfaat dalam proses kesembuhan pasien. Namun, PAPDI dalam buku Panduan Praktik Klinis Penatalaksanaan PAPDI telah memberikan rekomendasi untuk memilih kloramfenikol sebagai antibiotik pilihan utama demam tifoid.

Sedangkan untuk kasus Demam Tifoid Berat, dalam buku EIMED Kegawatdaruratan Biru PAPDI memberikan rekomendasi antibiotik pilihan seperti dalam tabel dibawah ini.

Terapi Kortikosteroid

Pemberian deksametason intravena 3 mg/kg drip selama 30 menit dilanjutkan 1 mg/kg setiap 6 jam selama 24-48 jam. Dilaporkan di beberapa penelitian pemberian kortikosteroid dapat menurunkan mortalitas pada kondisi yang berat seperti penurunan kesadaran dan syok.

Penelitian di Indonesia terhadap pasien Tifoid berat yang ditandai manifestasi sistem syaraf pusat dan atau ada tidaknya DIC dapat diturunkan angka kematiannya dengan pemberian kortikosteroid.

Semoga Bermanfaat^^


=

Sponsored Content

Aspek klinis pemberian vaksin Measles dan Rubella telah dijelaskan dengan sangat gamblang di buku Pedomana Imunisasi PAPDI.

Kamu bisa melengkapinya dengan buku saku imunisasi IDAI

Kalau mau pesan bisa via Yahya 085608083342 (WA)

Semoga Bermanfaat^^