/ Demam Tifoid

Antibiotik Pilihan Demam Tifoid

Ketiga obat tersebut dapat dipertimbangkan bila rumah sakit tidak memiliki antibiogram lokal. Jika ada, antibiogram masing-masing rumah sakit tetap menjadi patokan utama antibiotika pilihan untuk kasus infeksi spesifik.

Demam tifoid masih menjadi salah satu diagnosis tersering pasien rawat inap. Data yang kami kumpulkan di sebuah Rumah Sakit Swasta tipe C di Surabaya, menunjukkan Diagnosis Demam Tifoid menduduki peringkat kedua diagnosis terbanyak rawat inap dengan persentase 7% dari total pasien rawat inap.

Indonesia adalah negara endemik tifoid. Pengetahuan dasar tentang penatalaksanaan demam tifoid perlu dikuasai. Penegakan diagnosis menjadi penting dewasa ini mengingat kita saat ini berada di era Asuransi Kesehatan. Panduan penegakan diagnosis demam tifoid secara sederhana dapat dibaca pada artikel sebelumnya (Diagnosis Demam Tifoid).

Setelah diagnosis demam tifoid ditegakkan, pertanyaan mendasar selanjutnya adalah:

Apa Antibiotik Pilihan Demam Tifoid?

Demam Tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhii. Kuman ini cenderung mudah diberantas dengan hampir semua antibiotik. Bahkan amoxicillin yang sudah banyak ditinggalkan, masih memberikan efikasi yang cukup tinggi. Relapse rate hanya berkisar 4-8 %.

Menurut studi yang dilakukan di RSUD dr. Soetomo oleh Prof. Ni Made Mertaniasih: chloramphenicol, ciprofloxacin dan levofloxacin masih menunjukkan tingkat efikasi 100%. Kami merekomendasikan tiga jenis antibiotik tersebut sebagai antibiotik pilihan Demam Tifoid.

Beberapa ahli merekomendasikan untuk mengutamakan penggunaan obat Chloramphenicol, sebelum obat golongan quinolone (ciprofloxacin dan levofloxacin). Hal ini dikarenakan kekhawatiran untuk terjadi resistensi yang lebih cepat terhadap quinolone bila digunakan secara luas. Laporan kejadian resistensi yang meningkat sudah mulai dilaporkan di India.

Ketiga obat tersebut dapat dipertimbangkan bila rumah sakit tidak memiliki antibiogram lokal. Jika ada, antibiogram masing-masing rumah sakit tetap menjadi patokan utama antibiotika pilihan untuk kasus infeksi spesifik.

Baca Juga: Jangan Percaya Widal Untuk Diagnosis Demam Typhoid