/ dokter

Cinta Adalah Energi Untuk Merdeka

Saya menemukan sebuah kisah yang menyentuh di media sosial. Sehingga saya teringat cerita yang pernah saya dengar dari seorang senior, tentang kisah cinta-nya di masa muda.

=============

Hasan adalah seorang remaja, anak buruh tani di desanya. Meskipun pintar, kehidupan hasan sangat "nelangsa". Setiap hari dia harus menempuh 20 km dengan sepeda "jengki" usang milik ayahnya, untuk berangkat sekolah ke kota.

Sepulang sekolah, bukan les atau ikut ekstrakulikuler, Hasan harus menjajakan kue "Getas" ke kampung-kampung di kota. Hal itu dia lakukan agar tetap bisa membayar uang sekolah setiap bulannya.

Baju seragam yang melekat di tubuhnya adalah baju seragam satu-satunya. Bahkan, karena tidak punya uang untuk membeli baju baru, Hasan terpaksa memakai baju seragam sekolahnya untuk lebaran. Baju seragam sekolah adalah baju terbaik yang ia punya.

Meski "orang tidak punya", sebagai remaja Hasan juga pernah kasmaran. Suatu saat ia menyadari bahwa dirinya naksir dengan Laila, teman sekelasnya yang anak orang kaya. Laila adalah anak H. Madhun, saudagar keturunan seorang Habib dari arab. Suatu hari, Hasan nekad menulis surat cinta-nya, dan menyelipkan ke dalam tas Laila saat pelajaran Olahraga.

Ternyata Laila menolak cinta Hasan. Dengan lembut, Laila mengatakan bahwa cinta-nya hanya untuk pria alim, pintar ilmu agama, dan suatu saat sanggup "membiayai" dirinya untuk naik Haji dan membahagiakan dirinya. Hasan bukan lelaki semacam itu, untuk membelikan stroberi sebaggai hadiah ulang tahun Laila saja Hasan tidak sanggup. Hasan jelas tidak punya uang untuk kuliah, siapa juga ayah-nya yang hanya seorang buruh tani.


13 tahun berlalu, ketika Laila mengalami sebuah kecelakaan hebat, dengan sebuah truk mengendarai mobilnya, ketika hendak mudik ke Pati. Laila mengalami cedera kepala, sehingga mengalami penurunan kesadaran dan membutuhkan operasi segera. Suami Laila, yang mengemudikan mobil, juga mengalami patah tulang di paha dan mengalami perdarahan hebat, membutuhkan operasi dan transfusi darah dalam jumlah besar.

Pasangan suami istri ini dilarikan ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan segera. CITO. Setelah menjalani operasi dan mendapatkan terapi stabilisasi, kesadaran dan kondisi mereka mulai pulih.

Namun, Laila tiba-tiba menangis lirih, bukan karena kondisinya yang "babak belur". Namun, karena dia tidak dapat membayangkan berapa biaya yang harus dia bayar untuk melunasi tagihan Rumah Sakit. Suaminya baru saja diberhentikan dari kantor 3 bulan yang lalu. Orang tua Laila di Pati juga sudah lama mengalami kebangkrutan.

Namun, Laila dan Suaminya sangat terkejut. Jumlah tagihan yang harus di bayar Laila dan suaminya mencapai 230 juta, namun bukan itu yang membuat terkejut. Laila menangis bahagia karena seluruh biaya pengobatan dirinya dan suaminya sudah LUNAS.

Siapa gerangan malaikat mulia yang telah membayar semua tagihan pengobatannya? Ingin rasanya dia bersujud berterimakasih di hadapan malaikat penyelamat itu. Hatinya sangat bersyukur atas semua kejadian yang telah dialaminya.

Esok paginya saat akan pulang dari Rumah Sakit, seseorang datang menjenguk dengan membawakan sekeranjang buah stroberi. Laila terkejut, dia mengenal wajah itu. Hasan, remaja yang dia tolak cintanya 13 tahun yang lalu. Sekarang Hasan sudah bukan bocah miskin yang pakai seragam sekolah setiap Lebaran. Sekarang Hasan sudah menjadi seorang Dokter, DOKTER BEDAH.

Dr. Hasan adalah orang yang telah melunasi semua tagihan Rumah Sakit Laila dan Suaminya. Sebagai pemilik Rumah Sakit tempat Laila di Rawat, dia telah membebaskan semua biaya untuk "mantan" pujaan hati-nya itu. Dia juga yang telah melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa Laila. Betul, itu adalah Hasan pria kusam yang telah ditolak cinta-nya.

Namun, kenyataan sangat pedih. Ternyata Laila bukan "mantan" pujaan hatinya. Laila adalah cinta yang hidup bertahun-tahun dalam hatinya, yang terus dipelihara semakin besar dan besar. Cinta yang sudah sangat besar hari ini, hancur lebur mendapati kenyataan sang pujaan hati telah bersuami.

Namun, cinta Hasan tulus. Seperti mentari yang menyinari bumi, tak pernah menginginkan imbalan kembali. Dia bahagia jika cinta-nya bahagia. Dia bersyukur, cinta-nya telah mendorong semangatnya untuk terus berjuang melawan kemiskinan, merdeka dari kemiskinan.

Dia belajar keras, masuk Fakultas Kedokteran dengan biaya dari orang tua asuh. Terkadang di sela waktu kuliahnya dia masih bekerja di fotokopi kampus secara paruh waktu. Sampai dia bisa lulus menjadi dokter, hingga menjadi dokter bedah. Saat ini Hasan punya semua, hanya satu yang dia tidak punya, orang yang dicintai selama 13 tahun ini.


Arti merdeka adalah saat kita bisa bebas melupakan masa lalu yang menyakitkan dan melangkah tegap meraih masa depan yang kita impikan.

MERDEKA!!!