/ Manajemen Rumah Sakit

Checklist Manifesto

Masih sering kita temukan SPO di Rumah Sakit Pemerintah maupun Swasta yang kurang sesuai, asal copy paste dari Rumah Sakit lain dan tidak diperbaharui selama bertahun-tahun

Atul Gawande, seorang profesor bedah di Havard Medical School, menerbitkan buku fenomenal "Checklist Manifesto" pada tahun 2010. Dalam buku setebal 224 halaman ini, Prof. Gawande memaparkan panjang lebar konsep Checklist untuk menguraikan berbagai kompleksitas dalam dunia kedoktran.

Sebagai seorang ahli bedah, Prof. Gawande telah menjalani ribuan kali operasi. Dalam ribuan operasi tersebut, sempat terbersit ilham untuk mensosialisasikan penggunaan checklist dalam prosedur bedah kepada ahli bedah di seluruh rumah sakit di Amerika. Hasilnya luar biasa.

Dengan checklist berisi 5 langkah prosedur yang dikembangkan bersama tim peneliti, Gawande mencatat eradikasi infeksi di ICU Johns Hopkins Hospital. Setidaknya metode ini berhasil mencegah 43 infeksi dan 8 kematian, semenjak diimplementasikan pada tahun 2001 selama 27 bulan.

Tidak berhenti disana, ketika diimplementasikan di ICU sebuah Rumah Sakit di Michigan, teknik ini berhasil menurunkan 66% infeksi seelama 3 bulan dan menyelamatkan 1500 nyawa sepanjang 1,5 tahun.

Gawande berpendapat bahwa paradigma to-do-list ini tidak hanya bermanfaat untuk kasus-kasus bedah dan kedokteran lain, namun juga kasus-kasus non-medik di kehidupan nyata yang semakin kompleks. Kasus keamanan penerbangan, prosedur pembangunan gedung pencakar langit dan banyak hal lain. Checklist adalah alat bantu sederhana untuk melakukan hal-hal kompleks.

Berbagai kasus penting yang terjadi belakangan ini menuntut kita untuk lebih waspada dalam melakukan tindakan medis. Kasus sejawat kita di Gresik dan RS Siloam Tangerang tentu masih menyisakan ingatan, betapa penting menerapkan paradigma checklist dalam bentuk Standar Prosedur Operasional (SPO).

Sejauh dari info yang kami dapatkan, sejawat kita di Siloam aman dari tuntutan "malpraktik" karena memiliki SPO tindakan anestesi yang lengkap dan sistematis, serta mengelola mengaplikasikan SPO tersebut dengan disiplin. Sehingga saat investigasi dilakukan pihak berwajib, RS Siloam sementara ini dalam posisi aman.

Masih sering kita temukan SPO di Rumah Sakit Pemerintah maupun Swasta yang kurang sesuai, asal copy paste dari Rumah Sakit lain dan tidak diperbaharui selama bertahun-tahun (idealnya SPO diperbaharui dalam 2 tahun).

Ini tentu tidak menguntungkan di era maraknya "tuduhan malpraktik" seperti sekarang ini. Semoga buku Prof. Gawande dapat menginspirasi kita untuk semakin disiplin dalam mengelola dan mengimplementasikan SPO, setidaknya di RS kita masing-masing.

Semoga bermanfaat.