Diagnosis dan Tatalaksana Diare Akut pada Anak di IGD

Indonesia adalah negara tropis dengan kerentanan penyakit infeksi yang cukup tinggi. Salah satu penyakit infeksi yang sering ditemui di Instalasi Gawat Darurat adalah diare akut.

Diare akut dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau bahkan jamur. Penelitian menunjukkan bahwa mikroba penyebab tersering diare akut adalah rotavirus. Infeksi saluran pencernaan akut ini adalah kasus yang sering kita temui saat jaga UGD.

Kasus diare merupakan kasus yang susah-susah gampang. Walaupun terkesan sederhana, diare yang tidak tertangani dengan baik bisa berujung pada dehidrasi berat yang berakibat kematian, terutama pada anak.

Artikel ini akan membahas tatalaksana diare akut pada anak secara rasional. Dengan penanganan yang tepat, tentu akan lebih banyak jiwa yang bisa kita selamatkan.

Diagnosis dan Tatalaksana Diare Akut pada Anak di IGD

Sebelum membahas aspek tatalaksana, ada baiknya kita mengetahui definisi diare pada anak. Diare adalah peningkatan kadar cairan dalam feses melebihi normal, sekitar 10 mL/kgBB/hari. Biasanya, kondisi ini disertai dengan peningkatan frekuensi buang air besar (BAB) lebih dari 3 kali bahkan bisa sampai lebih dari 20 kali.

Saat anamnesis, kita juga harus mempertimbangkan kebiasaan BAB setiap anak karena bisa saja berbeda. Diare dibagi menjadi diare osmotik, sekretorik, dan diare akibat hipermotilitas usus.

Diare tidak hanya disebabkan oleh infeksi tapi bisa juga karena penyebab non-infeksi. Diare non-infeksi bisa disebabkan oleh alergi, irritable bowel disease (IBD), celiac disease, makan makanan yang tidak tepat, intoleransi, dan perubahan iklim.

Mengetahui penyebab diare adalah hal penting. Tapi di UGD, mencegah dan mengatasi dehidrasi lebih penting dilakukan.

Tatalaksana Diare Akut pada Anak di IGD

Berdasarkan derajat kehilangan cairan saat diare, diare dibagi menjadi diare tanpa dehidrasi, diare dehidrasi tak berat, dan diare dehidrasi berat. Derajat ini kemudian menentukan tatalaksana yang diberikan dokter.

Rekomendasi World Health Organization (WHO) untuk diare tanpa dehidrasi adalah

  1. Rehidrasi
  2. Pemberian zinc selama 10 hari
  3. Meneruskan ASI dan nutrisi
  4. Antibiotik sesuai indikasi
  5. Edukasi terhadap keluarga

Prinsip terapi cairan pada diare adalah mengganti cairan yang hilang, memberikan cairan rumatan, dan mengganti on going loss. Terapi cairan ini tergantung pada masing-masing individu.

Cairan yang digunakan adalah cairan yang mungkin ada dan bisa dibuat di rumah, misalnya oralit, makanan cair, atau air matang. Untuk anak di bawah usia 6 bulan dan belum makan makanan padat, lebih baik diberi oralit dan air matang daripada makanan cair. Cairan diberikan sebanyak jumlah yang diinginkan anak. Cairan diberikan sampai anak berhenti diare.

Dosis pemberian zinc adalah 10 mg untuk pasien di bawah 6 bulan dan 20 mg untuk pasien dengan umur di atas 6 bulan, sekali sehari. Keluarga harus diedukasi bahwa pemberian zinc selama 10 hari tetap dilanjutkan walaupun anak sudah tidak diare. Zinc di sini berfungsi sebagai booster immune, anti-secretory effect, dan antioksidan.

Anak dengan diare dehidrasi tak berat masih bisa dirawat di rumah, tentunya dengan edukasi kepada keluarga seperti pada kasus diare tanpa dehidrasi.

Terapi cairan intravena diperlukan dalam tatalaksana kasus diare dehidrasi berat. Bayi berumur < 1 tahun dapat diberikan cairan 30 mL/kgBB dalam 1 jam pertama disusul dengan 70 mL/kgBB dalam 5 jam berikutnya. Anak 1-5 tahun diberikan 30 mL/kgBB dalam 30 menit pertama dilanjutkan dengan 70 mL/kgBB dalam 2,5 jam berikutnya. Cairan yang direkomendasikan adalah Ringer Laktat.

Pasien tidak sadar yang tidak memungkinkan mendapat akses intravena dan telah dipasang pipa nasogastrik bisa mendapatkan rehidrasi lewat pipa tersebut. Cairan yang diberikan adalah 20 mL/kgBB/jam selama 6 jam. Pasien harus diobservasi setiap 1-2 jam. Bila muntah atau kembung, cairan diberikan pelan-pelan. Apabila rehidrasi tidak tercapai setelah 3 jam, pasien harus dirujuk untuk mendapatkan akses intravena.

Pasien diare dari daerah yang baru saja terjangkit kolera dapat diberikan antibiotik yang tepat secara per oral.
Indikasi pemberian antibitoik adalah

  1. Diare berdarah (disentri)
  2. Kolera
  3. Amoebiasis
  4. Giardiasis

Pada pasien disentri, antibiotik yang direkomendasikan adalah Ciprofloxacin 30-50 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis selama 5 hari, Cefixim 5 mg/kgBB/hari, atau menurut peta kuman daerah setempat.

Beberapa pasien diare anak yang membutuhkan pengawasan lebih dalam rehidrasi adalah pasien dengan malnutrisi berat, bronkopneumonia, gagal jantung, dan pasien dengan hipernatremia.

Pemberian antimuntah diperbolehkan dalam kondisi muntah profus. Pilihan anti-muntahnya meliputi ondansetron, metoclopramide, dan domperidone. Namun, sebenarnya masih menjadi pro-kontra tentang efektivitas anti-muntah pada pasien anak dengan diare akut. Banyak guideline yang tidak merekomendasikan. Kita perlu waspada terhadap efek samping yang mungkin ditimbukan.

Sampai saat ini, probiotik belum masuk guideline terapi diare akut. Pemberian anti-diare tidak direkomendasikan.

Kriteria MRS pasien diare adalah

  1. Dehidrasi berat
  2. Penurunan status neurologis
  3. Pasien dengan muntah persisten
  4. Gagal terapi oral rehidrasi
  5. Muncul gejala sistemik, misalnya demam
  6. Ada komorbid lain misalnya malnutrisi atau gagal jantung
  7. Keluarga tidak yakin dengan perawatan di rumah
  8. Pasien dengan indikasi bedah
  9. Pasien yang tidak dapat dinilai derajat dehidrasinya misalnya pasien obesitas.

Penting untuk mengedukasi orang tua untuk kembali membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila anak

  1. Demam
  2. Berak berdarah
  3. Muntah berulang
  4. Makan minum sedikit
  5. Anak sangat haus
  6. Diare semakin sering, atau
  7. Diare belum membaik dalam 3 hari.

Tidak kurang dari 15% kematian pada anak 0-59 bulan di dunia disebabkan oleh diare. Tatalaksana diare akut yang tepat dapat menyelamatkan nyawa dan masa depan mereka. (mqa)

Semoga Bermanfaat


=
Sponsored Content

Update pengetahuanmu tentang imunisasi anak dan dewasa. Karena DokterPost sedang ada promo untuk setiap pembeli buku Pedoman Imunisasi Dewasa dari PAPDI, bonus Buku Saku Imunisasi IDAI.

Periode Promo: 22-25 Oktober 2017

Jangan sampai nggak kebagian bonusnya ya^^

Klik aja link minat ini supaya Yahya bisa ngabari kamu kalau promonya sudah dimulai^^