/ Internal Medicine

Diagnosis dan Terapi Demam Tifoid di PPK 1

Demam Tifoid adalah penyakit akibat infeksi bakteri Salmonella typhi, S. paratyphi A, S. paratyphi B (Schottmuelleri), dan S. paratyphi C (Hirschfeldii). Dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia, demam tifoid termasuk dalam level 4A. Sehingga dokter umum wajib "menyelesaikannya" di PPK 1.

Keluhan utama yang sering disampaikan pasien adalah demam naik turun, terutama naik saat sore dan malam hari (dapat kontinyu pada minggu kedua), disertai nyeri kepala, nyeri otot, mialgia, anoreksia, mual muntah, dan gangguan gastrointestinal (konstipasi, meteorismus, diare, nyeri abdomen, BAB berdarah).

Diagnosis Klinis Demam Tifoid

Diagnosis demam tifoid dapat dibagi menjadi 3, yaitu suspek, probable dan diagnosis pasti demam tifoid. Diagnosis pasti demam tifoid ditegakkan dengan kultur darah atau gal culture. Namun, karena keterbatasan sarana, di PPK 1 hanya sering ditemui suspek dan probable demam tifoid.

  1. Suspek demam tifoid (Suspect case) ditegakkan bila dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan gejala demam tinggi, gangguan saluran cerna, dan petanda gangguan kesadaran. Diagnosis suspek tifoid hanya dibuat pada pelayanan kesehatan dasar.
  2. Demam tifoid klinis (Probable case) ditegakkan bila Suspek demam tifoid didukung dengan gambaran laboratorium yang menunjukkan tifoid, yaitu:
    • Darah perifer lengkap: leukopenia, limfositosis relatif, monositosis, aneosinofilia dan trombositopenia ringan.
    • Serologi Widal: Titer O ≥ 1/320 atau kenaikan titer 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 5-7 hari.
    • Serologi IgM Salmonella (≥ 4)

Diagnosis Banding yang harus dipeikirkan pada pasien curiga demem tifoid adalah

  1. Demam berdarah dengue
  2. Malaria
  3. Leptospirosis

Penatalaksanaan Demam Tifoid

Jika mendapat kasus demam tifoid di PPK 1, seorang dokter umum harus membuat keputusan apakah pasien akan dirawat inap atau rawat jalan. Beberapa pertimbangan yang dapat digunakan sebagai indikasi rawat jalan pasien adalah

  1. Gejala klinis ringan, tidak ada tanda komplikasi
  2. Kesadaran baik dan dapat makan minum dengan baik.
  3. Keluarga dan pasien mengerti tentang cara-cara merawat serta cukup paham tentang petanda bahaya yang akan timbul dari tifoid.
  4. Rumah tangga pasien memiliki atau dapat melaksanakan sistem pembuangan ekskreta (feses, urin, muntahan) yang mememenuhi syarat kesehatan.
  5. Dokter bertanggung jawab penuh terhadap pengobatan dan perawatan pasien.
  6. Dokter dapat memprediksi pasien tidak akan menghadapi bahaya-bahaya yang serius.
  7. Dokter dapat mengunjungi pasien setiap hari. Bila tidak bisa harus diwakili oleh seorang perawat yang mampu merawat demam tifoid.
  8. Dokter mempunyai hubungan komunikasi yang lancar dengan keluarga pasien.

Catatan: Poin No.7 menimbulkan kontroversi di kalangan praktisi. Kunjungan pasien setiap hari oleh dokter puskesmas hampir tidak mungkin. Pun mendelegasikan tugas tersebut kepada perawat tanpa insentif yang memadai. Memang prinsipnya pasien demam tifoid harus bed rest. Jika tidak memungkinkan rawat jalan, ada baiknya pasien dengan diagnosis klinis demam tifoid dirawatinapkan.

Terapi Suportif Demam Tifoid

  1. Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan mobilisasi.
  • Diet tinggi kalori dan tinggi protein.
  • Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas
  • Kontrol dan monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, kesadaran), kemudian dicatat dengan baik di rekam medik pasien.

Terapi Simptomatik Demam Tifoid

  1. Antipiretik, misalnya Parasetamol 3-4x500 mg (dewasa), 10 mg/kgBB/x (maksimal hingga 6x/hari)
  2. Mengurangi simtomatis gastrointestinal, misalnya antiemetik (Domperidon 3x10 mg atau Ondansetron 2x4 mg atau Metoclopramide 3x5 mg)

Terapi Definitif Demam Tifoid --> Antibiotik


Demam tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi, paratyphi A dan paratyphi B. Sehingga, terapi definitif demam tifoid adalah pemberian antibiotik yang tepat.

  1. Lini pertama: Kloramfenikol, ampisilin atau amoksisilin (aman untuk penderita yang sedang hamil), atau trimetroprim-sulfametoxazole (kotrimoksazol).
  2. Lini kedua: Ceftriaxone, Cefotaxime (diberikan untuk dewasa dan anak), Kuinolon (tidak dianjurkan untuk anak <18 tahun karena dinilai mengganggu pertumbuhan tulang).

Catatan: Dosis Cefixime pada PPM IDAI hal 48, yaitu 10 mg/kg/hari, dibagi dalam 2 dosis, selama 10 hari

Contoh Resep

R/ Tab Parasetamol 500mg no XX
S 3 dd tab I, prn

R/ Tab Ciprofloxacin 500mg no X
S 2 dd tab I

Catatan: Evaluasi efek pengobatan dalam 2-3 hari, jika respon baik, lanjutkan hingga 1 minggu

Kriteria Rujukan

  1. Telah mendapat terapi selama 5 hari namun belum tampak perbaikan.
  2. Demam tifoid dengan tanda-tanda kedaruratan.
  3. Demam tifoid dengan tanda-tanda komplikasi dan fasilitas tidak mencukupi.

Semoga Bermanfaat^^