/ Internal Medicine

Diagnosis dan Tatalaksana Diare Akut di PPK 1

Diare masih merupakan salah satu dari tiga diagnosis klinis yang paling sering membawa pasien datang berobat ke dokter. Sebagai tempat rujukan pasien BPJS tingkat pertama, PPK 1 adalah fasilitas kesehatan yang pertama kali didatangi pasien BPJS. Bahkan, sebuah penelitian yang tidak dipublikasikan di Surabaya mencatat bahwa salah satu klaim terbanyak BPJS adalah kasus diare.

Artikel ini sebagian besar merujuk pada rekomendasi PERMENKES NO 5 Tahun 2014 tentang PANDUAN PRAKTIK KLINIS BAGI DOKTER DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN PRIMER

Diagnosis dan Tatalaksana Diare Akut di PPK 1

Diare akut pada dasarnya adalah peradangan mukosa lambung dan usus halus yang ditandai dengan diare, yaitu buang air besar lembek atau cair, dapat bercampur darah atau lendir, dengan frekuensi 3 kali atau lebih dalam waktu 24 jam, dan disertai dengan muntah, demam, rasa tidak enak di perut dan menurunnya nafsu makan.

Keluhan Utama yang sering disampaikan pasien adalah buang air besar (BAB) lembek atau cair. BAB dengan konsistensi lembek dan cair dapat bercampur darah atau lendir. Frekuensi diare bisa mecapai ≥ 3 kali/24 jam. Beberapa pasien mengeluhkan rasa tidak nyaman di perut (nyeri atau kembung), mual dan muntah serta tenesmus.

Fakta Penting yang perlu sejawat ketahui tentang diare akut adalah penyebab gastroenteritis dapat berupa infeksi virus atau bakteri (bila akibat infeksi Entamoeba histolytica disebut disentri, bila disebabkan oleh Giardia lamblia disebut giardiasis, sedangkan bila disebabkan oleh Vibrio cholera disebut kolera), malabsorbsi, keracunan atau alergi makanan, dan faktor psikologis.

Faktor Risiko diare akut di antaranya adalah

  1. Higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang.
  2. Riwayat intoleransi laktosa, riwayat alergi obat.
  3. Infeksi HIV atau infeksi menular seksual.

Berbagai hal di atas perlu dipertimbangkan saat merawat pasien diare akut, disamping penegakan diagnosis klinis yang tepat dan tatalaksana yang adekuat.

Diagnosis Klinis Diare Akut

Anamnesis yang penting ditanyakan pada pasien diare akut diantaranya adalah

  1. Identifikasi riwayat makan atau minum dari sumber yang kurang higienenya (curiga infeksi)
  2. Riwayat bepergian ke daerah dengan wabah diare
  3. Riwayat intoleransi laktosa (terutama pada bayi)
  4. Konsumsi makanan iritatif
  5. Minum jamu atau minum soda
  6. Konsumsi obat-obatan seperti laksatif (magnesium hidrochlorida, magnesium citrate), obat jantung (quinidine), obat gout (kolkisin), diuretika (furosemid, tiazid), toksin (arsenik, organofosfat), insektisida, kafein, metil xantine, agen endokrin (preparat pengantian tiroid), misoprostol, mesalamin, antikolinesterase, dan obat-obat diet

Pemeriksaan fisik yang penting untuk menegakkan diagnosis klinis diare akut adalah mencari tanda dehidrasi. Bila tanda dehidrasi sedang-berat ditemukan, mungkin pasien butuh rawat inap. Colok dubur terkadang perlu dilakukan bila didapatkan diare berdarah (terutama pasien usia > 50 tahun) untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan.

Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan adalah darah lengkap dan feses lengkap. Pada pemeriksaan darah lengkap mungkin dapat ditemukan leukositosis. Sedangkan pada feses lengkap dapat dilakukan analisis mikrobiologi (jika memungkinkan).

Pada kondisi pasien yang mengalami dehidrasi berat paska diare perlu dilakukan pemeriksaan serum elektrolit dan EKG untuk memantau kemungkinan pasien jatuh ke kondisi hipokalemia.


Sumber Gambar: lifeinthefastlane.com

Pada pasien dengan kelainan hipokalemia, dapat terjadi perubahan EKG yang cukup bermakna (biasanya muncul jika kadar kalium serum < 2.7 mmol/L). Bahkan bila kadar kalium sudah sangat rendah, sering ditemukan komplikasi aritmia pada pasien. Misalnya Atrial Fibrilasi, Atrial Flutter dan Atrial Takikardia.


=
Sponsored Content

Salah satu skill yang akan kamu kuasai jika sudah Mahir Baca EKG adalah kemampuan mengenali kelainan EKG pada pasien dengan kelainan elektrolit (hipokalemia-hiperkalemia). Pembahasan tersebut dijelaskan oleh dr Ragil, SpJP di DVD Mahir Baca EKG Non-Aritmia.

DVD Mahir Baca EKG sangat aku rekomendasikan ke kamu yang dokter puskesmas, klinik pratama dan dokter Jaga IGD. Ini Salah satu cuplikan videonya

Dr Ragil, SpJP sudah menjelaskan secara gamblang dalam DVD Mahir Baca EKG. Video di bawah ini adalah salah satu cuplikan DVD Mahir Baca EKG yang membahas "Tips Asyik Mengenali Blok Jantung"

Videonya gedhe banget, hampir 14 GB. Biar sejawat di Papua dan Indonesia Timur yang lain bisa ikut belajar juga, akhirnya kami putuskan untuk distribusikan videonya dalam bentuk DVD.

Yang mau pesan MAHIR BACA EKG (BASIC-Non Aritmia-Aritmia), bisa kontak kami disini ya

SMS/WA 085608083342 (Yahya) atau kontakin.com/dokterpost


=

Diagnosis banding

  1. Demam tifoid
  2. Kriptosporidia (pada penderita HIV)
  3. Kolitis pseudomembran

Tatalaksana Diare Akut di PPK 1

Tatalaksana diare akut di PPK 1 terutama bertujuan untuk resusitasi cairan. Antibiotik dapat diberikan pada diare akut dengan kecurigaan infeksi bakteri.

Memberikan cairan dan diet adekuat

  1. Pasien tidak dipuasakan dan diberikan cairan yang adekuat untuk rehidrasi (dewasa: 1 gelas Oralit tiap BAB cair).
  2. Hindari susu sapi karena terdapat defisiensi laktase transien.
  3. Hindari minuman yang mengandung alkohol atau kafein (meningkatkan motilitas dan sekresi usus).
  4. Diet tidak mengandung gas dan mudah dicerna.

Cara Menghitung Defisit cairan berbasis Berat Jenis Plasma (BJ Plasma)

Defisit cairan:

(Bj plasma – 1,025)/0,001* Berat badan (kg)*4 ml

Cairan hasil perhitungan diberikan dalam:

  1. Dua jam pertama (tahap rehidrasi inisial): dari defisit berdasarkan BJ plasma, diberikan secara intravena menggunakan cairan Ringer Laktat atau NaCl 0,9%. Hati-hati pada pasien geriatrik, gagal jantung, dan gagal ginjal.
  2. Satu jam berikutnya/jam ke-3 (tahap ke-2): dari fluid loss selama 2 jam pertama saat rehidrasi, jika tidak ada dapat dilanjutkan cairan per oral
  3. Berikutnya pemberian cairan diberikan berdasarkan kehilangan cairan melalui tinja dan insensible water loss.

Misalnya BJ plasma 1,035 dan BB 50 kg

Defisitnya adalah = (1,035-1,025)504=2000 ml --> diberikan dalam 2 jam.

Obat Anti Diare

Pemberian obat anti diare bertujuan menurunkan motilitas usus, misalnya

  1. Loperamide (tidak diberikan pada pasien disentri disertai demam), dosis awal 4 mg, berikutnya 2 mg tiap BAB cair (maksimal 16mg/hari).
  2. Absorben (Attapulgite) (2 tablet ~ 1,2-1,5 g tiap BAB cair, max 8,4 g/24jam)

Probiotik

Pemberian probiotik dalam tatalaksana diare akut masih menuai pro dan kontra. Penelitian yang menunjukkan efektivitasnya sudah cukup banyak. Namun, para ahli belum bersepakat dalam hal efektivitasnya.

Antibiotik

Antibiotik diberikan pada pasien yang diduga mengalami infeksi bakteri invasif, traveller’s diarrhea, dan imunosupresi. Bila diketahui etiologi dari diare akut, terapi disesuaikan dengan etiologi.

Terapi empiris di PPK 1 dapat dipilih dari:

  1. Golongan kuinolon, Ciprofloxacin 2 x 500 mg/hari selama 5-7 hari
  2. Trimetroprim/Sulfamethoxazole 160/800 2 x 1 tablet/hari.
  3. Bila diduga Giardiasis, Metronidazole 3 x 500 mg/hari selama 7 hari.

Contoh Resep

R/ Inj. Ringer Laktat 500 ml fl. No IV
S imm

R/ Infus set dewasa no I
S imm

R/ Surflo 20G no I
S imm

R/ Tab Ciprofloxacin 500mg no X
S 2 dd tab I, p.c.

R/ Tab Attapulgite 600mg no X
S tab II, tiap BAB cair

*catatan: Attalpugite jangan diminum dalam jarak 1-2 jam dengan antibiotik atau obat lain

Kriteria Rujukan

  1. Tanda dehidrasi berat
  2. Terjadi penurunan kesadaran
  3. Nyeri perut yang signifikan
  4. Pasien tidak dapat minum oralit
  5. Tidak ada infus set serta cairan infus di fasilitas pelayanan

Semoga Bermanfaat^^