/ kardiologi

Catat, Indonesia Masih Memerlukan 2400 Dokter Spesialis Jantung!!!

Beberapa hari terakhir ini, kami banyak menerima permintaan untuk membuka kelompok belajar online persiapan masuk PPDS Kardio. Nampaknya, fenomena "demam kardio" ini sudah mulai semakin sistemik di kalangan dokter muda yang berniat melanjutkan program spesialisasi. Ada apa?

Kemudian kami mencoba melakukan survei sederhana untuk menganalisis, mengapa mereka memilih spesialisasi di bidang kardiologi? Setidaknya ada 3 alasan mengapa banyak sejawat berkeinginan memperdalam spesialisasi di bidang kardiologi dan kedokteran vaskuler.

Kesenjangan Rasio Dokter-Pasien dengan Negara Maju

Saat ini jumlah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (Sp. JP) di Indonesia hanya sekitar 600 orang. Jumlah ini tentu masih jauh dari ideal. Di negara-negara maju, seorang Sp.JP melayani 100.000 penduduk. Kondisi yang relatif ideal tersebut memungkinkan bagi seorang Sp.JP mempunyai cukup waktu untuk memberikan pelayanan sekaligus melakukan komunikasi, edukasi dan memberikan informasi yang cukup kepada pasien-pasiennya.

Bila rasio ini dianut maka Indonesia saat ini memerlukan 2400 dokter Sp.PJ! Sebenarnya, pada sebagian besar daerah dengan penduduk padat, rasio dokter Sp.JP-pasien sudah mendekati angka ideal. Namun 50% Sp.JP di Indonesia masih melayani lebih dari 1 juta penduduk. Misalnya di Nusa Tenggara Timur satu Sp.PJ melayani lebih dari 4 juta penduduk bahkan di provinsi Sulawesi Barat dan Papua Barat hingga saat ini belum memili Sp.PJ!

Angka Morbiditas dan Mortalitas Penyakit Jantung Yang Semakin Tinggi

Penyakit jantung dan stroke,yang tergolong dalam penyakit kardiovaskular (PKV),adalah pembunuh nomer satu di seluruh dunia. Lebih dari 80% kematian akibat PKV terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah,dan semakin banyak menimpa populasi usia dibawah 60 tahun,yaitu usia produktif.

Diprediksikan pada tahun 2030,kematian akibat PKV mencapai 24,2 juta,yaitu 32,5% dari seluruh kematian pada tahun tersebut. Perkiraan proyeksi dalam 20 tahun mendatang di negara berkembang akibat PKV akan meningkat 137% pada laki-laki, dan 120% pada perempuan.

Data terakhir dari BPJS Kesehatan juga menunjukkan bahwa penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk dalam pengguna anggaran terbesar di rumah sakit. Jika faktor resiko penyakit kardiovaskular tidak dikendalikan dengan baik, BPJS Kesehatan akan berpotensi mengalami kerugian yang besar di masa depan.

Kondisi ini seharusnya menjadi landasan berpikir BPJS Kesehatan untuk bermitra dengan dokter Sp.JP dalam upaya mengendalikan biaya kesehatan yang akan "meledak" di masa depan. Jika merunut data BPJS tersebut, artinya di era BPJS peran Sp.JP masih sangat strategis.

Tindakan Non-Invasif Banyak Diminati Masyarakat

Salah satu alasan yang banyak diungkapkan sejawat yang berniat mengambil spesialisasi di bidang kardiologi adalah perkembangan teknologi intervensi non-invasif yang semakin pesat. Menilik data historis, Indonesia patut berbangga karena pada tahun 1950-an dan 1960-an adalah pelopor pelayanan kardiologi di wilayah Asia Tenggara. Beberapa dokumen mencatat kateterisasi jantung pertama dan bedah jatung pertama di Asia Tenggara dilakukan di Indonesia.

Tindakan intervensi non-invasif di bidang kardiologi dan kedokteran vaskuler sedikit banyak mempengaruhi "selera pasar". Dulu, pasien dengan infark miokard akut membutuhkan bedah jantung untuk menyelamatkan nyawa. Saat ini, prosedur kateterisasi jantung yang didukung teknologi yang memadai untuk memonitor selama berjalannya prosedur lebih "diminati" pasien karena terkesan lebih aman.

Selain tindakan intervensi non-invasif untuk pasien dewasa, terapi serupa juga banyak digunakan untuk pasien anak atau dewasa muda.
Diperkirakan setiap tahun 40.000 bayi lahir dengan penyakit jatung bawaan (PJB), banyak diantara-nya yang tidak terdiagnosis dan meninggal. Namun terapi intervensi non-invasif juga banyak menyelamatkan mereka, sehingga akan tumbuh menjadi dewasa. Teknologi untuk memperbaiki beberapa jenis PJB tanpa bedah berkembang pesat, yaitu dengan intervensi kateter/ balon. Hasilnya cukup baik, meskipun biaya-nya masih cukup tinggi.

Cita-cita menjadi seorang Sp.JP tentu adalah sesuat yang layak diperjuangkan. Namun, pada intinya apa pun pilihan anda (Sp.PD, Sp.P, Sp.B, Sp.OG dsb) yang patut diingat adalah kesetiaan untuk senantiasa mengutamakan kesehatan pasien. Follow your passion, and the money will follow.

Semoga menginspirasi.


=
Sponsored Content

Sejawat, tahukah anda bahwa buku Lilly "Pathophysiology of Heart Disease" adalah referensi yang paling disarankan konsulen Sp.JP untuk memahami berbagai diagnosis dan terapi di bidang kardiologi?

Banyak sejawat Dokter Post yang menanyakan ketersediaan buku ini. Sayangnya admin sudah cari kemana-mana dan semua stok di distributor habis.

Admin berencana untuk order ke distributor di Singapore.

Bagi sejawat yang mau pre-order (nitip) silahkan hubungi admin di SMS/WA 081234008737 ya!